Menu

Otomatis
Breaking News

News

Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

badge-check

Kisah pilu di balik kecelakaan kereta Bekasi Timur. Jurnalis Kompas TV Nur Ainia ditemukan meninggal setelah sempat hilang, sementara keluarga menanti kabar yang tak kunjung datang.(Kompas.com) Perbesar

Kisah pilu di balik kecelakaan kereta Bekasi Timur. Jurnalis Kompas TV Nur Ainia ditemukan meninggal setelah sempat hilang, sementara keluarga menanti kabar yang tak kunjung datang.(Kompas.com)

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Ada yang paling menyakitkan dari sebuah perjalanan pulang: ketika ia tak pernah benar-benar sampai.

Itulah yang kini harus diterima keluarga Nur Ainia Eka Rahmadhynna, jurnalis Kompas TV yang menjadi salah satu korban dalam tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, Senin (27/4/2026).

Sempat dinyatakan hilang, harapan keluarga untuk menemukan Nur Ainia dalam keadaan selamat perlahan runtuh. Kepastian itu datang sehari setelahnya, Selasa (28/4), lewat pengumuman resmi Kompas TV di media sosial.

“Seluruh jajaran direksi dan karyawan KompasTV mengucapkan turut berduka cita atas berpulangnya almarhumah rekan kami dalam musibah kecelakaan KRL Bekasi,” tulis pernyataan tersebut.
“Semoga almarhumah mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan bagi keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.”

Sebelum kabar itu benar-benar menjadi kenyataan, keluarga sudah lebih dulu hidup dalam kecemasan yang menggantung. Adik korban, Luthfi Dwi Fajar Riansyah, menyusuri satu per satu rumah sakit di Bekasi, berharap menemukan kakaknya atau setidaknya, kabar yang pasti.

“Saya dari semalam nyari-nyari nggak ada… yang jelas dia memakai sweater maroon atau pink lalu jins warna biru muda,” ujarnya.

Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan harapan yang besar: semoga ada seseorang yang mengenali.

Luthfi juga bercerita tentang kebiasaan kakaknya kebiasaan kecil yang kini justru terasa sangat berarti. Setiap pulang, Nur Ainia selalu memberi kabar, sekitar 20 menit sebelum tiba di Stasiun Tambun.

“Kakak saya itu kalau pulang selalu ngabarin saya 20 menit sebelum sampai… cuma kemarin nggak ada kabar sama sekali,” katanya, suaranya bergetar.

Dan dari situ, firasat buruk mulai tumbuh.

Yang membuat situasi semakin menggantung, ponsel korban ternyata masih aktif. Ketika dihubungi, nada sambung masih terdengar. Bahkan sempat dilacak.

“Kalau ditelpon itu masih berdering… dan sempat dilacak, posisinya masih di sekitar Bekasi Timur,” tambahnya.

Di titik itu, harapan dan ketakutan berjalan beriringan.

Di sisi lain, aparat kepolisian memastikan jumlah korban dalam kecelakaan ini tidak sedikit. Kabid Dokkes Polda Metro Jaya, Kombes Pol Martinus Ginting, menyebut total korban meninggal dunia mencapai 15 orang.

“Iya, ada 15 korban meninggal dunia,” ujarnya.

Namun, angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya, ada nama-nama yang belum seluruhnya teridentifikasi dan keluarga-keluarga yang masih menunggu kepastian.

Kepala RS Polri Kramat Jati, Brigjen Pol Prima Heru, mengatakan hingga saat ini baru tujuh keluarga yang melapor ke posko antemortem.

“Keluarga yang sudah melaporkan ke posko antemortem sampai saat ini sebanyak tujuh keluarga,” ungkapnya.

Proses identifikasi pun bukan perkara sederhana. Tim harus mencocokkan berbagai data, mulai dari foto gigi hingga dokumen resmi yang memuat sidik jari. Cara-cara yang terdengar teknis itu, pada akhirnya bermuara pada satu hal: memastikan seseorang benar-benar pulang, meski bukan dalam cara yang diharapkan.

Jenazah pertama tiba di RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 03.00 WIB, disusul yang lain beberapa jam kemudian. Proses identifikasi ditargetkan selesai secepatnya.

Tapi bagi keluarga korban, waktu terasa berjalan dengan cara yang berbeda. Lebih lambat, lebih berat, dan lebih sunyi.

Karena pada akhirnya, yang hilang bukan sekadar satu nama dalam daftar korban.
Yang hilang adalah seseorang yang biasa bilang, “aku sudah mau sampai.”

Dan kali ini, kalimat itu tak pernah datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Ada Dugaan Gratifikasi di Balik WTP PALI? Sukma Hidayat Desak KPK Segera Bertindak

19 Agu 2026 - 18:54 WIB

Ada Dugaan Gratifikasi di Balik WTP PALI? Sukma Hidayat Desak KPK Segera Bertindak

Fakta Sidang Cilacap: Letjen Widi Tak Pernah Perintahkan Jual Lahan

19 Agu 2026 - 09:58 WIB

Fakta Sidang Cilacap: Letjen Widi Tak Pernah Perintahkan Jual Lahan

Beda dari Swasta Lain, OT Group Rutin Gelar Upacara Bendera 17 Agustus

18 Agu 2026 - 20:01 WIB

Beda dari Swasta Lain, OT Group Rutin Gelar Upacara Bendera 17 Agustus

Lomba Semarak Kemerdekaan Warnai Mako Paspampres, Prajurit Adu Ketangkasan dan Kekompakan

18 Agu 2026 - 19:46 WIB

Lomba Semarak Kemerdekaan Warnai Mako Paspampres, Prajurit Adu Ketangkasan dan Kekompakan

Sandri Rumanama Buka Suara soal Penanganan Gempa NTT: Polri Disebut Responsif dan Tanggap

18 Agu 2026 - 00:03 WIB

Sandri Rumanama Buka Suara soal Penanganan Gempa NTT: Polri Disebut Responsif dan Tanggap
Trending di News