PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau ada yang masih percaya semua urusan hukum di negeri ini berjalan steril dari praktik “bisa diatur”, kasus yang satu ini mungkin bisa jadi pengingat pahit. Seorang hakim yustisial di Pengadilan Tinggi Makassar berinisial YM justru tersandung perkara yang bikin profesi hakim kembali dipertanyakan: menerima uang miliaran rupiah dengan janji memenangkan perkara kasasi di Mahkamah Agung.
Ujung ceritanya sudah bisa ditebak. Bukan perkara yang dimenangkan, melainkan karier YM yang tamat.
Mahkamah Agung bersama Komisi Yudisial akhirnya menjatuhkan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat kepada YM lewat sidang Majelis Kehormatan Hakim (MKH) yang digelar Senin (25/5/2026).
Ketua Sidang MKH, Yanto, mengatakan YM terbukti melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim dalam kategori pelanggaran berat.
“Terlapor terbukti melanggar Peraturan Bersama MA dan KY Nomor: 02/PB/MA/IX/2012-02/PB/P.KY/09/2012 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim yang diklasifikasikan pada pelanggaran berat. Oleh karena itu, dijatuhkan sanksi berat kepada Terlapor berupa pemberhentian tidak dengan hormat,” ujar Yanto di Gedung Mahkamah Agung, Senin (25/5/2026), sebagaimana dikutip dari laman Komisi Yudisial.
Kasus ini bermula pada Maret 2024. Saat itu, YM bertemu dengan pelapor dan meyakinkan bahwa dirinya bisa membantu memenangkan perkara di tingkat kasasi Mahkamah Agung.
Janji itu ternyata mahal. Pelapor tercatat sampai enam kali mengirimkan uang dengan total mencapai Rp1 miliar. Belum cukup di situ, YM juga disebut meminjam uang Rp90 juta melalui fasilitas pinjaman bank atas namanya.
Masalahnya, setelah uang dikirim dan waktu berjalan, pelapor mulai sadar ada yang janggal. Perkara yang dijanjikan ternyata tak pernah benar-benar diurus.
Yang lebih ironis, uang pinjaman Rp90 juta itu juga tidak dikembalikan.
Merasa ditipu, pelapor akhirnya membawa perkara ini ke berbagai lembaga sekaligus. Laporan dilayangkan ke Pengadilan Tinggi Makassar, Polda Makassar, Badan Pengawasan Mahkamah Agung, hingga Komisi Yudisial.
Kasus YM kembali memperlihatkan bagaimana praktik “jual pengaruh” di dunia peradilan masih jadi godaan yang sulit benar-benar hilang. Di tengah upaya memperbaiki citra lembaga hukum, publik lagi-lagi disuguhi cerita tentang hakim yang justru mempermainkan kepercayaan pencari keadilan.
Dan seperti banyak kasus lain, yang bikin publik geram bukan cuma nominal uangnya, tapi kenyataan bahwa hukum kadang terasa bisa dinegosiasikan oleh orang-orang yang semestinya menjaga marwahnya.







