PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Perceraian memang jarang berakhir manis. Namun dalam beberapa kasus, yang diperebutkan bukan cuma harta atau siapa yang pindah dari rumah. Ada yang lebih rumit: anak. Dan ketika hak asuh anak menjadi taruhan, pertarungan kadang berubah menjadi adu tuduhan yang jauh dari urusan rumah tangga biasa.
Itulah yang kini dialami Mirna Novita, warga Pecatu, Bali.
Di tengah proses perceraian dan sengketa hak asuh anak yang sedang berjalan, Mirna mengaku menjadi sasaran berbagai tuduhan serius. Mulai dari dituding keluar dari agama Islam, dianggap tidak layak mengasuh anak, hingga disebut menggunakan narkotika jenis jamur dan kecubung.
Karena merasa nama baiknya dirugikan, Mirna kini mendapat pendampingan dari Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Indonesia.
Ketua Nasional TRC PPA Indonesia, Jeny Claudya Lumowa atau yang akrab disapa Bunda Naumi, mengatakan pihaknya menerima laporan terkait dugaan pencemaran nama baik yang dialami Mirna selama proses perceraian berlangsung.
Menurut TRC PPA, tuduhan tersebut dilayangkan oleh mantan suami Mirna, Muhamad Teguh Prabowo. Isinya tidak main-main. Selain menyangkut keyakinan agama, tuduhan juga menyasar pola pengasuhan anak hingga dugaan penyalahgunaan narkotika.
Mirna membantah seluruh tuduhan itu.
Kepada tim pendamping, ia menjelaskan bahwa tuduhan soal dirinya keluar dari Islam bermula dari aktivitas yang dilakukan saat mengunjungi Tirta Empul di Bali. Menurut Mirna, kunjungan tersebut merupakan bagian dari wisata budaya yang umum dilakukan masyarakat maupun wisatawan yang datang ke Bali.
Ia juga membantah tuduhan menggunakan narkotika. Menurut pihak pendamping, hingga saat ini tidak ada bukti hukum yang dapat membenarkan tuduhan tersebut.
Persoalannya, dalam sengketa hak asuh anak, tuduhan-tuduhan seperti ini bukan sekadar persoalan reputasi. Dampaknya bisa menjalar ke ruang sidang dan memengaruhi cara publik maupun pihak tertentu memandang kapasitas seseorang sebagai orang tua.
TRC PPA menilai situasi inilah yang sedang dihadapi Mirna.
“Kami sangat terharu dan sedih melihat perjuangan Ibu Mirna Novita. Ia adalah gambaran ibu sejati yang meski disakiti, difitnah habis-habisan, namanya dinodai, dan kehormatannya diinjak-injak, ia tetap bertahan hanya demi satu hal: anak-anaknya. Ia rela menanggung semua rasa sakit ini asalkan ia masih bisa mendekap, menjaga, dan membesarkan buah hatinya di pangkuannya sendiri. Ini adalah kasih ibu yang tulus, yang tidak pernah menghitung rasa sakit yang ia terima,” ungkap Jeny dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (4/6/2026).
Menurut Jeny, tuduhan yang diarahkan kepada Mirna tidak hanya berdampak pada dirinya sebagai seorang ibu, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi psikologis anak-anak yang berada di tengah konflik kedua orang tuanya.
“Tidak ada rasa sakit yang lebih besar bagi seorang ibu selain dipisahkan dari anaknya, apalagi dipisahkan dengan cara yang kotor dan penuh kebohongan. Ibu Mirna berjuang bukan untuk dirinya sendiri, ia berjuang agar anak-anaknya tumbuh merasakan kasih sayang ibunya, agar masa depan anak-anaknya tidak dirusak oleh kebohongan orang dewasa. Ketegaran hatinya patut diapresiasi dan dibela oleh kita semua,” tambahnya.
Sebagai bentuk pendampingan, TRC PPA Indonesia mengaku telah menyampaikan aduan resmi kepada Polda Bali. Tujuannya, agar dugaan fitnah yang dilaporkan dapat diproses dan diuji melalui mekanisme hukum yang berlaku.
Pada akhirnya, perkara ini bukan hanya tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sebuah perceraian. Ada anak-anak yang tumbuh di tengah konflik, ada nama baik yang dipertaruhkan, dan ada tuduhan-tuduhan yang pada waktunya harus dibuktikan melalui fakta, bukan sekadar narasi.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Muhamad Teguh Prabowo terkait dugaan fitnah yang disampaikan Mirna Novita maupun tim pendampingnya.







