Menu

Mode Gelap
Workshop Kreatif GMKB Bekasi: Cara Anak Muda Lepas dari Jeratan “Gagap Zaman” Dua Anak Menteri Jadi Tenaga Ahli, dan Publik Kembali Bertanya soal Meritokrasi KPK Angkut Porsche, Harley hingga Ducati dari Rumah Silmy Karim, Penggeledahan 5 Jam Berbuah Sitaan Kendaraan Mewah Eks Terpidana Kasus Pemerkosaan Kembali Aktif, Kompol RC Duduki Jabatan Baru di Polda Jambi Kejagung Soroti Motor Listrik Rp1,03 Triliun di Program MBG, Vendor Diduga Tak Punya Bengkel Aktif Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Siap Bongkar Nama-Nama Besar di Kasus SPPG

News

Workshop Kreatif GMKB Bekasi: Cara Anak Muda Lepas dari Jeratan “Gagap Zaman”

badge-check


					Workshop bertajuk Perbesar

Workshop bertajuk "The Art of Becoming: Berani Menjadi Apa Saja".

PRABAINSIGHT.COM – Jadi pemuda di era bonus demografi itu gampang-gampang susah. Kalau nggak punya skill adaptasi, ya cuma bakal jadi penonton di rumah sendiri.

Sadar akan tantangan itu, Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Muda Kota Bekasi (DPP GMKB) akhirnya turun gunung menggelar workshop bertajuk “The Art of Becoming: Berani Menjadi Apa Saja” di Cafe Cengkir Gading, Pondok Melati, Sabtu (6/6/2026).

Alih-alih cuma kasih teori membosankan, GMKB membawa “amunisi” nyata: aktor senior David Saragih dan konten kreator Papa Zidan. Tujuannya satu: bikin anak muda Bekasi berhenti bimbang dan mulai “menjadi”.

Ketua Umum DPP GMKB, Nicolous Yuliano Ridwan, dengan nada berapi-api bilang bahwa langkah ini adalah bentuk tanggung jawab moral organisasi. Baginya, anak muda Bekasi nggak boleh cuma jadi pelengkap penderita.

”Kami di GMKB memikul beban moral yang besar untuk melakukan pengembangan potensi anak-anak muda, khususnya di Kota Bekasi. Kami bertanggung jawab memastikan bahwa pemuda Bekasi tidak gagap menghadapi perubahan zaman, melainkan menjadi lokomotif penggerak di garis depan,” ujar Nicolous di hadapan para peserta workshop.

Menurutnya, tema “The Art of Becoming” sengaja dipilih, supaya anak muda berani keluar dari zona nyaman. Nggak perlu takut mencoba hal baru di luar pakem profesi konvensional yang sering dianggap “aman” padahal bikin mati gaya.

Bukan Sekadar Seremonial.

Nico juga menegaskan, kalau GMKB nggak main-main soal ekosistem kreatif. Mereka sadar bahwa pekerja seni sering kali dianaktirikan dalam kebijakan daerah, padahal merekalah yang bikin sebuah kota punya nyawa dan karakter.

”GMKB juga konsen terhadap pekerja seni. Kami melihat bahwa seni, budaya, dan industri kreatif adalah pilar penting dalam membangun karakter sebuah kota. Pekerja seni adalah aset bangsa yang harus diapresiasi, dilindungi, dan diberi panggung yang layak,” tegas Nico.

Dalam workshop itu, David Saragih memberikan “daging” soal bagaimana bertahan di dunia seni peran dengan mentalitas baja. Sementara Papa Zidan, dengan gaya khasnya, membedah bagaimana konten digital bukan cuma soal viewers, tapi soal strategi adaptasi.

Acara yang berakhir hangat dengan sesi tanya jawab ini bukan sekadar event dadakan. GMKB berkomitmen menjadikan pelatihan berbasis minat-bakat ini sebagai agenda berkala. Tujuannya jelas: supaya pemuda Bekasi nggak cuma jago kandang, tapi punya taji di kancah kreatif nasional, atau bahkan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dua Anak Menteri Jadi Tenaga Ahli, dan Publik Kembali Bertanya soal Meritokrasi

6 Juni 2026 - 18:18

KPK Angkut Porsche, Harley hingga Ducati dari Rumah Silmy Karim, Penggeledahan 5 Jam Berbuah Sitaan Kendaraan Mewah

5 Juni 2026 - 21:41

Eks Terpidana Kasus Pemerkosaan Kembali Aktif, Kompol RC Duduki Jabatan Baru di Polda Jambi

5 Juni 2026 - 20:43

Kejagung Soroti Motor Listrik Rp1,03 Triliun di Program MBG, Vendor Diduga Tak Punya Bengkel Aktif

5 Juni 2026 - 20:32

Sony Sonjaya Ajukan Justice Collaborator, Klaim Siap Bongkar Nama-Nama Besar di Kasus SPPG

5 Juni 2026 - 19:00

Trending di Nasional