PRABAINSIGHT.COM – TANGERANG – Ada satu pemandangan yang cukup menarik di Kantor Pemerintah Kabupaten Tangerang, Kamis (18/6/2026). Sekelompok perempuan muda dari Bhavani Indonesia datang membawa setumpuk gagasan. Mereka tak datang untuk sekadar foto-foto, unggah Instagram Story, lalu pulang. Mereka datang dengan misi yang lebih serius: membicarakan masa depan perempuan dan anak di Kabupaten Tangerang.
Audiensi perdana dengan Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah itu berlangsung hangat. Namun, di balik suasana santai, ada sederet persoalan yang dibahas, mulai dari kekerasan terhadap perempuan, stunting, hingga kemandirian ekonomi keluarga.
Intan membuka diskusi dengan pesan yang cukup tegas. Menurutnya, tidak ada ruang bagi normalisasi kekerasan, baik verbal maupun fisik.
Komitmen itu bukan sekadar jargon. Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyiapkan safe house rahasia bagi korban kekerasan dan membentuk Trauma Healing Center pertama di Provinsi Banten bekerja sama dengan HIMPSI dan APPI.
Di titik ini, obrolan antara pemerintah daerah dan Bhavani Indonesia menemukan frekuensi yang sama. Sebab, salah satu fokus gerakan Bhavani memang berada pada penyediaan ruang aman bagi perempuan melalui program Bhavani Connect serta advokasi perlindungan perempuan berbasis riset dan data.
Namun persoalan perempuan, rupanya, tidak berhenti pada urusan perlindungan.
Bagi Intan, perempuan yang berdaya juga harus memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi. Karena itu, Pemkab Tangerang terus mendorong berbagai pelatihan keterampilan, mulai dari menjahit, tata boga, hingga tata busana yang dibarengi dengan bantuan modal usaha.
Logikanya sederhana. Ketika perempuan memiliki penghasilan, ketahanan keluarga ikut menguat. Ketika keluarga kuat, berbagai persoalan sosial menjadi lebih mudah dihadapi.
Bhavani Indonesia tampaknya sepakat dengan gagasan itu. Organisasi yang digerakkan anak-anak muda tersebut juga membawa sejumlah program kewirausahaan perempuan yang ditujukan untuk mencetak agen perubahan langsung dari lingkup keluarga.
Tak hanya membahas ekonomi, pertemuan itu juga menyinggung persoalan yang sering membuat banyak kepala daerah mengernyitkan dahi: stunting.
Intan menjelaskan, Pemkab Tangerang terus menjalankan intervensi gizi melalui kader Dapur Dahsyat yang menyasar ibu hamil berisiko selama 120 hari dan balita selama 90 hari.
Sementara di sekolah, pemerintah daerah mendorong penerapan Kurikulum Keputrian yang tidak hanya mengajarkan soal karakter, tetapi juga kemampuan perlindungan diri bagi remaja perempuan.
Program itu terasa nyambung dengan Vanbucha Goes to School, program unggulan Bhavani Indonesia yang fokus membangun karakter, kepemimpinan, dan kesadaran gender di lingkungan sekolah.
Ada pula kabar yang kemungkinan disambut banyak pasangan di Kabupaten Tangerang. Intan mengungkapkan bahwa Pemkab akan menggelar Isbat Nikah Gratis bagi 1.000 pasangan mulai Juli hingga September 2026. Program tersebut diharapkan mampu memberikan kepastian hukum bagi pasangan yang menikah siri sekaligus melindungi hak perempuan dan anak.
Di hadapan Wakil Bupati, Bhavani Indonesia juga mempresentasikan portofolio program 2025–2026. Mulai dari Bhavani Bloom Festival hingga riset mengenai femisida yang dirancang untuk mendorong perubahan kebijakan berbasis data.
Gagasan-gagasan itu mendapat apresiasi dari Intan. Ia menegaskan pemerintah daerah selalu terbuka terhadap gerakan perempuan yang ingin ikut terlibat membangun masyarakat.
Sambutan tersebut disambut positif oleh Chairwoman Bhavani Indonesia, Iik Nurul Fatimah.
“Bhavani tidak hadir untuk memperkenalkan program terpisah, melainkan untuk mengakselerasi dan memperkuat agenda yang sudah ada di daerah. Kami siap membangun kolaborasi sinergitas yang menerjemahkan agenda pemberdayaan perempuan di daerah,” ujar Iik Nurul Fatimah, S.Pd., M.Si.
Pada akhirnya, audiensi ini mungkin belum langsung mengubah dunia. Namun setidaknya, ia menjadi pertanda bahwa urusan perempuan dan anak tidak lagi dibicarakan di ruang-ruang seminar saja. Ada peluang nyata bagi pemerintah dan kelompok masyarakat untuk berjalan beriringan.
Karena perempuan yang berdaya tidak lahir dari slogan. Mereka tumbuh dari ruang aman, kesempatan yang setara, dan keberanian untuk terus bergerak.







