PRABAINSIGHT.COM – BALI – Kasus dugaan pencurian ayam yang berakhir dengan tewasnya seorang terduga pelaku akibat diamuk massa di Banjar Juwuk Legi, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, terus memantik perhatian publik. Bukan hanya karena proses hukumnya, tetapi juga karena kisah dua keluarga yang sama-sama menghadapi kenyataan pahit dengan cara yang berbeda.
Di satu sisi, keluarga terduga pelaku mendapat simpati luas setelah video anaknya menangis viral di media sosial. Di sisi lain, keluarga pemilik ayam justru harus menjalani hari-hari yang semakin berat setelah suami dan anaknya ditahan sebagai tersangka dalam kasus pengeroyokan.
Donasi Mengalir ke Keluarga Terduga Pelaku
Perhatian publik terhadap keluarga KD, terduga pelaku pencurian ayam yang meninggal dunia, terus berdatangan. Bantuan disebut mengalir dari berbagai kalangan, mulai dari kreator konten, pengguna media sosial, hingga tokoh publik.
Salah satu yang datang langsung menyampaikan belasungkawa adalah Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Kedatangan saya ke sini untuk ikut berduka cita atas apa yang dialami keluarga korban yang meninggal secara tragis diamuk massa gara-gara ketahuan mencuri ayam,” ujar Dedi Mulyadi.
Menurut informasi yang beredar, total donasi yang diterima keluarga disebut telah melampaui Rp200 juta. Bantuan tersebut dikabarkan digunakan untuk melunasi utang keluarga sekaligus membantu kebutuhan anak yang ditinggalkan.
Pengakuan Istri Tersangka: Terduga Pelaku Sempat Mengancam
Di tengah ramainya simpati kepada keluarga terduga pelaku, muncul pula pengakuan dari Yuni Astini (24), istri salah satu tersangka pengeroyokan.
Yuni mengungkapkan bahwa saat kepergok, KD diduga sempat mengancam akan membunuh iparnya sehingga situasi semakin memanas.
“Malingnya yang menantang ipar saya mau membvnvh ipar saya terus dia telepon suami saya untuk minta bantuan di Desa Pakraman terus dibantu sama warga-warga banjar semua disuarakan kentungan atau kulkul bulus.”
Menurut pengakuannya, bunyi kulkul bulus atau kentongan darurat menjadi penanda agar warga berkumpul menghadapi situasi yang dianggap membahayakan.
Enam Belas Kali Kehilangan Ayam dalam Dua Bulan
Di balik kasus yang kini menjadi sorotan nasional itu, tersimpan cerita lain yang tak kalah memilukan.
Ibu pemilik ayam mengaku telah berulang kali kehilangan ternaknya. Saat ditanya jumlah ayam yang hilang, ia menjawab singkat dengan suara lirih.
“Enam belas… dua bulan.”
Artinya, dalam kurun waktu sekitar dua bulan, sebanyak 16 ekor ayam miliknya dilaporkan hilang.
Ayam-ayam tersebut bukan sekadar hewan peliharaan. Bagi keluarga itu, ternak merupakan sumber penghasilan utama. Demi menjaga sisa ternaknya, sang ibu bahkan mengaku pernah bermalam di area kebun karena khawatir ayam kembali dicuri.
Kini Harus Bertahan Seorang Diri
Peristiwa tragis itu membawa konsekuensi hukum bagi sejumlah warga. Polisi menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus pengeroyokan, termasuk suami dan anak dari pemilik ayam.
Kini, sang ibu harus mengurus kandang sekaligus menjalani aktivitas sehari-hari seorang diri. Di saat sumber penghasilannya terus berkurang akibat kehilangan ternak, dua anggota keluarganya justru harus menjalani proses hukum.
Kasus ini memperlihatkan dua kenyataan yang sama-sama menyisakan luka. Di satu sisi, keluarga terduga pelaku mendapat simpati luas dan bantuan dari masyarakat setelah kehilangan anggota keluarga. Di sisi lain, keluarga korban pencurian juga menghadapi beban berat akibat kehilangan mata pencaharian sekaligus ditinggal suami dan anak yang kini menjalani proses hukum.
Perkara ini masih bergulir sesuai mekanisme hukum yang berlaku. Dugaan tindak pidana pencurian maupun dugaan pengeroyokan hingga menyebabkan hilangnya nyawa merupakan dua persoalan yang memiliki konsekuensi hukum masing-masing dan akan diproses sesuai ketentuan yang berlaku.










