PRABAINSIGHT.COM – KOLOM ANGKER Sampai sekarang… setiap kali dengar suara motor ojol berhenti di depan rumah tengah malam, bulu kuduk gue langsung berdiri.
Karena malam itu, yang datang bukan cuma abang pengantar sate.
Ada sesuatu yang ikut pulang bersamanya.
Jam menunjukkan 01.15 WIB.
Hujan baru saja reda. Jalanan di komplek masih basah, lampu-lampu taman berkedip redup, dan angin dingin membawa aroma tanah bercampur bunga kamboja yang entah datang dari mana.
Perut gue keroncongan. Isi kulkas kosong.
Tanpa pikir panjang gue buka aplikasi ojol, lalu memesan sate taichan.
Driver yang menerima order bernama Mas B.
Normal.
Sampai notifikasi terakhir masuk.
“Mbak, nanti tunggu di luar pagar ya. Saya nggak berani klakson.”
Gue cuma ketawa kecil.
“Sopan amat abang ini.”
Gue pun keluar rumah.
Komplek benar-benar sepi.
Saking sepinya, suara gesekan daun yang tertiup angin terdengar seperti bisikan orang.
Lima menit kemudian…
Lampu motor muncul dari ujung jalan.
Namun sejak pertama kali melihatnya, ada sesuatu yang membuat dada gue terasa sesak.
Motor itu melaju pelan…
terlalu pelan…
seolah sedang membawa beban yang sangat berat.
Saat berhenti di depan pagar…
Mas B tidak mematikan mesin.
Tidak membuka helm.
Tidak turun dari motor.
Tangannya yang memegang bungkusan sate…
bergetar hebat.
Bukan gemetar karena dingin.
Tapi seperti seseorang yang sedang menahan rasa takut luar biasa.
Mesin motor terus meraung pelan.
“Ngggrrrrrr…”
Seolah siap kabur kapan saja.
“Gimana sih, Mas? Sini aja deketan… tangan saya nggak nyampe.”
Dia tidak menjawab.
Hanya menggeleng keras.
Lalu…
perlahan…
dia mengangkat tangan kirinya.
Bukan menunjuk ke gue.
Melainkan…
ke arah atas rumah gue.
Tatapannya mengikuti jari itu.
Matanya membelalak dari balik visor helm yang gelap.
Seolah sedang melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
“Mas…?”
Tak ada jawaban.
Tiba-tiba…
BRUK!
Bungkusan sate dilempar masuk ke halaman.
Kuahnya muncrat ke lantai.
Belum sempat gue protes…
Motor itu langsung meraung.
BRAAAAKKK!!
Mas B menarik gas sekuat tenaga.
Ban belakang motornya sampai selip di jalan yang masih basah.
Dalam hitungan detik…
dia menghilang ditelan gelapnya malam.
“Gila…”
gumam gue.
“Gara-gara males turun motor aja sampai segitunya.”
Gue mengambil sate itu.
Masuk ke rumah.
Mengunci pintu.
Mematikan lampu ruang tamu.
Lalu menaiki tangga menuju kamar di lantai dua.
Semuanya masih terasa biasa.
Sampai…
HP gue bergetar.
Nomor tak dikenal.
Begitu diangkat…
yang terdengar hanya suara napas seseorang yang nyaris putus.
“M… Mbak…”
Suara Mas B.
Panik.
Gemetar.
Seperti habis berlari dari sesuatu.
“Mbak… jangan masuk kamar…”
“…tolong… jangan buka pintunya…”
Jantung gue mulai berdetak lebih cepat.
“Lho kenapa, Mas?”
Suara di seberang sana terdengar semakin kecil.
“…Tadi… waktu saya masuk komplek…”
“…motor saya tiba-tiba berat…”
“…berat banget…”
“…kayak ada orang duduk di belakang.”
Gue menelan ludah.
Mas B melanjutkan…
dengan suara yang hampir menangis.
“Saya pikir penumpang iseng, Mbak…”
“Tapi pas saya lihat spion…”
“…yang duduk di belakang saya…”
“…bukan manusia.”
Dunia seperti berhenti berputar.
“Kepalanya nunduk…”
“Rambutnya panjang sampai nyeret aspal…”
“Wajahnya pucat…”
“Matanya…”
“…hitam semua.”
“Bau badannya anyir.”
“Kayak darah yang udah lama.”
“Campur bunga kamboja.”
Napas gue mulai memburu.
Mas B hampir berteriak.
“Pas saya berhenti depan rumah Mbak…”
“Dia turun.”
“Tapi…”
“…turunnya bukan jalan.”
“…dia MERANGKAK.”
Suara Mas B pecah.
“Saya lihat dari spion…”
“Dia nempel di pagar…”
“Terus…”
“…manjat tembok.”
“Cepet banget…”
“Kayak cicak.”
DEG!
Tubuh gue langsung membeku.
Karena saat itu juga…
gue teringat.
Pintu balkon kamar gue memang belum gue tutup.
Mas B kembali berteriak.
“Saya nunjuk ke atas tadi, Mbak!”
“Dia lagi jongkok di pagar balkon!”
“Dia lagi LIATIN MBAK!”
Klik.
Telepon mati.
Dan untuk pertama kalinya…
gue sadar.
Rumah gue…
terlalu sunyi.
Tidak ada suara TV.
Tidak ada suara AC.
Tidak ada suara jangkrik.
Hanya…
keheningan.
Lalu…
dari balik pintu kamar gue…
terdengar suara…
SREEEKKK…
Seperti sesuatu yang menyeret tubuhnya di lantai.
Pelan.
Basah.
Berat.
SREEEKKK…
SREEEKKK…
Semakin dekat.
Lalu…
suara itu berhenti…
tepat…
di balik pintu.
Gue bahkan bisa mendengar…
suara napas.
Bukan napas manusia.
Panjang.
Serak.
Basah.
Seolah paru-parunya dipenuhi air.
Tok…
Tok…
Tok…
Bukan mengetuk.
Tapi…
seperti…
kuku panjang yang menggores kayu.
Gue mundur perlahan.
Lutut gue lemas.
Air mata mulai keluar.
Tangan gue gemetar.
Lalu…
gagang pintu…
bergerak.
Perlahan.
KREEEKKK…
Padahal…
pintu kamar itu terkunci dari dalam.
Gue nggak nunggu sedetik pun.
Langsung lari turun tangga sambil teriak manggil orang tua.
Kami buru-buru keluar rumah.
Masuk mobil.
Nggak peduli masih pakai baju tidur.
Malam itu kami memilih bertahan di parkiran Indomaret sampai menjelang Subuh.
Baru setelah azan berkumandang…
kami berani pulang.
Sampai sekarang…
gue masih sering kepikiran satu hal.
Kalau malam itu…
Mas B memilih diam…
Kalau dia nggak nekat nelepon…
Kalau dia nggak menunjuk ke arah balkon…
Mungkin…
yang dibawa pulang malam itu…
bukan cuma sate taichan.
Tapi juga…
sesuatu yang sedang menunggu gue membuka pintu kamar.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











