PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada kebiasaan kecil yang sering dilakukan orang setelah menyikat gigi: melihat busa pasta gigi berwarna sedikit merah, lalu berpikir, ah, paling gusinya lagi sensitif.
Setelah itu selesai. Besok kejadian lagi, dianggap biasa. Lusa berdarah lagi, tetap dianggap biasa.
Padahal, gusi berdarah bukan kondisi yang sebaiknya terus-menerus dinormalisasi.
Masalah gusi memang bermula di mulut. Namun, penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan adanya hubungan antara penyakit gusi dengan sejumlah penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
Bukan berarti setiap orang yang gusinya berdarah otomatis sedang mengidap penyakit jantung atau diabetes. Hubungan tersebut masih terus diteliti para ilmuwan.
Yang jelas, peradangan kronis di mulut ternyata tidak selalu berhenti di mulut.
Pendiri sekaligus Kepala Dokter Gigi Dr Jaydev Dental, Dr Jaydev, menjelaskan bahwa gusi memiliki hubungan langsung dengan sistem tubuh melalui aliran darah.
“Gusi Anda bukanlah bagian terpisah dari bagian tubuh Anda yang lain. Saat gusi terinfeksi secara kronis, infeksi tersebut memiliki jalan langsung ke aliran darah Anda,” kata Dr Jaydev.
Mulut Bukan Wilayah yang Berdiri Sendiri
Mulut bisa dibilang salah satu pintu masuk tubuh. Ketika kondisi gusi sudah mengalami penyakit periodontal yang lebih berat, jaringan di sekitar gigi dapat mengalami peradangan dan muncul luka-luka kecil.
Luka tersebut memungkinkan bakteri maupun produk racunnya masuk ke dalam aliran darah.
Aktivitas yang sebenarnya sangat biasa makan dan menyikat gigi dapat membuat bakteri dari rongga mulut masuk ke sirkulasi, terutama ketika jaringan gusi sedang mengalami peradangan.
“Mulut bukanlah kompartemen tertutup, ia terbuka langsung ke aliran darah. Setiap kali pasien tersebut mengunyah atau menyikat gigi, bakteri dan racun bakteri mendapat jalan bebas masuk ke dalam sirkulasi,” katanya.
Tubuh kemudian memberikan respons terhadap kondisi tersebut melalui sistem kekebalan.
Sejumlah protein yang berkaitan dengan proses peradangan, seperti C-reactive protein (CRP) dan interleukin-6 (IL-6), dapat meningkat ketika tubuh mengalami peradangan.
Dalam jangka panjang, peradangan kronis diketahui berkaitan dengan gangguan pada pembuluh darah dan proses pembentukan plak di arteri.
Para peneliti bahkan menemukan bakteri yang berasal dari rongga mulut pada plak arteri dalam sejumlah penelitian.
Namun, temuan tersebut bukan berarti penyakit gusi secara otomatis menjadi penyebab langsung serangan jantung atau stroke.
Hubungannya lebih rumit dari sekadar “gusi berdarah lalu besok kena serangan jantung”.
Gusi dan Jantung: Ada Hubungan, Bukan Ramalan
Penyakit gusi dan penyakit kardiovaskular memiliki sejumlah faktor risiko yang bisa saling beririsan. Karena itu, para peneliti masih mempelajari seberapa besar peradangan akibat penyakit gusi berkontribusi terhadap risiko penyakit jantung dan stroke.
Jadi, jangan pula setelah membaca artikel ini kemudian panik setiap kali melihat sedikit darah di wastafel.
Yang lebih penting adalah memahami bahwa gusi berdarah berulang bukan sesuatu yang seharusnya dianggap normal.
Sebab, gusi yang sehat pada umumnya tidak berdarah hanya karena aktivitas menyikat gigi atau membersihkan sela-sela gigi.
Diabetes Bisa Membuat Masalah Gusi Makin Rumit
Kalau urusan gusi dan jantung saja sudah cukup kompleks, hubungan dengan diabetes juga tidak kalah menarik.
Peradangan akibat penyakit gusi dapat berkaitan dengan meningkatnya resistensi insulin sehingga pengendalian kadar gula darah menjadi lebih sulit.
Di sisi lain, kadar gula darah yang tinggi dapat mengganggu kemampuan tubuh melawan infeksi sekaligus memperlambat proses penyembuhan.
Akibatnya, penyakit gusi bisa semakin berat.
Dr Jaydev menggambarkannya sebagai lingkaran yang saling memperburuk.
“Ini menjadi lingkaran setan. Peradangan memperburuk resistensi insulin dan membuat gula darah lebih sulit dikendalikan, gula darah tinggi pada gilirannya mengganggu kekebalan dan penyembuhan, sehingga penyakit gusi menjadi lebih agresif. Masing-masing kondisi saling memperburuk,” kata Dr Jaydev.
Dengan kata lain, ketika seseorang memiliki diabetes yang tidak terkontrol, urusan kesehatan gusi sebaiknya tidak ditempatkan di daftar “nanti saja kalau sempat”.
Gusi Berdarah Sering Kalah Perhatian
Masalah lain dari penyakit gusi adalah sifatnya yang sering diam-diam.
Kerusakan gigi terkadang membuat orang buru-buru mencari dokter karena sakitnya bisa membuat hidup mendadak terasa seperti ujian kesabaran.
Penyakit gusi berbeda.
Pada tahap awal, penyakit ini bisa tidak menimbulkan rasa sakit yang berarti. Akibatnya, seseorang bisa mengalami masalah gusi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tanpa menyadarinya.
“Tanda yang paling sering diabaikan adalah pendarahan saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi,” kata Dr Jaydev.
Ia bahkan memberikan perbandingan sederhana.
“Gusi yang sehat tidak berdarah. Jika tangan Anda terdapat darah tiap kali membersihkannya, Anda akan segera menemui dokter, tetapi gusi berdarah sering kali diabaikan selama bertahun-tahun,” tambahnya.
Ada beberapa tanda yang patut diperhatikan, antara lain:
- Bau mulut yang berlangsung terus-menerus.
- Gusi terlihat merah.
- Gusi mengalami pembengkakan.
- Muncul rasa tidak enak di mulut.
- Gusi terlihat semakin menjauh atau turun dari gigi.
- Makanan berulang kali tersangkut di sela gigi yang sama.
- Gusi mudah berdarah ketika menyikat gigi atau membersihkan sela gigi.
Kalau beberapa tanda tersebut muncul berulang, memeriksakan diri ke dokter gigi lebih masuk akal daripada sekadar mengganti merek pasta gigi dan berharap masalahnya selesai sendiri.
Siapa yang Perlu Lebih Waspada?
Tidak semua orang memiliki risiko yang sama terhadap penyakit gusi.
Beberapa kelompok disebut memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah gusi yang serius, termasuk orang dengan diabetes yang tidak terkontrol, perokok, orang dengan penyakit kardiovaskular, ibu hamil, serta mereka yang mengonsumsi obat tertentu yang menyebabkan mulut kering.
Kondisi mulut kering sendiri dapat membuat lingkungan rongga mulut berubah dan meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan mulut.
Namun, sekali lagi, memiliki faktor risiko bukan berarti seseorang pasti mengalami penyakit gusi berat.
Itu artinya kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Merawat Gusi Bukan Pengganti Obat Jantung
Ada satu hal yang juga perlu digarisbawahi.
Menangani penyakit gusi bukan berarti seseorang bisa menghentikan pengobatan penyakit jantung, diabetes, atau kondisi medis lainnya.
Dr Jaydev menekankan bahwa perawatan gusi tidak menggantikan penanganan penyakit kardiovaskular.
Namun, menjaga kesehatan mulut dan mengurangi peradangan di dalam rongga mulut dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara keseluruhan.
Karena itu, menjaga gusi sebenarnya tidak membutuhkan ritual yang terlalu rumit.
Sikat gigi secara rutin dan dengan teknik yang benar, bersihkan sela gigi menggunakan benang gigi atau alat pembersih interdental, lakukan pemeriksaan gigi secara berkala, dan hindari produk tembakau.
Pembersihan profesional atau scaling juga dapat dilakukan untuk membantu menghilangkan karang gigi yang tidak bisa dibersihkan hanya dengan sikat gigi.
Pada akhirnya, gusi berdarah mungkin memang terlihat seperti masalah kecil.
Tetapi kalau darah muncul setiap kali sikat gigi, mungkin sudah waktunya berhenti mengatakan, “Ah, paling gusinya sensitif.”
Sebab tubuh terkadang tidak mengirim notifikasi berupa bunyi alarm.
Kadang cukup lewat setetes darah di wastafel.











