Menu

Mode Gelap
Hari Purwanto Desak Aparat Usut Dugaan Fitnah terhadap Megawati, Minta Diselesaikan Lewat Jalur Hukum Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut

News

Angka Pengangguran Jabar Tembus 6,74%, FKLPID Sebut Ada 26 Juta Angkatan Kerja

badge-check

Ketua FKLPID Jabar, Benny Tunggul Perbesar

Ketua FKLPID Jabar, Benny Tunggul

PRABAINSIGHT.COM – Menjadi pengangguran di Jawa Barat itu, rasanya seperti ikut ujian CPNS tanpa belajar: penuh ketidakpastian dan bikin elus dada. Bayangkan saja, berdasarkan data ketenagakerjaan, jumlah angkatan kerja di provinsi ini melimpah ruah sampai menyentuh angka 26,8 juta orang.

Sialnya, lapangan kerja baru tumbuhnya lambat mirip siput, sementara jutaan pencari kerja sudah siap tempur di pasar kerja. Walhasil, angka Pengangguran Terbuka (TPT) di Jabar masih bertengger di angka ceria 6,74 persen.

Fakta pahit inilah yang membuat Forum Komunikasi Lembaga Pelatihan dan Industri Daerah (FKLPID) Jawa Barat memutar otak. Isu ini jelas mendesak, sebab kalau dibiarkan, jutaan anak muda Jabar cuma bakal berakhir jadi penonton di daerahnya sendiri.

Ketua FKLPID Jawa Barat, Benny Tunggul, mengakui kalau urusan menyerap tenaga kerja sekarang ini tantangannya luar biasa berat. Pertumbuhan jumlah pencari kerja melesat cepat, sedangkan lowongan kerja baru iritnya minta ampun.

“Oleh karena itu, pada fase penguatan ekosistem dan keberlanjutan di tahun 2026 ini, kami fokus pada inkubasi wirausaha muda, program magang industri berkelanjutan, hingga pelatihan teknologi digital seperti coding dan data analytics,” jelas Benny saat ditemui di kantornya, Rabu (10/6/2026).

Kalau melihat peta jalan (roadmap) program mereka, FKLPID ini sebenarnya sudah lewat masa meraba-raba masalah. Tahun 2024 lalu, mereka sibuk konsolidasi dan memetakan masalah. Tahun 2025 kemarin, mereka mulai gaspol ke fase implementasi lewat program link and match, sertifikasi kompetensi BNSP, sampai urusan digital job matching.

Nah, masuk tahun 2026 ini, arahnya agak digeser ke yang lebih kekinian: ekonomi hijau (green economy) dan sirkular. Harapannya, dari urusan ramah lingkungan ini, bakal muncul lapak-lapak kerja baru yang bisa menghidupi banyak orang.

Untuk menyokong misi suci tersebut, FKLPID Jabar mengandalkan 5 pilar utama yang dirancang biar para pencari kerja nggak zonk pas masuk industri:

• Link & Match Industri: Biar kurikulum SMK atau BLK sinkron sama kebutuhan pabrik dan APINDO. Nggak ada lagi cerita lulusan sekolah kebingungan pas pegang mesin di pabrik.

• Pelatihan Berbasis Industri: Mulai dari urusan otomotif, welding (pengelasan), CNC, elektronika, konveksi, sampai robotik.

• Penempatan Kerja Langsung: Lewat jalur cepat MoU dan job matching.

• Pemberdayaan UMKM & Wirausaha Baru: Biar nggak semua orang rebutan jadi buruh pabrik.

• Kolaborasi Kemenaker & Dunia Industri: Kerja bareng biar kebijakannya nggak jalan sendiri-sendiri.

Salah satu program unik yang sudah jalan dan langsung menyentuh aspal jalanan adalah servis gratis buat para driver ojek online (ojol). Ini bukan sekadar aksi sosial, tapi jadi ajang praktik langsung buat para peserta pelatihan otomotif. Sekali dayung, dua tiga driver ojol terbantu, dan mekanik muda dapat ilmu.

Benny pun memamerkan hasil dari kerja keroyokan ini yang pelan-pelan mulai kelihatan hilalnya.

“Melalui kolaborasi multipihak ini, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Barat berhasil mengalami penurunan sebesar 0,17 persen dari posisi 6,91 persen pada Februari 2024 menjadi 6,74 persen pada Februari 2025,” ungkapnya dengan nada penuh optimisme.

Tapi ya namanya hidup, tantangan nggak bakal kelar begitu saja. Benny blak-blakan bilang kalau hantaman digitalisasi dan otomatisasi ke depan berpotensi menendang tenaga kerja yang cuma punya keahlian cekak.

Belum lagi urusan jomplangnya kualitas pelatihan antar-daerah dan susahnya modal buat pelaku UMKM yang masih jadi PR besar.

Lewat jargon “Bersinergi, Berkarya, Berkelanjutan”, FKLPID Jabar cuma bisa berharap pemerintah, akademisi, dan bos-bos industri bisa satu saf. Biar tenaga kerja lokal Jabar nggak cuma unggul di kandang, tapi punya daya saing tinggi saat diadu di pasar global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya

16 Juli 2026 - 03:12

Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

15 Juli 2026 - 11:17

Buntut Sidang Tipikor, Kadis SDABMBK Kabupaten Bekasi Dilaporkan ke KPK

14 Juli 2026 - 19:23

Kuasa Hukum Nancy Soroti Kesaksian Dwi Febri di Sidang Sengketa Aset PN Jaksel, Siap Tempuh Jalur Hukum jika Terbukti Palsu

14 Juli 2026 - 16:48

Dugaan Mega Korupsi di Kejaksaan Jadi Ujian Penegakan Hukum, BEM PTMA Zona III Apresiasi Sikap Prabowo

12 Juli 2026 - 09:17

Trending di Nasional