Menu

Mode Gelap
Blak-blakan! Sandri Rumanama Soroti Kesenjangan Maluku di Halal Bihalal Pemuda Timur Garuda Menggila di GBK! Indonesia Hajar Saint Kitts 4-0, Beckham Putra Jadi Bintang Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

News

Inilah Sejarah Hari Ibu: Bukan Cuma Soal Bunga, tapi Perlawanan

badge-check


					Inilah sejarah Hari Ibu Nasional 22 Desember yang berawal dari Kongres Perempuan 1928. Bukan sekadar bunga, tapi kisah perjuangan perempuan Indonesia.(Foto:Istimewa) Perbesar

Inilah sejarah Hari Ibu Nasional 22 Desember yang berawal dari Kongres Perempuan 1928. Bukan sekadar bunga, tapi kisah perjuangan perempuan Indonesia.(Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT – JAKARTA – Setiap 22 Desember, linimasa media sosial biasanya dipenuhi ucapan manis untuk ibu. Ada yang unggah foto, ada yang kirim puisi, ada juga yang sekadar copas template. Tidak salah, tentu saja. Tapi kalau Hari Ibu cuma berhenti di situ, sejarah panjang di baliknya bisa ikut terlewat.

Padahal, Hari Ibu Nasional di Indonesia bukan lahir dari katalog toko bunga. Ia lahir dari ruang perdebatan, rapat panjang, dan semangat perlawanan perempuan yang sejak awal sadar: kemerdekaan bangsa tak mungkin tercapai kalau setengah penduduknya terus disisihkan.

Hari Ibu dan Kongres Perempuan 1928

Awal mula Hari Ibu Nasional bisa ditarik ke Desember 1928. Beberapa pekan setelah para pemuda berikrar lewat Sumpah Pemuda, para perempuan Indonesia juga menggelar konsolidasi. Mereka berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung pada 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta.

Sekitar 30 organisasi perempuan hadir. Ada yang berbasis agama, ada yang berbasis kedaerahan. Tapi satu hal menyatukan mereka: kesadaran bahwa perempuan punya hak bicara atas masa depan bangsa.

Yang dibahas pun jauh dari urusan domestik. Tidak ada demo masak atau lomba merangkai bunga. Topiknya serius: pendidikan anak perempuan, kesehatan ibu dan anak, penolakan perkawinan anak, hingga perdagangan perempuan. Isu-isu yang, kalau dipikir-pikir, masih relevan sampai sekarang.

Dari kongres inilah muncul kesadaran kolektif bahwa perjuangan perempuan tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Harus terorganisir, terhubung, dan punya tujuan bersama: Indonesia merdeka dan perempuan setara.

Dari Kongres ke Hari Nasional

Sepuluh tahun berselang, dalam Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung pada 1938, tanggal 22 Desember hari dimulainya kongres pertama disepakati sebagai Hari Ibu. Tujuannya sederhana tapi penting: menjaga api persatuan perempuan agar tidak padam.

Pengakuan negara baru datang pada 1959. Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959. Bukan hari libur, tapi hari refleksi.

Soekarno tampaknya ingin bangsa ini ingat bahwa “ibu” bukan hanya sosok di rumah, tapi juga simbol perjuangan. Ada ibu yang mendidik, ada yang berorganisasi, ada yang berdiplomasi, bahkan ada yang ikut mengangkat senjata.

Hari Ibu Bukan Mother’s Day

Di sinilah sering terjadi salah paham. Hari Ibu Nasional kerap disamakan dengan Mother’s Day ala Barat. Padahal keduanya beda niat sejak lahir.

Mother’s Day umumnya tentang relasi personal: anak dan ibu. Hari Ibu Nasional Indonesia justru tentang relasi sosial dan politik: perempuan dan bangsa. Kalau Mother’s Day menekankan kasih sayang, Hari Ibu menekankan kesadaran.

Makanya, peringatan Hari Ibu di Indonesia sering diisi dengan upacara, pembacaan sejarah, hingga diskusi tentang peran perempuan. Pesannya jelas: perempuan bukan objek pembangunan, tapi subjek yang ikut menentukan arah.

Hari Ibu Hari Ini: Masih Relevan atau Sekadar Seremonial?

Masuk usia ke-97 pada 2025, Hari Ibu Nasional mengusung tema “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045.” Tema yang terdengar ambisius, tapi masuk akal.

Soalnya, bicara Indonesia Emas tanpa memberdayakan perempuan itu seperti mau berlayar tapi separuh dayungnya dibuang. Perempuan masih menghadapi banyak persoalan: ketimpangan ekonomi, kekerasan berbasis gender, beban ganda, sampai akses politik yang belum merata.

Hari Ibu seharusnya jadi pengingat tahunan bahwa perjuangan perempuan belum selesai. Bukan cuma soal menghormati ibu satu hari dalam setahun, tapi soal memastikan perempuan punya ruang aman, setara, dan adil setiap hari.

Lebih dari Sekadar Ucapan

Pada akhirnya, menghormati Hari Ibu tidak cukup dengan ucapan “terima kasih, Bu”. Yang lebih penting adalah melanjutkan semangat para perempuan 1928: berani bersuara, berani menuntut keadilan, dan berani membayangkan masa depan yang lebih setara.

Karena dari sanalah Hari Ibu lahir. Bukan dari kartu ucapan, tapi dari keberanian. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Blak-blakan! Sandri Rumanama Soroti Kesenjangan Maluku di Halal Bihalal Pemuda Timur

28 Maret 2026 - 19:54 WIB

Gaduh Tahanan Yaqut, KPK Minta Maaf: Asep Sebut Kekecewaan Publik Adalah Dukungan

27 Maret 2026 - 12:11 WIB

RI Cari Sumber Minyak Baru di Tengah Krisis Hormuz, Bahlil: Jangan Tanya dari Mana

27 Maret 2026 - 09:05 WIB

Abdullah Kelrey Tantang KPK, Desak Pemeriksaan Puan Maharani dan Hapsoro

27 Maret 2026 - 08:09 WIB

Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026 - 08:20 WIB

Trending di News