Menu

Mode Gelap
Mantan Kasat Narkoba Bima Bongkar Dugaan Permintaan Alphard dan Rp 1 M ke Bandar Utang Kereta Cepat 97 Tahun, Warisan Ambisi yang Dibayar Generasi Mendatang Rakernas HAI dan Bintang Mahaputera: Isyarat Kepercayaan Presiden pada Kapolri Eksekusi Lahan di Pulogebang Diprotes Keras, Warga Ungkap Dugaan Mafia Tanah Sandri Rumanama Menilai Peran Polri dalam Program Gizi Layak Diganjar Bintang Mahaputra Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret

News

Jejak Angka di Laporan Pelindo: Gaji dan Bonus Arman Depari Rp3,2 Miliar

badge-check


					Laporan Tahunan Pelindo Multi Terminal 2024 mengungkap remunerasi Komisaris Arman Depari yang mencapai Rp3,2 miliar per tahun, termasuk gaji, tunjangan, bonus, dan fasilitas purna jabatan. Perbesar

Laporan Tahunan Pelindo Multi Terminal 2024 mengungkap remunerasi Komisaris Arman Depari yang mencapai Rp3,2 miliar per tahun, termasuk gaji, tunjangan, bonus, dan fasilitas purna jabatan.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Akhirnya, gosip yang selama ini cuma hidup di obrolan warkop dan linimasa WhatsApp menemukan wujud resminya. Bukan lewat bocoran anonim, tapi dari dokumen paling sahih yang bisa dibayangkan: Laporan Tahunan PT Pelindo Multi Terminal (SPMT) 2024.

Di situ tertulis rapi satu nama yang bikin publik mengusap dahi: Arman Depari, Komisaris SPMT sekaligus purnawirawan Polri. Total remunerasi yang ia terima dalam satu tahun mencapai Rp3.210.503.129. Ya, tiga koma dua miliar rupiah. Legal. Tercatat. Tanpa perlu kode-kode.

Bagi publik, angka ini bukan sekadar besar. Ia semacam pengingat bahwa di negeri ini, masa pensiun tak selalu berarti menurunkan standar hidup asal tahu kursi mana yang diduduki.

Gaji Cuma Pemanasan, Bonusnya yang Bikin Kaget

Kalau Anda mengira gaji pokok adalah sumber utama kekayaan komisaris BUMN, data ini siap menampar pelan tapi terasa.

Gaji pokok Arman Depari tercatat Rp96,7 juta per bulan. Angka yang, sendirian saja, sudah cukup membuat UMR Jakarta merasa kecil hati. Ditambah tunjangan bulanan sekitar Rp19,3 juta, total pemasukan rutin per bulan menjadi Rp116 juta lebih.

Namun semua itu hanyalah pembuka. Hidangan utamanya justru datang dari pos yang namanya terdengar manis: tantiem.

Tantiem Rp1,4 Miliar dan Pertanyaan yang Ikut Membesar

Bonus kinerja yang diterima Arman Depari mencapai Rp1.429.475.129 hampir setengah dari total pendapatan tahunannya. Di sinilah publik mulai mengernyitkan dahi sambil bertanya pelan: kontribusi seperti apa yang membuat angka ini terasa pantas?

Pelindo Multi Terminal adalah perusahaan logistik pelabuhan. Urusannya bongkar muat, terminal, efisiensi rantai pasok. Sementara latar belakang Arman Depari dikenal publik dari dunia reserse narkotika bidang yang, sejauh logika awam bekerja, tak terlalu sering bersinggungan dengan crane kontainer.

Bukan soal meremehkan pengalaman aparat. Tapi wajar jika muncul pertanyaan: apa ukuran kinerja komisaris non-eksekutif hingga bonusnya bisa menyaingi direksi operasional?

THR, Asuransi, dan Pensiun yang Sudah Terlalu Aman

Belum selesai di situ. Ada THR setara satu kali gaji, sekitar Rp96,7 juta. Lalu ada pos yang paling bikin terdiam sejenak: asuransi purna jabatan senilai Rp290 juta.

Ini semacam lapisan pengaman ekstra bagi mereka yang, sejatinya, sudah aman secara finansial sejak lama. Kalau pensiun aparat negara biasanya identik dengan hidup sederhana, versi BUMN tampaknya menawarkan paket berbeda: pensiun, tapi premium.

Meritokrasi yang Terlihat Aneh dari Jauh

Data ini membuka kembali diskusi lama tentang wajah ganda BUMN. Di satu sisi, perusahaan diminta efisien, ramping, dan kompetitif. Di sisi lain, kursi komisaris tetap empuk, sering kali diisi figur-figur hasil penunjukan yang sulit dilacak korelasinya dengan bisnis inti.

Rp3,2 miliar per tahun untuk jabatan pengawasan non-eksekutif tentu sah secara aturan. Tapi sah belum tentu terasa adil. Terutama jika dibandingkan dengan beban kerja lapangan, risiko buruh pelabuhan, dan tuntutan efisiensi yang terus digaungkan ke bawah.

Jika remunerasi adalah cermin kompetensi dan tanggung jawab, publik punya hak penuh untuk bertanya: apakah pengawasan itu benar-benar senilai miliaran rupiah?

Atau jangan-jangan, ini hanya cara negara memastikan para penjaga stabilitas masa lalu tetap nyaman di masa depan tentu saja, dengan mekanisme yang sepenuhnya legal.

Angkanya sudah terbuka. Sekarang giliran nurani pengelola negara yang diuji.


Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Eksekusi Lahan di Pulogebang Diprotes Keras, Warga Ungkap Dugaan Mafia Tanah

14 Februari 2026 - 06:30 WIB

Sandri Rumanama Menilai Peran Polri dalam Program Gizi Layak Diganjar Bintang Mahaputra

13 Februari 2026 - 08:48 WIB

Bersih-bersih Seragam: 34 Personel Polri Di-PTDH, Nama Konten Kreator Ikut Terseret

10 Februari 2026 - 09:41 WIB

KAUP Gelar PentaSeni 2026 di Kampus Pancasila, Jadi Momen Perpisahan Kepengurusan Dasco

9 Februari 2026 - 17:48 WIB

Rakernas Perdana Haidar Alwi Institute di Tengah Dinamika Politik Nasional

9 Februari 2026 - 17:38 WIB

Trending di News