KOLOM ANGKER – Aku tidak yakin kapan semuanya dimulai.
Mungkin sejak aku merasa terlalu mengantuk.*
Aku mengantuk.
Bukan mengantuk biasa.
Ini seperti ada yang menarik kesadaranku ke bawah, perlahan tapi pasti, seolah kepalaku bukan lagi milikku.
Jalanan gelap. Lampu mobil bergetar.
Virgo sudah kalah kepalanya jatuh ke dada. Tidurnya terlalu cepat. Terlalu dalam.
“Asri… kita berhenti sebentar,” ucapku.
Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
Mobil berhenti.
Dan saat itulah aku melihatnya.
Gapura.
Aku yakin, benda itu tidak ada beberapa detik lalu.
Dua tembok tinggi, gelap, berdiri seperti sesuatu yang sedang menunggu giliran makan.
“Asri?”
Aku menoleh ke belakang.
“Istirahat aja di sini, Mas.”
Nada suaranya… terlalu pas.
Seperti jawaban yang sudah disiapkan.
Jam tanganku menunjukkan 01.00.
Aku menutup mata.
Aku terbangun.
Langit berwarna jingga.
Bukan jingga matahari. Lebih seperti cahaya dari api yang jauh, yang tidak membakar tapi membuat segalanya terlihat salah.
Aku langsung tahu ada yang keliru.
Waktu terasa… bergeser.
Seperti lantai yang turun satu tingkat tanpa terasa.
“Syukurlah, sudah bangun.”
Jantungku melonjak.
Asri berdiri di samping jendela. Aku tidak mendengar langkah kakinya.
“Jam berapa?”
Aku bertanya bukan karena ingin tahu—tapi karena takut.
“Jam sepuluh, Mas.”
Otakku menolak angka itu.
Aku mencoba mengingat kapan terakhir kali aku tidur selama sembilan jam.
Aku tidak bisa.
Virgo bangun. Kami jalan lagi.
Dan saat mobil bergerak, aku merasa sesuatu ikut bergerak bersama kami.
Kami melewati gapura itu.
Begitu roda mobil melintasinya, aku merasa tekanan di dada berubah.
Seperti masuk ke ruangan tertutup.
“Asri… ini kota kamu?”
“Iya.”
Jawabannya cepat.
Terlalu cepat.
Pepohonan rapat. Jalanan terlalu mulus.
Langit tidak berubah, tidak bergerak, tidak berniat berganti.
Aku merasa kami tidak sedang maju.
Kami sedang… ditarik.
“Belok kanan,” katanya.
Saat kota itu muncul, aku merinding bukan karena takut
tapi karena aku merasa kota itu sudah mengenalku.
Bangunan putih berjajar rapat.
Indah. Kuno. Terlalu rapi.
Seperti panggung yang sudah lama tidak dipakai manusia.
Tidak ada orang.
Aku ulangi di kepalaku:
tidak ada orang.
Jam tanganku: 15.00.
“Vir… jam lo berapa?”
“Jam tiga.”
Aku menelan ludah.
Waktu melompat. Aku tidak.
Aku melirik Asri lewat spion.
Dia tersenyum.
Matanya berbinar… bukan karena bahagia.
Seperti seseorang yang akhirnya sampai di tempat yang benar.
Aku mulai melihat mereka.
Di balik jendela.
Siluet bergerak.
Bolak-balik. Bolak-balik.
Tidak pernah keluar.
Aku ingin bertanya, tapi ada sesuatu di tenggorokanku yang menahan kata-kata.
Seperti jika aku bertanya terlalu banyak, aku tidak akan diizinkan pulang.
Rumah Asri di ujung kota.
Aku tidak suka ujung.
Ujung selalu berarti tidak ada jalan lain.
Di dalam rumah… ruangannya menyusut.
Aku yakin ukurannya berubah setelah aku masuk.
Ayahnya duduk di ujung sofa.
Kami bersalaman.
Tangannya dingin.
Bukan dingin manusia.
Dingin… seperti batu nisan.
Aku menarik tanganku terlalu cepat.
Dia tersenyum. Tidak tersinggung.
Seorang anak perempuan berdiri di pintu belakang.
Tersenyum.
Tidak berkedip.
Aku mulai menghitung napasku.
Satu… dua…
Asri diam.
Semua diam.
Ayahnya menunjuk meja.
Piring kosong.
Gelas kosong.
Aku merasa kami sedang diuji.
Dan aku tidak tahu apa pertanyaannya.
Virgo berbisik, suaranya pecah.
“Fer… jam…”
Jam tanganku: 18.30.
Aku tidak ingat matahari terbenam.
Aku menoleh ke luar.
Malam.
Lampu taman menyala satu per satu.
Dan mereka muncul.
Awalnya aku pikir itu orang.
Lalu aku sadar…
orang tidak melayang.
Ada yang tidak punya kaki.
Ada yang tidak punya kepala.
Aku merasa mual.
“Fer…”
“Ayok pergi.”
Kami berdiri.
“Terima kasih, Mas,” suara Asri terdengar di belakangku.
Aku tidak menoleh.
Aku tidak berani.
Ayahnya berdiri.
Dan saat kepalanya berputar—
aku merasakan sesuatu di dalam kepalaku patah.
Kami lari.
Aku tidak sadar kapan kakiku bergerak.
Tubuhku mengambil alih.
Di mobil, aku melihat mereka di kaca.
Menempel.
Menatap.
Tidak mengetuk.
Seolah tahu… kami bisa mendengar mereka tanpa suara.
Asri berdiri di ujung jalan.
Melambaikan tangan.
Aku tahu, kalau aku berhenti…
aku tidak akan keluar.
Gelap.
Aku terbangun.
Gapura.
Jam: 01.30.
Asri tidak ada.
“Dia bukan orang,” kataku.
Tapi bahkan saat mobil menjauh,
aku masih merasa…
dia duduk di belakang.
Dan aku tidak berani menoleh.
Editor : Irfan Ardhiyanto
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











