PRABAINSIGHT.COM – Di dunia kerja luar negeri, kisah TKW biasanya identik dengan drama baik yang bikin mata panas, maupun yang bikin dahi mengkerut. Tapi kali ini, ceritanya lebih mirip dongeng urban ala kelas pekerja: tentang Pipit Sriati, alias Mpok Pipit, perempuan Indonesia yang kariernya melompat jauh… langsung ke rumah Cristiano Ronaldo di Riyadh.
Bukan rumah sembarang rumah, tentu saja. Ini istana modern lantai marmer licin, lampu kinclong, dan tingkat kebersihan yang mungkin bikin debu menyerah sebelum sempat jatuh.
Awal mula, Mpok Pipit sempat minder. Usia sudah hampir kepala lima, beda kultur, beda bahasa, beda planet kurang lebih. Tapi semua rasa ciut itu sirna begitu melihat kontrak kerja. Di situ, angka gaji terlihat jelas dan tegas. Sejenis angka yang bikin lutut bergetar, bukan karena lelah, tapi karena terbayang saldo tabungan.
Konon, bayaran Mpok Pipit menyentuh kisaran Rp93 sampai hampir Rp100 juta per bulan. Satu bulan kerja, nilainya bisa bikin beberapa pejabat daerah terdiam dalam perenungan eksistensial. Pegal linu? Capek? Semua langsung sembuh cukup dengan menatap notifikasi transfer.
Jam kerja dimulai sejak pukul lima pagi. Rumah luas, perabot tertata, marmer berkilau. Di tempat ini, kata “debu” seperti makhluk asing yang tidak diakui kewarganegaraannya. Ronaldo dikenal disiplin bukan tipe yang marah-marah, tapi jelas bukan tipe yang santai melihat noda di sudut meja.
Keluarganya? Katanya, cukup hangat untuk ukuran rumah seorang megabintang. Georgina Rodríguez tampil anggun dan detail, sementara anak-anak Ronaldo tumbuh dengan sopan santun yang rapi kalimat “terima kasih” sudah jadi kebiasaan, bukan formalitas.
Namun, pekerjaan di rumah CR7 bukan sekadar urusan pel lantai dan lap meja. Ada aturan tak kasatmata yang nilainya justru setinggi langit:
tidak boleh foto-foto, tidak boleh bocorkan isi rumah, tidak boleh cari konten demi engagement.
Singkatnya: kerja profesional, bukan jadi influencer properti.
Makanya, jangan berharap ada Instastory bertuliskan, “Lagi ngepel kamar Bang Dodo.” Yang ada hanya sunyi, etika kerja, dan gaji besar yang masuk tepat waktu.
Di kampung halaman, hidup Mpok Pipit berubah pelan-pelan tanpa drama, tanpa sorotan sensasi. Rumah impian berdiri, sawah terbeli, tabungan hari tua jadi nyata. Dari buruh domestik, kini ia tumbuh jadi simbol pelan tapi jelas: kerja keras bisa membungkam rasa minder.
Dan ya, Mpok Pipit punya mantra favorit.
Kalau capek menyapu lantai marmer yang luas, ia cukup melihat layar ponsel, memastikan angka gaji masih di sana. Sesudah itu, sapu langsung terasa lebih ringan daripada kapas.
Rezeki memang misterius. Kadang, tangan yang dulu memeras cucian, pada akhirnya dipercaya merawat rumah manusia dengan jumlah pengikut terbanyak di muka bumi.
Editor : Irfan Ardhiyanto











