Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

Internasional

Qatar Tegaskan AS Tak Berhak Mengatur Kawasan Teluk Meski Miliki Pangkalan Militer

badge-check

Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk. Perbesar

Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk.

PRABAINSIGHT.COM – Kalau urusan geopolitik biasanya dipenuhi istilah rumit dan kalimat berlapis diplomasi, Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh bin Jassim al-Thani, justru memilih jalan yang lebih membumi: analogi kos-kosan. Ya, kos-kosan. Bukan peta strategi perang.

Lewat pernyataannya soal Pangkalan Udara Al Udeid markas militer Amerika Serikat yang nangkring di wilayah Qatar Sheikh bin Jassim menegaskan satu hal sederhana: numpang itu ya tahu diri. Keberadaan militer AS di Qatar, kata dia, sama saja seperti penyewa apartemen. Punya kamar, boleh. Tapi jangan sampai merasa berhak ngatur satu gedung.

Amerika Serikat, menurut Doha, tidak otomatis punya kuasa menentukan arah politik dan keamanan kawasan Teluk hanya karena pesawat tempurnya parkir rapi di Al Udeid. Pangkalan itu milik Qatar. AS cuma kontraktor tetap, bukan pemilik sah yang bisa pasang plang “wilayah kekuasaan”.

Sindiran Sheikh bin Jassim tak berhenti di situ. Ia juga mengingatkan Washington agar tak bersikap seolah-olah sedang beramal besar kepada Qatar. Soalnya, kalau bicara untung-rugi, keberadaan pangkalan militer itu justru jauh lebih menguntungkan Amerika Serikat.

“Semua orang tahu pangkalan itu lebih penting bagi Amerika ketimbang bagi kami,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan. Halus? Tidak juga. Tapi jujur.

Bahkan, Sheikh bin Jassim menyebut, jika suatu hari Qatar memilih menutup atau membongkar pangkalan militer Amerika tersebut, Doha tidak akan terlalu kelabakan. Sebaliknya, Washington-lah yang bakal megap-megap. Bagi kepentingan strategis AS di Timur Tengah, kehilangan Al Udeid ibarat kehilangan satu tangan masih hidup, tapi pincang.

Di bagian paling pedas, ia menyinggung kebiasaan Amerika Serikat yang rajin memberi cap “teroris” ke sana-sini, sambil diam-diam tetap menggantungkan stabilitas militernya pada negara-negara yang mereka kritik. Kontradiktif, tapi nyata.

Singkatnya, pesan Qatar jelas: silakan numpang, silakan kerja sama. Tapi jangan kebablasan merasa jadi bos. Di Timur Tengah, jadi penyewa tetap bukan berarti otomatis naik jabatan jadi penguasa.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Juni 2026 - 18:44

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Edoardo Agnelli: Pewaris Juventus yang Masuk Islam, Dicoret dari Keluarga, lalu Tewas Misterius

26 Mei 2026 - 20:24

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Trending di Internasional