Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

Internasional

Qatar Tegaskan AS Tak Berhak Mengatur Kawasan Teluk Meski Miliki Pangkalan Militer

badge-check

Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk. Perbesar

Menteri Luar Negeri Qatar menegaskan keberadaan Pangkalan Udara Al Udeid tidak memberi Amerika Serikat hak mengendalikan keputusan politik dan keamanan kawasan Teluk.

PRABAINSIGHT.COM – Kalau urusan geopolitik biasanya dipenuhi istilah rumit dan kalimat berlapis diplomasi, Menteri Luar Negeri Qatar, Sheikh bin Jassim al-Thani, justru memilih jalan yang lebih membumi: analogi kos-kosan. Ya, kos-kosan. Bukan peta strategi perang.

Lewat pernyataannya soal Pangkalan Udara Al Udeid markas militer Amerika Serikat yang nangkring di wilayah Qatar Sheikh bin Jassim menegaskan satu hal sederhana: numpang itu ya tahu diri. Keberadaan militer AS di Qatar, kata dia, sama saja seperti penyewa apartemen. Punya kamar, boleh. Tapi jangan sampai merasa berhak ngatur satu gedung.

Amerika Serikat, menurut Doha, tidak otomatis punya kuasa menentukan arah politik dan keamanan kawasan Teluk hanya karena pesawat tempurnya parkir rapi di Al Udeid. Pangkalan itu milik Qatar. AS cuma kontraktor tetap, bukan pemilik sah yang bisa pasang plang “wilayah kekuasaan”.

Sindiran Sheikh bin Jassim tak berhenti di situ. Ia juga mengingatkan Washington agar tak bersikap seolah-olah sedang beramal besar kepada Qatar. Soalnya, kalau bicara untung-rugi, keberadaan pangkalan militer itu justru jauh lebih menguntungkan Amerika Serikat.

“Semua orang tahu pangkalan itu lebih penting bagi Amerika ketimbang bagi kami,” kira-kira begitu pesan yang ingin disampaikan. Halus? Tidak juga. Tapi jujur.

Bahkan, Sheikh bin Jassim menyebut, jika suatu hari Qatar memilih menutup atau membongkar pangkalan militer Amerika tersebut, Doha tidak akan terlalu kelabakan. Sebaliknya, Washington-lah yang bakal megap-megap. Bagi kepentingan strategis AS di Timur Tengah, kehilangan Al Udeid ibarat kehilangan satu tangan masih hidup, tapi pincang.

Di bagian paling pedas, ia menyinggung kebiasaan Amerika Serikat yang rajin memberi cap “teroris” ke sana-sini, sambil diam-diam tetap menggantungkan stabilitas militernya pada negara-negara yang mereka kritik. Kontradiktif, tapi nyata.

Singkatnya, pesan Qatar jelas: silakan numpang, silakan kerja sama. Tapi jangan kebablasan merasa jadi bos. Di Timur Tengah, jadi penyewa tetap bukan berarti otomatis naik jabatan jadi penguasa.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

10 Agustus 2026 - 09:59

Gianni Infantino Dilaporkan Hadapi Tudingan “Suap” Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia FIFA

30 Juli 2026 - 16:12

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

20 Juli 2026 - 20:13

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Juni 2026 - 18:44

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Trending di Internasional