Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

Crime

Mantan Kasat Narkoba Bima Bongkar Dugaan Permintaan Alphard dan Rp 1 M ke Bandar

badge-check

Mantan Kasat Narkoba Bima mengungkap dugaan permintaan mobil Alphard dan uang Rp 1 miliar dalam kasus peredaran narkoba. Ini pengakuannya. Perbesar

Mantan Kasat Narkoba Bima mengungkap dugaan permintaan mobil Alphard dan uang Rp 1 miliar dalam kasus peredaran narkoba. Ini pengakuannya.

PRABAINSIGHT.COM – BIMA – Di negeri yang katanya sedang serius perang melawan narkoba, kadang yang bikin pusing bukan barang haramnya, tapi ceritanya. Kali ini datang dari Bima Kota, lengkap dengan tokoh polisi, bandar narkoba, rekening pihak ketiga, dan tentu saja mobil Alphard.

AKP Malaungi, mantan Kasatresnarkoba Polres Bima Kota, mendadak tampil bukan sebagai penindak, melainkan sebagai pencerita. Lewat kuasa hukumnya, ia mengungkap dugaan skenario yang bikin publik bertanya-tanya: sebenarnya siapa mengejar siapa dalam perkara narkoba ini?

Alphard Dulu, Jabatan Belakangan

Menurut versi AKP Malaungi, persoalan bermula dari tekanan yang diduga datang dari atasannya saat itu, Kapolres Bima Kota AKBP Didik Putra Kuncoro. Ia mengaku diminta membelikan sebuah Toyota Alphard senilai sekitar Rp 1,8 miliar. Bukan imbauan halus, tapi disertai ancaman: jabatan bisa dicopot kalau permintaan tidak dipenuhi.

Kalau cerita ini benar, maka Alphard bukan sekadar mobil. Ia naik kelas jadi alat ukur loyalitas birokrasi.

Ketika Kasat Mengobrol dengan Bandar

Karena tak sanggup menanggung beban finansial sebesar itu, AKP Malaungi mengaku mengambil jalan yang kalau dibaca ulang terdengar seperti adegan film kriminal kelas B. Ia disebut menjalin komunikasi dengan Koko Erwin, sosok yang diduga sebagai bandar narkoba.

Dalam komunikasi itu, Koko Erwin diklaim bersedia memberikan uang agar aktivitas peredaran narkoba yang dilakukannya tidak ditindak. Logikanya sederhana, meski pahit: kalau ditekan dari atas, cari penopang dari bawah.

Duit Datang Bertahap, Masalah Datang Sekaligus

Angka pun disepakati. Totalnya Rp 1,8 miliar. Tapi seperti kebanyakan janji, realisasinya tidak penuh. Koko Erwin disebut baru mampu menyerahkan Rp 1 miliar sebagai uang muka.

Uniknya, uang itu tidak langsung diserahkan tunai. Pembayaran dilakukan bertahap lewat transfer ke rekening pihak ketiga atas nama Dewi Purnamasari. Skemanya rapi: Rp 200 juta dulu, lalu disusul Rp 800 juta.

Kalau ini sinetron, mungkin judul episodenya: Ketika Transfer Lebih Lancar dari Penegakan Hukum.

Tak Heran Barang Haram Jalan Terus

Cerita ini, benar atau tidak, menjelaskan satu hal yang selama ini jadi pertanyaan warga Bima–Dompu: kenapa narkoba terasa begitu betah beredar?

Saat aparat saling tarik-menarik kepentingan, yang diuntungkan bukan masyarakat. Yang menang justru barang haram, yang terus melenggang tanpa rasa takut.

Publik tentu berhak menunggu pembuktian hukum. Semua pihak tetap harus dianggap tak bersalah sebelum ada putusan pengadilan. Tapi satu hal sulit dibantah: kisah ini terlalu serius untuk dianggap gosip, dan terlalu absurd untuk dianggap biasa.

Di tengah jargon “perang narkoba”, publik kini disuguhi cerita perang lain perang jabatan, uang, dan mobil mewah. Dan seperti biasa, rakyat cuma bisa geleng-geleng kepala sambil bertanya: ini negara sedang membersihkan narkoba, atau narkoba sedang membersihkan negara?

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja

7 Agustus 2026 - 20:39

Bau Busuk yang Dikira Bangkai Hewan Ternyata Jenazah Pria Tanpa Kepala, Warga Depok Syok Bukan Main

4 Agustus 2026 - 22:43

Lapor Hilang ke Polisi Disebut “Sudah Dewasa”, Feni Ere Akhirnya Ditemukan Tinggal Tulang Belulang

31 Juli 2026 - 18:05

Pilot Malaysia Airlines Jadi Tersangka, Bawa 25,1 Kg Ekstasi dan Sabu ke Soekarno-Hatta

31 Juli 2026 - 15:23

16 Kali Kemalingan Ayam, Kini Suami dan Anak Pemilik Ditahan Usai Kasus Maling Tewas di Tabanan

30 Juli 2026 - 16:04

Trending di Crime