Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Opini

Menatap Kuartal Akhir 2025, Industri Perhotelan Berada di Persimpangan

badge-check


					E.S. Hartono

General Manager, Hotel Maxone Kramat – Jakarta (Foto:Istimewa) Perbesar

E.S. Hartono General Manager, Hotel Maxone Kramat – Jakarta (Foto:Istimewa)

Di tulis Oleh: E.S. Hartono

General Manager, Hotel Maxone Kramat – Jakarta

PRABA INSIGHT – Sebagai seseorang yang berada langsung di lini depan operasional hotel, saya merasakan sendiri bagaimana industri perhotelan Indonesia memasuki kuartal akhir 2025 dengan perasaan campur aduk: ada harapan besar di satu sisi, namun juga kecemasan yang tidak dapat diabaikan. Dalam setahun terakhir, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak signifikan pada sektor perjalanan dinas dan penyelenggaraan kegiatan kementerian—dua segmen yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung pendapatan hotel berbintang.

PHRI melalui berbagai pernyataannya sudah menyampaikan bahwa pemangkasan belanja tersebut berpotensi menekan pendapatan hotel dalam jumlah besar. Saya sendiri, saat melihat reservasi yang biasanya sudah penuh, kini harus mencari secangkir kopi lebih banyak dari biasanya untuk memikirkan strategi baru. Di lapangan juga saya melihat bagaimana banyak hotel kini harus mengambil keputusan sulit: menata ulang anggaran, menyesuaikan strategi penjualan, hingga merumuskan cara-cara kreatif untuk menjaga kesehatan arus kas.

Fenomena ini bukan hanya dirasakan di kota-kota besar. Rekan-rekan di berbagai daerah melaporkan hal serupa: okupansi melemah sejak akhir 2024, kegiatan MICE menurun drastis, dan beberapa ballroom yang biasanya padat acara kini dibiarkan kosong. Yang paling terasa adalah dampaknya bagi UMKM lokal yang selama ini menjadi mitra industri, para penyedia dekorasi, katering, transportasi, hingga vendor acara yang turut kehilangan aktivitas.

Namun, sebagai pelaku di industri ini, saya juga melihat secercah optimisme yang selalu berulang: momentum liburan Natal dan Tahun Baru. Setiap akhir tahun, periode ini sering kali menjadi penyelamat. Wisatawan domestik tak kehilangan minat untuk berlibur, meski mereka kini lebih selektif dalam membelanjakan anggaran. Destinasi seperti Bali, Bandung, Yogyakarta, hingga kota-kota tujuan keluarga diperkirakan kembali ramai. Banyak hotel, termasuk kami, mulai menyiapkan program liburan yang lebih tematik, promosi F&B yang lebih menarik, dan pengalaman menginap yang lebih personal.

Selain itu, laporan dari Colliers dan JLL menunjukkan bahwa minat investasi terhadap sektor perhotelan tetap kuat. Investor, baik lokal maupun asing, masih melihat Indonesia sebagai pasar yang menjanjikan dalam jangka panjang, terutama pada segmen menengah ke atas dan hotel bermerek internasional. Bagi kami yang berada di industri, ini menjadi sinyal bahwa fundamental sektor perhotelan tetap solid.

Meskipun begitu, saya percaya industri ini sudah berada pada titik yang menuntut perubahan besar. Ketergantungan berlebihan pada segmen pemerintah jelas tidak dapat lagi dijadikan strategi utama. Hotel harus lebih agresif memasuki pasar leisure, wedding, komunitas, bahkan private gathering yang terbukti lebih stabil. Di sisi lain, transformasi digital adalah keharusan. Tamu kini merencanakan perjalanan dari layar ponsel mereka, dan reputasi online sering kali menjadi faktor penentu dalam keputusan menginap.

Tantangan biaya operasional juga mendorong kami untuk berinovasi, mulai dari efisiensi energi, otomatisasi proses, penggunaan teknologi manajemen, hingga sistem pelayanan yang lebih terintegrasi. Upaya ini tidak hanya menekan biaya, tetapi juga meningkatkan kualitas pengalaman tamu, sebuah aspek yang semakin vital di era kompetisi digital.

Dengan segala dinamika tersebut, saya melihat kuartal IV 2025 sebagai momentum penting untuk mengukur arah masa depan industri perhotelan Indonesia. Tekanan memang nyata, tetapi peluang untuk bangkit juga jelas terbuka. Jika seluruh pelaku industri mampu menyesuaikan strategi, meningkatkan kualitas layanan, dan memperkuat kreativitas di tengah perubahan perilaku pasar, maka industri ini tidak hanya mampu bertahan tetapi juga berkembang lebih kuat dari sebelumnya.

Dan seperti banyak masa sulit yang telah kita lewati, saya percaya satu hal: industri perhotelan Indonesia selalu menemukan cara untuk bangkit. Semoga memasuki tahun 2026, dunia perhotelan dapat kembali mencapai kejayaannya seperti tahun-tahun terbaik yang pernah kita alami lebih kuat, lebih matang, dan lebih siap menghadapi tantangan baru.


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi prabainsight.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Prabowo dan Langkah Awal yang Menentukan Arah Bangsa

4 Desember 2025 - 10:35 WIB

Titik Balik Biru Langit: Lalu Hardian Irfan dan Momentum Kemenangan PKB

27 November 2025 - 10:52 WIB

Anomali Putusan Mahkamah Konstitusi Yang Inkonstitusional

13 November 2025 - 15:21 WIB

Komposisi Komite Reformasi Polri Sudah Proporsional: Seimbang Tak Harus Sama Banyak

9 November 2025 - 07:53 WIB

Haidar Alwi Apresiasi Prestasi Polri Selamatkan 2 Kali Lipat Populasi Nasional dari Bahaya Narkoba

30 Oktober 2025 - 02:59 WIB

Trending di Opini