PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Jakarta, kota yang bisa memaafkan macet, banjir, bahkan trotoar yang tiba-tiba menghilang, akhirnya memutuskan untuk tidak lagi memaafkan satu hal: tiang monorel di Jalan Rasuna Said. Rabu, 14 Januari 2026, ratusan beton yang selama puluhan tahun berdiri tanpa tujuan itu resmi dibongkar. Tidak diresmikan, tidak pula dioperasikan. Langsung ke tahap pamitan.
Selama ini, tiang monorel lebih mirip artefak sejarah daripada proyek infrastruktur. Ia berdiri kokoh seperti monumen nasional versi gagal tanpa penjelasan, tanpa prasasti, tapi selalu ada. Warga Jakarta pun sudah terlalu lelah untuk bertanya: “Ini kapan jadi?” karena jawabannya hampir selalu sama: “Nanti.”
Di tengah debu pembongkaran, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung tampak sumringah. Bukan karena Jakarta tiba-tiba bebas macet, tapi karena satu beban psikologis ibu kota akhirnya disingkirkan. Di tangannya, sepotong besi bekas tiang monorel digenggam erat simbol kecil dari keputusan besar: menyelesaikan yang terlalu lama dibiarkan.
“Hari ini mudah-mudahan menjadi penanda bahwa Jakarta memang sedang menata diri,” ujar Pramono.
Kalimat itu terdengar normatif, tapi setidaknya kali ini diiringi suara beton runtuh, bukan sekadar konferensi pers.
Proyek Mangkrak Paling Setia di Jakarta
Harus diakui, monorel Rasuna Said adalah proyek paling loyal yang pernah dimiliki Jakarta. Ia bertahan melewati pergantian gubernur, perubahan kebijakan, dan berbagai jargon pembangunan. Saat proyek lain tumbang karena anggaran, monorel justru tetap berdiri tanpa fungsi, tanpa manfaat, tanpa rasa bersalah.
Kalau proyek bisa mendapat penghargaan, monorel pantas menyabet gelar Paling Konsisten Tidak Selesai. Ia mengajarkan satu pelajaran penting: di Jakarta, kegagalan tidak selalu dihapus. Kadang hanya dibiarkan sampai semua orang lupa awal ceritanya.
Bongkar Beton, Jangan Bikin Masalah Baru
Membongkar monorel ternyata tidak sesederhana membongkar ingatan buruk. Di balik setiap tiang, ada status aset, potensi sengketa, dan risiko hukum. Inilah sebabnya mengapa para pendahulu Pramono lebih memilih strategi “biarkan saja, toh tidak roboh”.
Pramono memilih jalan berbeda. Sebelum alat berat bekerja, ia lebih dulu berkoordinasi dengan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Secara khusus saya melaporkan kepada KPK supaya tidak ada permasalahan di kemudian hari,” katanya.
Artinya jelas: kali ini pembongkaran dilakukan dengan helm proyek sekaligus rompi antikorupsi.
Bang Yos dan Monorel yang Salah Zaman
Di lokasi pembongkaran, hadir pula Sutiyoso alias Bang Yos, gubernur yang dulu menancapkan tiang monorel pertama dengan mimpi Jakarta melayang di atas kemacetan. Pramono tak memilih menyalahkan. Ia menyebut monorel gagal bukan karena niat buruk, tapi karena kebijakan keburu berganti.
“Bukan Bang Yos tidak mau menyelesaikan,” ujar Pramono.
Dengan begitu, monorel tak lagi diposisikan sebagai dosa individu, melainkan kesalahan zaman. Tiang yang dulu dipancang dengan harapan, kini diruntuhkan dengan kesadaran bahwa tidak semua mimpi cocok dipaksakan.
Murah Meruntuhkan, Mahal Memperbaiki
Angka-angka dalam proyek ini juga menyimpan sindiran tersendiri. Untuk merobohkan 119 tiang monorel selama tiga bulan, Pemprov DKI hanya menghabiskan sekitar Rp254 juta. Murah, bahkan lebih murah dari banyak seminar tentang transportasi masa depan.
Namun untuk menata ulang kawasan Rasuna Said setelah pembongkaran trotoar, drainase, dan wajah jalan anggaran melonjak menjadi Rp102 miliar. Di titik ini, Jakarta seperti mengakui satu hal: kesalahan boleh lama, tapi ongkos memperbaikinya selalu lebih mahal.
Dulu kita bermimpi naik monorel. Sekarang, kita cukup berharap bisa berjalan kaki tanpa tersandung lubang.
Selamat Jalan, Beton yang Terlalu Lama Dibiarkan
Pembongkaran monorel Rasuna Said bukan sekadar urusan infrastruktur. Ini pengakuan jujur bahwa Jakarta pernah salah arah dan akhirnya cukup dewasa untuk mengakuinya.
Kini, tiang-tiang itu pergi. Yang tersisa adalah harapan sederhana: semoga Rp102 miliar tak kembali menjadi monumen baru dari niat baik yang berakhir setengah jalan. Karena Jakarta tidak kekurangan mimpi besar. Yang sering kurang hanya satu: keberanian menyelesaikan.
Dan hari itu, setidaknya, Pramono Anung membuktikan bahwa menyapu masa lalu lebih baik daripada memajangnya sebagai dekorasi kota.
Editor : Irfan Ardhiyanto











