PRABA INSIGHT – JAKARTA – Langit tampaknya sedang tidak bersahabat untuk Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bukan karena cuaca, tapi karena awan mendung yang datang langsung dari dalam tubuh organisasi sendiri.
Semuanya bermula ketika sebuah risalah rapat tertutup yang panasnya bahkan bisa untuk masak mie instan beredar ke publik. Risalah itu mengungkap “mosi tidak percaya” dari jajaran Syuriyah NU terhadap Ketua Umum PBNU, KH. Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
Dan ini bukan sekadar teguran ala-ala:
Ini ultimatum.
Ultimatum beneran.
Versi ‘mundur atau kami yang turunkan’.
Dokumen tersebut ditandatangani langsung oleh Rais Aam PBNU, KH. Miftachul Akhyar, membuat situasinya makin komplet dramatis.
Rapat Tertutup, Suasana Tidak Tertutup
Rapat yang digelar Kamis (20/11/2025) di Hotel Aston City Jakarta itu dihadiri 37 dari 53 pengurus Syuriyah jumlah yang cukup membuat suara mereka sah, bulat, dan tak gampang digoyang.
Kesimpulannya?
Syuriyah menilai Gus Yahya melakukan pelanggaran fatal.
Dan yang dianggap paling mencoreng wajah organisasi adalah manuver dalam acara kaderisasi AKN NU (Akademi Kepemimpinan Nasional).
Syuriyah mencatat bahwa Gus Yahya mengundang narasumber yang punya keterkaitan dengan jaringan zionisme internasional. Masalahnya, AKN NU adalah kaderisasi tingkat paling elite di NU. Dengan kata lain, ini bukan acara karang taruna yang salah undang pemateri.
Syuriyah menilai tindakan itu:
- Melanggar nilai Ahlussunnah wal Jamaah An Nahdliyah.
- Bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU.
- Dilakukan di tengah kecaman dunia terhadap praktik genosida Israel, sehingga dianggap mencemarkan nama baik perkumpulan (Pasal 8 Peraturan Perkumpulan NU).
Masalah ideologi saja sudah cukup bikin panas ruangan. Tapi ternyata daftar persoalan tidak berhenti di situ.
Isu Manajerial: Bukan Cuma Ideologi yang Diobok-obok
Rapat Syuriyah juga menyoroti tata kelola keuangan yang dinilai bermasalah.
Ada indikasi bahwa pengelolaan keuangan pada masa Gus Yahya melanggar hukum syara’ dan juga bertentangan dengan peraturan perundang-undangan.
Masalah seperti ini tidak cuma menyinggung etik, tapi juga bisa membahayakan eksistensi badan hukum NU itu sendiri.
Dengan berbagai temuan itu, Rapat Harian Syuriyah kemudian memberikan mandat penuh kepada “Trio Petinggi” Rais Aam dan dua Wakil Rais Aam untuk mengambil keputusan final.
Dan keputusan mereka?
Tidak ada dramatisasi lagi. Tidak ada cliffhanger. Jawabannya lugas.
“KH. Yahya Cholil Staquf harus mengundurkan diri dari jabatan Ketua Umum PBNU dalam waktu tiga hari…”
Kalau tidak?
Mereka sudah siapkan langkah berikutnya.
“…Rapat Harian Syuriyah PBNU memutuskan memberhentikan (memecat) KH. Yahya Cholil Staquf.”
Bara Dalam Rumah NU
Ultimatum ini menunjukkan keretakan yang tidak bisa dianggap sepele. Ada benturan keras antara Syuriyah pimpinan tertinggi dan pengarah organisasi dengan Tanfidziyah yang dipimpin Gus Yahya.
Jika tidak ada jalan damai, NU sedang berdiri di pintu yang bisa mengarah pada perubahan kepemimpinan paling dramatis dalam sejarah terbarunya.
NU memang sering melahirkan dinamika. Tapi yang satu ini?
Ini bukan dinamika.
Ini drama politik level premium.
Penulis : Ris Tanto | Editor : Ivan






