Menu

Mode Gelap
“Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur Kisah Skandal Sum Kuning: Dari Korban Jadi Tersangka, Saat Hukum Tunduk pada Kuasa

News

Sandri Rumanama: Belajar dari Nepal, Indonesia Harus Kompak Hadapi Krisis Global

badge-check


					Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, mengingatkan Indonesia belajar dari krisis Nepal. Ia menyerukan solidaritas nasional agar bangsa tidak terjebak konflik global.(Foto:Ist) Perbesar

Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, mengingatkan Indonesia belajar dari krisis Nepal. Ia menyerukan solidaritas nasional agar bangsa tidak terjebak konflik global.(Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Jakarta – Lagi-lagi dunia kasih kabar buruk. Nepal dalam sepekan terakhir diguncang demo besar-besaran yang berubah jadi tragedi. Korban jiwa jatuh, gedung-gedung rusak, dan politikus kelas atas ikut terseret. Gambarnya sih mirip-mirip film dokumenter, tapi nyatanya bikin ngeri.

Direktur Haidar Alwi Institute, Sandri Rumanama, langsung angkat bicara. Menurutnya, situasi Nepal ini bisa jadi kaca spion buat Indonesia. Soalnya, kondisi geopolitik, tingkat demokrasi, sampai pendapatan per kapita kedua negara, katanya, nggak jauh beda.

“Kita sama-sama sebagai negara demokrasi. Pendapatan per kapita kita tidak tergolong jauh berbeda. Ekonomi nasional Nepal dan Indonesia juga tidak memiliki grafis statistik yang signifikan. Artinya, kita harus belajar dari kondisi yang ada di Nepal saat ini, harus bahu membahu menjadi satu kesatuan di tengah geopolitik global yang tidak menentu,” ucap Sandri di Jakarta.

Jangan Sampai Indonesia Jadi “Nepal Kedua”

Haidar Alwi Institute, lewat gerakan Rakyat Bantu Rakyat, mencoba memberi sinyal kuat: solidaritas nasional itu bukan jargon semata. Bagi Sandri, bantuan dari kalangan dermawan penting supaya masyarakat tetap merasakan kehadiran negara (atau minimal kehadiran sesama) di tengah kondisi ekonomi yang bikin napas ngos-ngosan.

“Kami khawatir Indonesia bisa ikut-ikutan kalau solidaritas nasional ini longgar. Jangan sampai kita seperti Nepal,” tegas Sandri.

Dia juga menekankan pentingnya aparat keamanan tetap siaga pascakericuhan di beberapa wilayah dalam negeri. Bukan nakut-nakutin, tapi lebih ke langkah antisipasi kalau krisis politik global mulai bocor ke rumah kita.

“Pemerintah harus bersama, aparat keamanan juga harus bersiap mengantisipasi kondisi geopolitik global yang tidak menentu. Apalagi kita baru saja mengalami tragedi yang hampir sama seperti Nepal dalam kurun waktu sepekan terakhir. Artinya potensi konflik dan krisis politik tentu masih ada,” papar Sandri.

Intinya: Kompak atau Kocar-kacir

Singkatnya, pesan Sandri jelas: jangan tunggu kebakaran baru sibuk cari ember. Indonesia harus belajar dari Nepal, memperkuat solidaritas, dan bikin barisan rapi supaya krisis global tidak mampir dengan gratisan. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

28 April 2026 - 20:49

Daftar Lengkap Korban Bekasi Timur: 84 Luka, 14 Meninggal, Usia 21–63 Tahun dan Tersebar di 11 RS

28 April 2026 - 18:14

Sopir Taksi Beberkan Detik-detik Setir Ngunci di Rel Bekasi Timur hingga Picu Tabrakan Kereta

28 April 2026 - 17:51

BP Danantara Pastikan Jasa Raharja Tanggung Biaya Perawatan, KAI Beri Kompensasi Korban Kecelakaan Bekasi Timur

28 April 2026 - 17:29

Akhir 22 Tahun “Zona Abu-Abu”: UU PPRT Resmi Disahkan, Pekerja Rumah Tangga Kini Punya Perlindungan Nyata

26 April 2026 - 23:13

Trending di News