Menu

Mode Gelap
Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir

Ekonomi

Utang Luar Negeri Indonesia Turun Tipis, BI: Masih Sehat, Jangan Panik Dulu!

badge-check


					utang luar negeri indonesia, utang indonesia 2025, BI utang luar negeri, utang pemerintah, utang swasta, rasio utang PDB, ekonomi indonesia (Foto:Ist) Perbesar

utang luar negeri indonesia, utang indonesia 2025, BI utang luar negeri, utang pemerintah, utang swasta, rasio utang PDB, ekonomi indonesia (Foto:Ist)

PRABA INSIGHT – Jakarta – Kabar baik sekaligus bikin nyengir datang dari Bank Indonesia (BI). Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia per Juli 2025 tercatat US$ 432,5 miliar atau Rp 7.082,2 triliun (kurs Rp 16.375). Angka ini memang masih sama-sama bikin kaget kalau ditulis pakai nol semua, tapi ya lumayan lah, karena lebih rendah dibanding Juni 2025 yang nyampe US$ 434,1 miliar.

Jadi, istilahnya: utang kita turun tipis. Kayak gaji yang naik seribu perak, nggak terasa tapi bisa dibilang ada progres.

Secara tahunan, pertumbuhan ULN juga melambat. Dari 6,3% (yoy) di Juni jadi 4,1% (yoy) di Juli. Menurut BI, hal ini karena utang pemerintah ngerem sedikit, plus si Dolar AS lagi sok kuat bikin Rupiah ngos-ngosan.

“Posisi ULN pemerintah pada Juli 2025 tercatat sebesar US$ 211,7 miliar, tumbuh 9,0% (yoy), lebih rendah dibanding 10,0% (yoy) pada Juni 2025,” kata Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Senin (15/9/2025).

Denny juga menambahkan, perlambatan ini dipicu karena pinjaman luar negeri dan surat utang pemerintah nggak sekencang sebelumnya. Tapi BI meyakinkan, semuanya masih dikelola dengan cermat, terukur, dan akuntabel. Utang ini dipakai buat hal-hal produktif: kesehatan, pendidikan, pertahanan, konstruksi, sampai transportasi. Jadi, tenang, nggak dipakai buat beli skin Mobile Legends.

Yang bikin adem, 99,9% dari utang pemerintah ini jangka panjang. Artinya, cicilan nggak harus ditagih kayak bayar kosan tiap bulan.

Bagaimana dengan swasta? Nah, ULN swasta masih kontraksi. Angkanya di Juli 2025 tetap di kisaran US$ 195,6 miliar. Pertumbuhannya minus 0,3% (yoy), sama kayak bulan sebelumnya. Bedanya, utang perusahaan nonkeuangan makin nyusut 1,2% (yoy), sementara utang lembaga keuangan malah naik 3,6% (yoy).

Sektor yang paling banyak nyumbang utang swasta? Masih sama: industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, listrik dan gas, plus pertambangan. Totalnya sampai 80,4% dari keseluruhan utang swasta.

Walaupun angka ULN bikin jidat berkerut kalau dihitung dengan kalkulator HP, BI bilang struktur utang kita tetap sehat. Buktinya, rasio ULN terhadap PDB turun dari 30,5% jadi 30,0%. Lagi-lagi, utang jangka panjang mendominasi 85,5%. Jadi kalaupun gede, tenang, ini utang panjang ibaratnya kayak KPR, bukan paylater.

BI dan pemerintah juga janji terus ngawal biar utang ini nggak bikin ekonomi megap-megap. “Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian,” ujar Denny.

Penulis : Deny Darmono | Editor: Irfan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Tiket Palangkaraya-Jakarta Tembus Rp200 Juta Bikin Heboh, Garuda Indonesia Pastikan Bukan Tarif Resmi

19 Maret 2026 - 14:38 WIB

Pegadaian Kantor Wilayah IX Jakarta 2 Luncurkan MPL 2026, Bantu Warga dan Dorong UMKM

17 Maret 2026 - 09:22 WIB

Jelang Lebaran, Tarif Tol Batang-Semarang Resmi Naik 29 Persen: Mudik Makin Mahal

17 Maret 2026 - 07:58 WIB

Mudik Gratis Pegadaian 2026, Kantor Wilayah Pegadaian IX Jakarta 2 Ikut Berangkatkan Peserta

16 Maret 2026 - 10:32 WIB

Dua Wajah THR Lebaran 2026: Swasta Dipotong Pajak, Aparatur Negara Utuh 100%

6 Maret 2026 - 10:19 WIB

Trending di Ekonomi