Menu

Mode Gelap
Mengapa Status Febrie Adriansyah Berubah Jadi Saksi di Sprindik Kejagung? Ini Penjelasan Resminya Wasekjend Depinas SOKSI Nilai Serangan Deddy Sitorus ke Bahlil Cerminkan Kemunduran Etika Politik PDIP Aktivis 98 Agung Dekil: Komitmen Prabowo Berantas Korupsi Wujud Nyata Amanat Reformasi 1998 Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba Tak Cukup Mundur? Bandot DM Sebut Febrie Masih Sah Jadi Jampidsus karena Keppres Belum Dicabut Kronologi Lengkap Pembunuhan Driver Ojol di Tangerang: Pelaku Batalkan Bunuh Diri lalu Begal karena Tertekan Biaya Nikah

Ekonomi

“Renald Kasali untuk BIN: Solusi dari Akademisi, Bukan dari Alumni Koalisi”

badge-check

Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa) Perbesar

Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT- Di tengah aroma perebutan jabatan strategis yang makin kental dengan bumbu politik balas jasa, satu suara waras terdengar dari arah Timur. Abdullah Kelrey, pendiri Nusa Ina Connection (NIC), tiba-tiba angkat suara: “Kenapa gak Renald Kasali aja yang jadi Ketua Dewan Analisis Strategis (DAS) BIN?”

Sontak, usulan itu jadi seperti semilir angin di tengah ruangan rapat yang penuh asap ego.

Renald Kasali, bagi yang belum tahu (mungkin karena hidupnya terlalu fokus nonton sinetron politik), adalah profesor manajemen dari Universitas Indonesia. Pendiri Rumah Perubahan, penulis buku laris, dan akademisi yang lebih sibuk ngajar berpikir daripada rebutan kursi. Dengan kata lain: bukan orang partai, bukan timses, dan gak punya warisan proyek dari kekuasaan.

Kelrey menegaskan, kalau DAS sampai diisi oleh politisi, ya wassalam. BIN bisa-bisa berubah jadi grup WA elite politik yang isinya cuma update siapa yang harus dibungkam minggu ini.

“Ketua DAS itu harus bersih dari kepentingan. Profesional, netral, dan bisa mikir jauh ke depan. Bukan orang yang mikir pemilu 2029 mulu,” tegas Kelrey, seperti sedang menegur sambil nyindir.

Biar BIN Gak Jadi Taman Kanak-kanak Oligarki

Dewan Analisis Strategis di BIN ini bukan job buat numpang lewat atau ajang balas budi. Ini tempat merancang masa depan negara, dari ancaman siber sampai disinformasi global. Kalau isinya cuma loyalis kekuasaan, ya strategi negara bisa-bisa disusun pakai polling TikTok.

Renald Kasali dianggap cocok karena bisa melihat tren, memahami krisis, dan berpikir dingin tanpa harus ditelpon elit tiap sore.

“Kalau masih ngasih jabatan ke orang partai, ya jangan salahin publik kalau mulai mikir BIN itu singkatan dari Barisan Inti Ngegas buat kepentingan politik,” kata Kelrey sambil nyengir.

Lebih jauh, Kelrey mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak mengulang kesalahan klasik: isi semua kursi dengan orang dari lingkaran sendiri. Negara ini butuh keberanian untuk mempercayakan posisi penting pada orang yang gak bisa dibisiki, gak bisa dikendalikan, tapi bisa berpikir tajam dan independen. (Van)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Sahabat MUI Kota Bekasi Gelar Raker I, Desak Pengawasan LGBT dan Narkoba

15 Juli 2026 - 13:11

Bukan Cuma Soal Komisi 8 Persen, Ini Alasan Pemerintah Ubah Status Ojol Jadi Pengusaha Mikro

6 Juli 2026 - 19:25

Benny Wullur vs Hotman Paris, Akademisi Pertanyakan Pencabutan Inkracht

18 Juni 2026 - 21:25

Potensi Wakaf RI Rp400 Triliun per Tahun, Berry Kurniawan: Mulai Rp1.000 Sehari Bisa Ubah Nasib Umat

17 Juni 2026 - 11:29

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM

1 Juni 2026 - 16:03

Trending di Ekonomi