Menu

Mode Gelap
Baznas Kota Bekasi Salurkan Rp 1,06 M Buat 1.761 Mustahik 3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial

Ekonomi

“Renald Kasali untuk BIN: Solusi dari Akademisi, Bukan dari Alumni Koalisi”

badge-check

Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa) Perbesar

Jabatan strategis makin ramai dicatut politisi, tapi NIC lewat Abdullah Kelrey punya ide segar: Renald Kasali saja yang pimpin DAS BIN.(Foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT- Di tengah aroma perebutan jabatan strategis yang makin kental dengan bumbu politik balas jasa, satu suara waras terdengar dari arah Timur. Abdullah Kelrey, pendiri Nusa Ina Connection (NIC), tiba-tiba angkat suara: “Kenapa gak Renald Kasali aja yang jadi Ketua Dewan Analisis Strategis (DAS) BIN?”

Sontak, usulan itu jadi seperti semilir angin di tengah ruangan rapat yang penuh asap ego.

Renald Kasali, bagi yang belum tahu (mungkin karena hidupnya terlalu fokus nonton sinetron politik), adalah profesor manajemen dari Universitas Indonesia. Pendiri Rumah Perubahan, penulis buku laris, dan akademisi yang lebih sibuk ngajar berpikir daripada rebutan kursi. Dengan kata lain: bukan orang partai, bukan timses, dan gak punya warisan proyek dari kekuasaan.

Kelrey menegaskan, kalau DAS sampai diisi oleh politisi, ya wassalam. BIN bisa-bisa berubah jadi grup WA elite politik yang isinya cuma update siapa yang harus dibungkam minggu ini.

“Ketua DAS itu harus bersih dari kepentingan. Profesional, netral, dan bisa mikir jauh ke depan. Bukan orang yang mikir pemilu 2029 mulu,” tegas Kelrey, seperti sedang menegur sambil nyindir.

Biar BIN Gak Jadi Taman Kanak-kanak Oligarki

Dewan Analisis Strategis di BIN ini bukan job buat numpang lewat atau ajang balas budi. Ini tempat merancang masa depan negara, dari ancaman siber sampai disinformasi global. Kalau isinya cuma loyalis kekuasaan, ya strategi negara bisa-bisa disusun pakai polling TikTok.

Renald Kasali dianggap cocok karena bisa melihat tren, memahami krisis, dan berpikir dingin tanpa harus ditelpon elit tiap sore.

“Kalau masih ngasih jabatan ke orang partai, ya jangan salahin publik kalau mulai mikir BIN itu singkatan dari Barisan Inti Ngegas buat kepentingan politik,” kata Kelrey sambil nyengir.

Lebih jauh, Kelrey mengingatkan Presiden Prabowo agar tidak mengulang kesalahan klasik: isi semua kursi dengan orang dari lingkaran sendiri. Negara ini butuh keberanian untuk mempercayakan posisi penting pada orang yang gak bisa dibisiki, gak bisa dikendalikan, tapi bisa berpikir tajam dan independen. (Van)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial

10 Agustus 2026 - 10:27

Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada

7 Agustus 2026 - 18:14

Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

7 Agustus 2026 - 17:48

JakOne Mobile Bikin Bank Jakarta Panen Penghargaan, Bukti Transformasi Digital Bukan Sekadar Gimmick

4 Agustus 2026 - 11:11

Pemerintah Resmi Ubah Status Ojol Jadi Pelaku UMKM, Perpres Masuki Tahap Final

21 Juli 2026 - 18:33

Trending di Ekonomi