PRABAINSIGHT.COM – LUMAJANG – Awalnya cuma soal rokok. Bukan narkoba. Bukan tawuran. Bahkan bukan kabur dari pesantren. Hanya sebatang rokok yang nyasar ke area terlarang.
Tapi dari satu batang rokok itu, drama berlapis-lapis pun lahir.
Jagat maya belakangan ramai oleh sebuah video yang memperlihatkan momen tak biasa di lingkungan pondok pesantren. Seorang ustadz tampak didatangi seorang ibu yang disebut-sebut sebagai walisantri. Nada bicara meninggi, suasana menegang, dan yang paling bikin netizen mengangkat alis: muncul kalimat ancaman.
Konon ceritanya sederhana. Seorang santri kedapatan merokok di area pesantren. Sebagaimana aturan kebanyakan pondok, merokok jelas bukan perilaku yang dibenarkan. Sang ustadz pun menegur. Selesai? Ternyata tidak.
Alih-alih berhenti di teguran internal, persoalan malah melebar keluar pagar pesantren. Sang ibu datang meminta penjelasan langsung. Klarifikasi berubah jadi adu argumen. Situasi yang semula bisa diselesaikan dengan ngobrol baik-baik, mendadak terasa seperti sidang darurat tanpa palu.
Dalam video yang beredar, ibu tersebut bahkan mengaku sebagai istri anggota polisi. Kalimat “akan dilaporkan” pun meluncur. Entah untuk menakut-nakuti, menegaskan posisi, atau sekadar refleks emosi sesaat—yang jelas, ancaman itu sukses mengubah teguran rokok menjadi tontonan nasional.
Peristiwa ini disebut terjadi di sebuah pondok pesantren di wilayah Lumajang, Jawa Timur. Namun sampai sekarang, belum ada keterangan resmi dari pihak pesantren maupun aparat setempat. Video sudah terlanjur viral, klarifikasi justru masih tertinggal di belakang algoritma.
Seperti biasa, netizen tak mau ketinggalan urusan. Kolom komentar langsung terbelah dua kubu.
Di satu sisi, banyak yang membela ustadz. Aturan pesantren, kata mereka, harus dihormati. Kalau orang tua menyekolahkan anak ke pondok, ya siap dengan konsekuensi disiplin. Teguran dianggap wajar, bahkan perlu.
Di sisi lain, ada pula yang menyoroti cara komunikasi kedua belah pihak. Teguran boleh, emosi jangan. Klarifikasi sah, ancaman sebaiknya ditahan. Apalagi di ruang pendidikan yang mestinya mengajarkan adab, bukan adu kuasa.
Kasus ini jadi pengingat klasik: masalah kecil bisa membesar kalau ego ikut campur. Rokoknya mungkin sudah padam, tapi apinya keburu menyebar ke mana-mana—dari halaman pesantren sampai linimasa media sosial.
Sampai sekarang, situasi masih menggantung. Belum ada penjelasan resmi, belum ada klarifikasi tuntas. Yang ada baru satu pelajaran lama dengan bungkus baru: di era kamera selalu menyala, kepala dingin itu jauh lebih penting daripada merasa paling benar.
Jadi, menurutmu: ini soal disiplin yang perlu ditegakkan, atau reaksi berlebihan yang mestinya tak perlu viral?
Editor : Irfan Ardhiyanto







