Menu

Mode Gelap
Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan PHI Group Borong 2 Penghargaan di Grand Honors 2026, Ekspansi 27 Hotel dan Bidik Pasar ASEAN Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot Viral! Orang Tua Protes Menu MBG, Admin SPPG Justru Balas Nyinyir Dari Rp200 Ribu ke Rp311 Juta: Drama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang Bikin Dompet Mau Pensiun Dini

Internasional

Bos Kartel Narkoba El Mencho Tewas dalam Operasi Militer, Jalanan Meksiko Lumpuh

badge-check


					Bos kartel narkoba El Mencho dilaporkan tewas dalam operasi militer. Kematian pimpinan CJNG itu memicu gejolak keamanan di Meksiko, dari blokade jalan hingga pembatalan dan putar balik penerbangan internasional. Perbesar

Bos kartel narkoba El Mencho dilaporkan tewas dalam operasi militer. Kematian pimpinan CJNG itu memicu gejolak keamanan di Meksiko, dari blokade jalan hingga pembatalan dan putar balik penerbangan internasional.

PRABAINSIGHT.COM – Ada negara yang panik karena inflasi. Ada yang ribut karena pemilu. Meksiko? Cukup satu orang mati, negara bisa langsung masuk mode darurat nasional.

Minggu (22/2/2026) itu, kabar kematian Nemesio Oseguera Cervantes atau yang lebih akrab dipanggil El Mencho menyebar lebih cepat dari gosip selebritas. Bos besar Kartel Generasi Baru Jalisco (CJNG), buronan kelas kakap dengan nilai sayembara 15 juta dolar AS, dilaporkan tewas usai operasi militer di Tapalpa.

Kronologinya terdengar seperti adegan film: bentrokan bersenjata, El Mencho terluka parah, diterbangkan ke Mexico City untuk perawatan intensif, lalu dinyatakan meninggal. Tamat? Sayangnya tidak.

Karena justru setelah itu, Meksiko benar-benar mulai panas.

Ketika Kartel Berkabung, Negara Ikut Guncang

Begitu kabar kematian El Mencho menyebar, loyalis CJNG bergerak. Bukan pakai karangan bunga, tapi dengan cara khas kartel: blokade jalan, kendaraan dibakar, dan bentrokan terbuka dengan aparat keamanan.

Wilayah seperti Jalisco, Michoacán, dan Guerrero mendadak berubah jadi peta zona merah. Jalan utama lumpuh. Aktivitas warga terhenti. Negara seolah dipaksa berhenti sejenak untuk mengurus “warisan” satu gembong narkoba.

Kalau biasanya kemacetan disebabkan kecelakaan lalu lintas, kali ini penyebabnya lebih “berkelas”: demonstrasi loyalitas kartel.

Bukan Cuma Darat, Langit Juga Ikut Kacau

Efek domino kematian El Mencho ternyata sampai ke udara. Sejumlah maskapai besar dari Amerika Serikat dan Kanada memilih langkah aman: membatalkan penerbangan ke kota-kota terdampak.

Nama-nama besar seperti United Airlines, American Airlines, Southwest Airlines, Alaska Airlines, Air Canada, hingga WestJet satu per satu menarik rem. Yang paling dramatis tentu Southwest Airlines, yang sampai harus memutar balik empat pesawat yang sudah terbang menuju Puerto Vallarta.

Sudah di udara, lalu disuruh balik. Bukan karena cuaca, tapi karena situasi darat yang terlalu “tidak ramah”.

Pemerintah Amerika Serikat dan Kanada pun ikut turun tangan dengan mengeluarkan peringatan darurat. Warga diminta tidak bepergian dan berlindung di tempat aman. Liburan tropis ditunda, keselamatan nomor satu.

El Mencho Pergi, CJNG Belum

Di atas kertas, tewasnya El Mencho adalah pukulan besar bagi jaringan narkoba Meksiko. Tapi respons di lapangan justru memberi sinyal sebaliknya: CJNG masih solid, terorganisir, dan punya kemampuan mobilisasi cepat.

Alih-alih melemah, reaksi keras ini memperlihatkan bahwa satu nama memang bisa mati, tapi struktur kartel tidak serta-merta ikut runtuh. Yang hilang satu orang, yang bergerak ribuan.

Inilah paradoks perang narkoba: setiap kemenangan negara sering kali dibayar dengan kekacauan jangka pendek—dan kadang, jangka panjang.

Akhir Sebuah Era atau Awal Babak Baru?

Kini sorotan dunia tertuju ke Meksiko. Pertanyaannya bukan lagi apakah El Mencho benar-benar tewas, tapi apa yang akan terjadi setelahnya.

Apakah ini awal melemahnya CJNG? Atau justru pembuka babak baru eskalasi kekerasan antar kartel dan aparat?

Belum ada jawaban pasti. Yang jelas, hingga saat ini, Meksiko belum sepenuhnya kembali tenang. Dan seperti biasa, warga sipil lagi-lagi jadi pihak yang paling berharap: semoga kali ini, kekacauan tidak berlangsung terlalu lama.

Karena satu hal sudah terbukti di Meksiko, kematian satu orang bisa membuat seluruh negara ikut menahan napas.

Editor : Irfan Ardhiyanto 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

16 April 2026 - 20:30

Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein Files, DOJ Buka Dokumen Lama yang Seret Nama Elite Dunia

12 April 2026 - 13:05

Konflik NATO Memanas: Donald Trump Sebut Anggota “Pengecut” Usai Tolak Serang Iran, Emmanuel Macron Balas Seret Isu Pribadi

12 April 2026 - 12:55

Trending di Internasional