Menu

Mode Gelap
Ngaku Kompol Saat Melamar, Ternyata Cuma Calo Samsat: Kisah Pahit ASN yang Terjebak Pernikahan Penuh Kekerasan SIAGA 98 Dorong Kementerian Keamanan untuk Awasi Sektor Keamanan Nasional Tujuh Tahun Driver Legend Indonesia, Dari Aksi Jalanan hingga Advokasi Ojol Nasional Mau Jadi Polisi? DPR Putuskan Lulusan SMA Masih Bisa Masuk Polri, Usulan S1 Tak Lolos Dari Jalanan Buruh ke Istana: Said Iqbal Resmi Jadi Penasihat Khusus Presiden Prabowo Bidang Ketenagakerjaan Drama Wedding Organizer Berujung Penjara: Ayu Puspita Divonis 1,5 Tahun, Korban Tak Cuma Calon Pengantin

News

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

badge-check


					Audit BPK mengungkap KCIC memiliki utang Rp298,7 miliar kepada Telkomsel terkait proyek Whoosh. Dony Oskaria juga menyoroti lemahnya tata kelola keuangan BUMN. Perbesar

Audit BPK mengungkap KCIC memiliki utang Rp298,7 miliar kepada Telkomsel terkait proyek Whoosh. Dony Oskaria juga menyoroti lemahnya tata kelola keuangan BUMN.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kereta Cepat Jakarta–Bandung alias Whoosh mungkin melaju tanpa hambatan di rel. Tapi urusan tagihan, ceritanya ternyata tidak secepat itu.

Audit Badan Pemeriksa Keuangan mengungkap adanya piutang jumbo yang belum dibayar pengelola Kereta Cepat Jakarta–Bandung kepada Telkomsel. Nilainya bukan recehan: mencapai Rp298,7 miliar hingga akhir 2024.

Angka itu muncul dari kewajiban pembayaran kompensasi tahunan dan biaya jaringan pengganti atas penggunaan spektrum frekuensi radio yang dikontrak sampai 2030.

Masalahnya, menurut hasil audit BPK, pihak KCIC disebut mengalami kendala arus kas sehingga pembayaran kepada Telkomsel tersendat.

Tidak hanya itu, KCIC juga disebut belum menyerahkan bank garansi senilai Rp80 miliar yang sebelumnya menjadi bagian dari kewajiban kerja sama.

Kalau dibaca pelan-pelan, kasus ini terasa seperti ironi proyek strategis nasional: keretanya bisa melaju hingga ratusan kilometer per jam, tetapi urusan keuangan malah tersendat di tengah jalan.

Sorotan terhadap kondisi finansial BUMN juga datang dari Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Ia menyinggung praktik tata kelola perusahaan pelat merah yang dinilai masih lemah dan kerap mempercantik laporan keuangan lewat rekayasa finansial.

Dony menyebut nilai impairment atau penurunan aset BUMN tahun ini hampir menyentuh Rp100 triliun. Belum lagi potensi gagal bayar dana pensiun yang diperkirakan mencapai Rp50 triliun.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan BUMN bukan cuma soal untung-rugi di atas kertas, melainkan menyangkut fondasi keuangan yang mulai dipertanyakan.

Di tengah gencarnya pembangunan proyek strategis nasional, publik kini mulai melihat sisi lain yang jarang muncul dalam video promosi atau seremoni peresmian: tumpukan kewajiban finansial yang diam-diam menggunung.

Kasus piutang Telkomsel terhadap KCIC ini pun menjadi pengingat bahwa proyek besar tidak cukup hanya terlihat megah di permukaan. Sebab pada akhirnya, yang menentukan keberlanjutan bukan sekadar kecepatan pembangunan, melainkan kesehatan keuangan di belakangnya.

Dan di titik itulah, audit BPK mulai membuka cerita yang selama ini tidak ikut melaju di rel Whoosh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ngaku Kompol Saat Melamar, Ternyata Cuma Calo Samsat: Kisah Pahit ASN yang Terjebak Pernikahan Penuh Kekerasan

9 Juni 2026 - 15:21

SIAGA 98 Dorong Kementerian Keamanan untuk Awasi Sektor Keamanan Nasional

9 Juni 2026 - 15:06

Tujuh Tahun Driver Legend Indonesia, Dari Aksi Jalanan hingga Advokasi Ojol Nasional

8 Juni 2026 - 15:12

Mau Jadi Polisi? DPR Putuskan Lulusan SMA Masih Bisa Masuk Polri, Usulan S1 Tak Lolos

8 Juni 2026 - 14:58

Drama Wedding Organizer Berujung Penjara: Ayu Puspita Divonis 1,5 Tahun, Korban Tak Cuma Calon Pengantin

8 Juni 2026 - 14:34

Trending di News