Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

News

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

badge-check

Audit BPK mengungkap KCIC memiliki utang Rp298,7 miliar kepada Telkomsel terkait proyek Whoosh. Dony Oskaria juga menyoroti lemahnya tata kelola keuangan BUMN. Perbesar

Audit BPK mengungkap KCIC memiliki utang Rp298,7 miliar kepada Telkomsel terkait proyek Whoosh. Dony Oskaria juga menyoroti lemahnya tata kelola keuangan BUMN.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kereta Cepat Jakarta–Bandung alias Whoosh mungkin melaju tanpa hambatan di rel. Tapi urusan tagihan, ceritanya ternyata tidak secepat itu.

Audit Badan Pemeriksa Keuangan mengungkap adanya piutang jumbo yang belum dibayar pengelola Kereta Cepat Jakarta–Bandung kepada Telkomsel. Nilainya bukan recehan: mencapai Rp298,7 miliar hingga akhir 2024.

Angka itu muncul dari kewajiban pembayaran kompensasi tahunan dan biaya jaringan pengganti atas penggunaan spektrum frekuensi radio yang dikontrak sampai 2030.

Masalahnya, menurut hasil audit BPK, pihak KCIC disebut mengalami kendala arus kas sehingga pembayaran kepada Telkomsel tersendat.

Tidak hanya itu, KCIC juga disebut belum menyerahkan bank garansi senilai Rp80 miliar yang sebelumnya menjadi bagian dari kewajiban kerja sama.

Kalau dibaca pelan-pelan, kasus ini terasa seperti ironi proyek strategis nasional: keretanya bisa melaju hingga ratusan kilometer per jam, tetapi urusan keuangan malah tersendat di tengah jalan.

Sorotan terhadap kondisi finansial BUMN juga datang dari Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Ia menyinggung praktik tata kelola perusahaan pelat merah yang dinilai masih lemah dan kerap mempercantik laporan keuangan lewat rekayasa finansial.

Dony menyebut nilai impairment atau penurunan aset BUMN tahun ini hampir menyentuh Rp100 triliun. Belum lagi potensi gagal bayar dana pensiun yang diperkirakan mencapai Rp50 triliun.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa persoalan BUMN bukan cuma soal untung-rugi di atas kertas, melainkan menyangkut fondasi keuangan yang mulai dipertanyakan.

Di tengah gencarnya pembangunan proyek strategis nasional, publik kini mulai melihat sisi lain yang jarang muncul dalam video promosi atau seremoni peresmian: tumpukan kewajiban finansial yang diam-diam menggunung.

Kasus piutang Telkomsel terhadap KCIC ini pun menjadi pengingat bahwa proyek besar tidak cukup hanya terlihat megah di permukaan. Sebab pada akhirnya, yang menentukan keberlanjutan bukan sekadar kecepatan pembangunan, melainkan kesehatan keuangan di belakangnya.

Dan di titik itulah, audit BPK mulai membuka cerita yang selama ini tidak ikut melaju di rel Whoosh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya

25 Juli 2026 - 17:57

Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP?

25 Juli 2026 - 11:39

DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28

25 Juli 2026 - 00:52

Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng”

24 Juli 2026 - 19:21

Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas

24 Juli 2026 - 17:08

Trending di News