Menu

Mode Gelap
Swarm Lepas “Amayadori”, Lagu Tentang Berdamai dengan Hidup Setelah Dihantam Badai Kesalahan Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

Nasional

Usul 1.000 Bioskop Desa dari APBN 2027: DPR Ingin Film Daerah Tak Mati Sebelum Tayang

badge-check


					Anggota DPR RI Rahmawati mengusulkan APBN 2027 dialokasikan untuk membangun 1.000 bioskop desa guna mendukung rumah produksi kecil dan film daerah di Indonesia. Perbesar

Anggota DPR RI Rahmawati mengusulkan APBN 2027 dialokasikan untuk membangun 1.000 bioskop desa guna mendukung rumah produksi kecil dan film daerah di Indonesia.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di Indonesia, bikin film kadang bukan bagian paling sulit. Yang lebih berat justru mencari layar untuk menayangkannya.

Masalah klasik itu yang kini disorot anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahmawati. Dalam usulannya, Rahmawati meminta pemerintah mulai memikirkan pengalokasian dana APBN 2027 untuk menghadirkan 1.000 layar bioskop desa di berbagai daerah.

Gagasannya terdengar sederhana, tapi menyentuh persoalan lama industri film Indonesia: rumah produksi kecil di daerah sering kali hidup segan mati tak mau karena akses bioskop terlalu tersentralisasi.

Film boleh jadi selesai diproduksi, ide kreatif boleh melimpah, tetapi tanpa layar, karya hanya berhenti di hard disk dan festival kecil.

Rahmawati menilai pemerintah perlu hadir membantu rumah produksi kecil atau production house (PH) daerah agar bisa berkembang dan tidak kalah jauh dari pemain besar industri film nasional.

“Mungkin lintas mitra mungkin siapkan insentif fiskal untuk PH-PH kecil dan daerah dan alokasikan anggaran 1.000 layar bioskop desa atau dari APBN 2027. Ini saran biar PH kecil itu bisa hidup,” ujar Rahmawati.

Usulan itu muncul di tengah perkembangan industri perfilman Indonesia yang belakangan memang sedang naik daun. Jumlah penonton film nasional meningkat, sineas muda bermunculan, dan genre lokal makin beragam. Namun di balik euforia itu, persoalan distribusi masih jadi tembok tinggi bagi kreator daerah.

Tidak semua kota punya bioskop memadai. Bahkan di banyak wilayah, akses layar lebar masih menjadi “kemewahan kota besar”. Akibatnya, karya sineas lokal sering kalah sebelum bersaing.

Di titik inilah usulan bioskop desa mulai menarik perhatian. Sebab idenya bukan cuma soal membangun gedung layar tancap modern, tetapi membuka ruang hidup bagi ekosistem perfilman daerah.

Kalau selama ini desa hanya dijadikan lokasi syuting karena pemandangannya bagus, mungkin sudah waktunya desa juga menjadi tempat film diputar dan diapresiasi.

Tentu saja, usulan tersebut masih memunculkan banyak pertanyaan. Mulai dari skema pengelolaan, kesiapan infrastruktur, hingga efektivitas penggunaan APBN untuk proyek layar bioskop desa.

Namun satu hal yang menarik: di tengah dominasi platform streaming dan konten pendek media sosial, masih ada gagasan agar warga desa tetap bisa menikmati pengalaman menonton film bersama di layar lebar sesuatu yang perlahan mulai terasa mewah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Polemik Konten LGBTIQ SUMA UI Memanas, Universitas Indonesia Tegaskan Itu Bukan Sikap Resmi Kampus

14 Juni 2026 - 19:24

Kenalan dari Dating App Berujung Apes, HP dan iPad Milik Wanita 19 Tahun Digondol Pria 37 Tahun

14 Juni 2026 - 19:08

Rumah Indofood di Jakarta Fair 2026 Bukan Sekadar Tempat Belanja, Ada Duel Masak Aldi Taher hingga Mabar E-sports

13 Juni 2026 - 21:36

Ketum DPP GMNI Muhamad Risyad: Mahasiswa Harus Kritis, Jangan Terjebak Provokasi

13 Juni 2026 - 20:50

Komisaris PT YAT Jadi Tersangka, Kejagung Ungkap Dugaan Markup Motor Listrik MBG Rp1 Triliun

13 Juni 2026 - 20:08

Trending di Nasional