Menu

Mode Gelap
Setoran Surat Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Newport Ancol Berujung Laporan Polisi Baznas Kota Bekasi Salurkan Rp 1,06 M Buat 1.761 Mustahik 3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung

Nasional

Usul 1.000 Bioskop Desa dari APBN 2027: DPR Ingin Film Daerah Tak Mati Sebelum Tayang

badge-check

Anggota DPR RI Rahmawati mengusulkan APBN 2027 dialokasikan untuk membangun 1.000 bioskop desa guna mendukung rumah produksi kecil dan film daerah di Indonesia. Perbesar

Anggota DPR RI Rahmawati mengusulkan APBN 2027 dialokasikan untuk membangun 1.000 bioskop desa guna mendukung rumah produksi kecil dan film daerah di Indonesia.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di Indonesia, bikin film kadang bukan bagian paling sulit. Yang lebih berat justru mencari layar untuk menayangkannya.

Masalah klasik itu yang kini disorot anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi Gerindra, Rahmawati. Dalam usulannya, Rahmawati meminta pemerintah mulai memikirkan pengalokasian dana APBN 2027 untuk menghadirkan 1.000 layar bioskop desa di berbagai daerah.

Gagasannya terdengar sederhana, tapi menyentuh persoalan lama industri film Indonesia: rumah produksi kecil di daerah sering kali hidup segan mati tak mau karena akses bioskop terlalu tersentralisasi.

Film boleh jadi selesai diproduksi, ide kreatif boleh melimpah, tetapi tanpa layar, karya hanya berhenti di hard disk dan festival kecil.

Rahmawati menilai pemerintah perlu hadir membantu rumah produksi kecil atau production house (PH) daerah agar bisa berkembang dan tidak kalah jauh dari pemain besar industri film nasional.

“Mungkin lintas mitra mungkin siapkan insentif fiskal untuk PH-PH kecil dan daerah dan alokasikan anggaran 1.000 layar bioskop desa atau dari APBN 2027. Ini saran biar PH kecil itu bisa hidup,” ujar Rahmawati.

Usulan itu muncul di tengah perkembangan industri perfilman Indonesia yang belakangan memang sedang naik daun. Jumlah penonton film nasional meningkat, sineas muda bermunculan, dan genre lokal makin beragam. Namun di balik euforia itu, persoalan distribusi masih jadi tembok tinggi bagi kreator daerah.

Tidak semua kota punya bioskop memadai. Bahkan di banyak wilayah, akses layar lebar masih menjadi “kemewahan kota besar”. Akibatnya, karya sineas lokal sering kalah sebelum bersaing.

Di titik inilah usulan bioskop desa mulai menarik perhatian. Sebab idenya bukan cuma soal membangun gedung layar tancap modern, tetapi membuka ruang hidup bagi ekosistem perfilman daerah.

Kalau selama ini desa hanya dijadikan lokasi syuting karena pemandangannya bagus, mungkin sudah waktunya desa juga menjadi tempat film diputar dan diapresiasi.

Tentu saja, usulan tersebut masih memunculkan banyak pertanyaan. Mulai dari skema pengelolaan, kesiapan infrastruktur, hingga efektivitas penggunaan APBN untuk proyek layar bioskop desa.

Namun satu hal yang menarik: di tengah dominasi platform streaming dan konten pendek media sosial, masih ada gagasan agar warga desa tetap bisa menikmati pengalaman menonton film bersama di layar lebar sesuatu yang perlahan mulai terasa mewah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Setoran Surat Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Newport Ancol Berujung Laporan Polisi

12 Agustus 2026 - 16:14

Baznas Kota Bekasi Salurkan Rp 1,06 M Buat 1.761 Mustahik

12 Agustus 2026 - 10:36

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Trending di Nasional