Menu

Mode Gelap
Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan! Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri” Garuda di Dadaku Ramaikan Jakarta Fair 2026, Keanu Azka dan Quinn Salman Diserbu Penggemar Cilik

News

Bekasi Job Fair Ricuh: Ribuan Pencari Kerja Serbu Acara, Puluhan Tumbang, Janji Lapangan Kerja Justru Bikin Frustrasi

badge-check


					Ribuan pelamar saat membludak di Job fair Bekasi (foto: prabainsight/istimewa) Perbesar

Ribuan pelamar saat membludak di Job fair Bekasi (foto: prabainsight/istimewa)

PRABA INSIGHT- Harapan ribuan pencari kerja di Bekasi berubah jadi kekacauan massal.

Job fair “Bekasi Pasti Kerja” yang digelar di President University Convention Center, Jababeka, Selasa (27/5), diserbu lautan manusia sejak subuh.

Alih-alih pulang membawa kerjaan, banyak dari mereka malah pingsan karena desak-desakan.

Acara ini awalnya tampak menjanjikan: kolaborasi Pemkab Bekasi dan pihak swasta, ratusan lowongan kerja dari puluhan perusahaan, dan tentu saja… harapan segunung dari para pelamar yang sudah lama berjibaku dengan status pengangguran. Tapi kenyataan di lapangan? Jauh dari ekspektasi.

Pagi masih buta, antrean sudah membentang seperti ular naga panjang. Jam menunjukkan pukul lima subuh, tapi lokasi sudah padat oleh pelamar kerja yang membawa CV, ijazah, dan tentu saja doa.

Saat pintu dibuka, antrean berubah jadi arus manusia. Panitia kalang kabut, petugas keamanan kewalahan, dan suasana mendadak jadi chaos.

Puluhan pencari kerja tumbang. Pingsan. Tak kuat berdiri. Mereka ditidurkan di pinggir ruangan dan diberi oksigen seadanya.

Menurut data resmi Pemkab Bekasi, daya tampung maksimal hanya 25 ribu orang.

Tapi yang datang? Lebih banyak dari itu. Jauh lebih banyak. Wajar saja jika suasana mirip konser K-pop gratisan.

“Gue ke sini dari jam setengah tujuh pagi. Tapi tadi katanya jam lima aja udah rame,” ujar Firman, warga Cikarang yang ikut mengantre sambil keringatan.

Ada pula Dika (25), yang sejak lulus sekolah tahun 2019 belum sekalipun mencicipi dunia kerja.

“Udah nyoba apa aja. Tapi rata-rata minta duit dulu. Buat nyogok. Duit dari mana?” keluhnya sambil menatap langit-langit ruangan seolah meminta jawaban dari Tuhan.

Dika juga pernah terjebak iming-iming agensi kerja yang menjanjikan penempatan. Uang sudah setor, kerjaan nihil. “Cuma janji-janji doang. Ujung-ujungnya ditinggal,” tambahnya getir.

Ia berharap pemerintah tak sekadar hadir dalam bentuk pameran kerja semacam ini, tapi benar-benar hadir—dalam bentuk regulasi dan sistem yang berpihak.

“Kami butuh lapangan kerja nyata, bukan hanya expo yang bikin tambah stres,” ujarnya lirih, hampir putus asa.

Job fair ini sejatinya inisiatif mulia. Tapi ketika jumlah pelamar jauh melampaui kapasitas, dan janji kerja berubah jadi kekecewaan kolektif, publik mulai bertanya: ini acara bantu rakyat, atau sekadar formalitas?

Bagi ribuan pelamar kerja yang datang, acara ini bukan sekadar kunjungan iseng. Ini soal harapan hidup. Tentang bagaimana mereka bisa keluar dari lingkaran pengangguran yang tak kunjung berakhir.

Dan jika satu-satunya hal yang didapat dari job fair adalah lelah, keringat, serta pingsan berjemaah maka sudah waktunya pemerintah mengevaluasi: apakah solusi yang ditawarkan masih relevan, atau justru memperpanjang penderitaan?

 

Penulis: Andi Ramadhan 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun

25 Juni 2026 - 19:13

Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

23 Juni 2026 - 21:03

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri”

23 Juni 2026 - 11:26

Demo Dukung MBG di Monas: Dapat Wajan Baru dan Uang Transport 100 ribuan, Uangnya dari Mana?

23 Juni 2026 - 10:48

Trending di News