Menu

Mode Gelap
Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan! Kapolri Angkat Tangan soal Penangguhan Penahanan Roy Suryo dan dr Tifa: “Sudah Bukan Kewenangan Polri” Garuda di Dadaku Ramaikan Jakarta Fair 2026, Keanu Azka dan Quinn Salman Diserbu Penggemar Cilik

Ekonomi

Sarjana Nganggur: Ketika Ijazah Tinggi Tak Lagi Jadi Tiket ke Masa Depan

badge-check


					Ilustrasi foto: Praba Insight Perbesar

Ilustrasi foto: Praba Insight

PRABA INSIGHT-Dulu, gelar sarjana dianggap semacam jimat sakti. Siapa yang punya, konon katanya tinggal menunggu jemputan HRD dan masa depan yang gemilang.

Tapi, faktanya hari ini, banyak lulusan universitas justru berakhir jadi pengangguran elegan—punya ijazah, tapi enggak punya gaji tetap.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) nyaris seperti tamparan realita. Tahun 2014, jumlah pengangguran bergelar sarjana berada di angka 495 ribu orang. Enam tahun kemudian, angka itu hampir dobel: 981 ribu sarjana nganggur di 2020. Memang sempat turun jadi 842 ribu di 2024, tapi ya tetap saja, jumlah segitu enggak bisa dianggap angin lalu.

 

Pandemi Covid-19 sempat dituding sebagai biang kerok utama. Dunia kerja lumpuh, lowongan kerja minggat, dan ribuan sarjana baru harus debut karier di tengah krisis global. Tapi, akar masalahnya lebih dari sekadar pandemi. Ini soal sistem.

 

Kalau mau jujur, lulusan SMA memang masih menyumbang angka pengangguran terbanyak—2,5 juta orang pada 2023. Tapi mereka biasanya lebih luwes: bisa lompat ke sektor informal, jadi kurir, tukang desain spanduk, bahkan buka usaha kecil-kecilan. Sementara para sarjana, lebih ribet. Banyak yang terjebak dalam ilusi “pekerjaan ideal”.

Istilah kerennya aspirational mismatch. Mimpinya tinggi, ekspektasinya langit ketujuh, tapi realitasnya… yaa bumi. Banyak sarjana ogah ambil kerjaan di luar jurusan, atau yang dinilai “kurang keren”. Alhasil? Ya nunggu. Lama.

Belum lagi soal reservation wage gap—gap antara gaji ideal versi si sarjana dengan gaji riil yang ditawarkan pasar. Banyak yang pasang target tinggi, padahal dunia nyata enggak semanis quote Instagram.

Akhirnya mereka lebih memilih menunggu pekerjaan impian, sambil ngopi, scroll TikTok, dan update CV yang tak kunjung dikirim.

Menariknya, lulusan diploma justru tampil kalem tapi meyakinkan. Tahun 2014, jumlah penganggur diploma ada di angka 193 ribu. Tahun 2024? Turun jadi 170 ribu. Stabil dan cenderung menurun. Kenapa? Karena sistem pendidikan vokasi fokus ke praktik. Lulusan diploma seringkali “siap kerja” langsung tancap gas di dunia industri.

Masalah sesungguhnya bukan kekurangan lapangan kerja, tapi ketidaksesuaian keterampilan.

Banyak kampus yang kurikulumnya masih pakem era Orde Baru. Koneksi ke industri? Lemah gemulai. Wirausaha? Masih dianggap plan B atau pilihan hidup “kalau kepepet”.

Maka, kalau kita pengin menyelamatkan generasi sarjana dari nasib menganggur berjamaah, reformasi pendidikan harus dimulai dari akarnya.

Kurikulum harus adaptif. Mahasiswa harus diajari bikin solusi, bukan cuma skripsi. Kampus harus buka pintu kolaborasi, magang, hingga inkubator bisnis. Dan yang paling penting: tanamkan mental pengusaha sejak dini.

Ijazah sarjana memang enggak lagi otomatis jadi tiket masuk dunia kerja. Tapi itu bukan akhir cerita. Justru ini sinyal kuat bahwa pendidikan tinggi harus naik level. Saatnya berhenti jual mimpi, dan mulai bangun jalan nyata menuju masa depan.

Indonesia punya banyak orang pintar. Yang kita butuhkan sekarang adalah sistem yang lebih waras dan dunia kerja yang mau buka pintu untuk lebih dari sekadar IPK dan gelar belakang nama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Benny Wullur vs Hotman Paris, Akademisi Pertanyakan Pencabutan Inkracht

18 Juni 2026 - 21:25

Potensi Wakaf RI Rp400 Triliun per Tahun, Berry Kurniawan: Mulai Rp1.000 Sehari Bisa Ubah Nasib Umat

17 Juni 2026 - 11:29

Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Sandri Rumanama Minta Pemerintah Berani Naikkan BBM

1 Juni 2026 - 16:03

Beli Saham GoTo Saja Nggak Cukup, Negara Harus Ikut Kelola Bisnis Ojol

30 Mei 2026 - 14:19

Whoosh Ngebut di Rel, Utangnya ke Telkomsel Malah Mandek Rp298 Miliar

22 Mei 2026 - 19:14

Trending di Ekonomi