PRABA INSIGHT- Di Indonesia, harga gula memang bisa bikin rakyat nangis. Tapi hari ini, bukan cuma rakyat yang menangis. Saut Situmorang, mantan pimpinan KPK yang biasa galak pada koruptor, justru menangis untuk seorang terdakwa: Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong.
Jumat, 18 Juli 2025, Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta menjatuhkan vonis 4,5 tahun penjara untuk Tom. Ia dinyatakan bersalah dalam perkara korupsi importasi gula saat menjabat Menteri Perdagangan tahun 2015–2016. Vonis itu disampaikan hakim tanpa basa-basi. Tapi di bangku pengunjung, emosi justru tumpah ruah.
Saut, yang sudah duduk sejak sidang dimulai, langsung memeluk Anies Baswedan begitu putusan dibacakan. Separuh wajahnya terbenam di bahu mantan capres itu, dan pelukannya bukan main eratnya seolah sedang melepas sahabat ke pengasingan.
Anies tak banyak bicara. Tapi sorot matanya berbicara banyak. Wajahnya menyimpan kesedihan yang nyaris bocor jadi air mata. Ia menepuk-nepuk pundak Saut seperti sedang bilang, “Tenang, ini Indonesia. Nanti juga bisa banding.”
Dari Gula ke Jeruji
Hakim menjelaskan empat alasan kenapa hukuman Tom tak bisa ditawar. Pertama, kebijakan impor gula-nya dianggap terlalu kapitalis dan abai pada semangat ekonomi Pancasila. Bahasa halusnya: terlalu pro pasar, kurang pro wong cilik.
Kedua, Tom disebut tak menjalankan kepastian hukum dan mengambil kebijakan yang menabrak aturan. Ketiga, ia tak mengelola kebijakan secara akuntabel dan adil. Dan yang keempat, Tom dianggap lalai pada konsumen akhir rakyat yang cuma ingin beli gula murah tapi malah dapat harga selangit.
“Sebagai Menteri Perdagangan, terdakwa telah mengabaikan hak rakyat untuk mendapat gula kristal putih yang terjangkau,” kata hakim. Kalimatnya terdengar manis, tapi dampaknya pahit.
Kasus ini jadi semacam paradoks. Seorang eks-menteri yang dikenal teknokrat, cerdas, dan sering tampil di forum internasional, kini harus menghuni balik jeruji karena kebijakan yang dinilai tak berpihak pada rakyat kecil. Padahal, niat awalnya kalau versi pembelaan justru untuk menjaga pasokan dan kestabilan harga.
Tapi ya begitulah. Di negeri +62, niat baik saja kadang tidak cukup. Kalau kebijakanmu bikin rakyat susah, hukum bisa mengetuk pintu.
Saut menangis. Anies memeluk. Dan publik? Mungkin terbagi dua: yang ikut sedih karena idealisme teknokrat dipenjara, dan yang senang karena akhirnya ada pejabat yang masuk bui karena main-main dengan kebutuhan pokok rakyat. (Van)