Menu

Mode Gelap
Haji Kilat Tanpa Antre? Ujung-ujungnya Malah Kena Polri, Modus Visa Kerja Terbongkar 17 Korban Kecelakaan KRL Bekasi Timur Masih Dirawat, 3 Jalani Operasi dan 2 Dirujuk karena Kondisi Kritis Fakta Mengejutkan Tom Ogle: Tolak Tawaran Miliaran, Temukan Mobil Irit, Lalu Tewas Misterius Susi Pudjiastuti Resmi Jadi Komisaris Utama Bank BJB, Target Utama: Sikat Pinjol Ilegal di Jabar “Teror Sungai Musi 1987: Yang Tenggelam Tidak Pernah Pergi” Pilu, Tabrakan KA Bekasi Timur Renggut 15 Nyawa, Termasuk Seorang Jurnalis Perempuan

Internasional

Kronologi Tenggelamnya Fregat IRIS Dena: Dari Izin Sandar di India hingga Diduga Ditorpedo di Samudra Hindia

badge-check


					Kronologi tenggelamnya fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia terungkap. Kapal disebut terkena torpedo kapal selam AS setelah Iran meminta izin sandar ke India Perbesar

Kronologi tenggelamnya fregat Iran IRIS Dena di Samudra Hindia terungkap. Kapal disebut terkena torpedo kapal selam AS setelah Iran meminta izin sandar ke India

PRABAINSIGHT.COM – Kalau kamu mengira konflik global selalu dimulai dari pidato panjang para pejabat atau rapat diplomatik yang membosankan, cerita tenggelamnya kapal perang Iran satu ini bisa jadi pengecualian. Sebab rangkaian peristiwanya justru dimulai dari sesuatu yang terlihat biasa: izin kapal perang untuk mampir ke pelabuhan.

Pemerintah India baru-baru ini mengungkap kronologi yang cukup menarik soal tenggelamnya fregat Angkatan Laut Iran, IRIS Dena, di perairan Samudra Hindia.

Menurut Menteri Luar Negeri India, Subrahmanyam Jaishankar, semuanya bermula pada 28 Februari 2026. Saat itu Iran mengajukan permintaan agar tiga kapal militernya diizinkan bersandar di pelabuhan India.

Permintaan itu muncul di saat situasi kawasan sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel sedang meningkat, membuat pergerakan kapal perang di kawasan menjadi perhatian banyak pihak.

India kemudian memberikan lampu hijau pada 1 Maret 2026. Pemerintah menjelaskan bahwa izin tersebut diberikan sebagai kunjungan pelabuhan biasa atau port call, sesuatu yang sebenarnya lazim dalam hubungan maritim internasional.

Selain itu, ada juga pertimbangan kemanusiaan bagi kapal yang beroperasi di wilayah konflik.

Beberapa hari kemudian, tepatnya 4 Maret 2026, salah satu kapal Iran memanfaatkan izin tersebut. Kapal dukungan Angkatan Laut Iran bernama IRIS Lavan berlabuh di pangkalan Angkatan Laut India di Kochi untuk keperluan logistik.

Sampai di titik ini semuanya terlihat normal. Kapal datang, isi logistik, lalu pergi lagi. Rutinitas standar dunia maritim.

Namun pada hari yang sama, situasi berubah drastis.

Fregat Angkatan Laut Iran IRIS Dena dilaporkan tenggelam di kawasan Samudra Hindia dekat Sri Lanka.

Menurut sejumlah laporan internasional, kapal tersebut diduga terkena torpedo yang ditembakkan dari kapal selam milik Amerika Serikat.

Insiden ini langsung menarik perhatian dunia internasional. Pasalnya, IRIS Dena sebelumnya diketahui berada di kawasan itu setelah mengikuti kegiatan angkatan laut multinasional yang diselenggarakan oleh Angkatan Laut India.

Artinya, kapal tersebut berada di wilayah yang secara diplomatik cukup sensitif: jalur pelayaran strategis dengan banyak aktor militer besar mondar-mandir.

Pemerintah India sendiri buru-buru menegaskan satu hal penting. Menurut mereka, izin sandar kapal Iran di pelabuhan India murni keputusan diplomatik yang lazim dalam hubungan internasional.

Dengan kata lain: India tidak sedang ikut-ikutan dalam operasi militer apa pun.

Meski begitu, tenggelamnya IRIS Dena tetap menambah panjang daftar ketegangan geopolitik di kawasan Samudra Hindia.

Di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel, satu kapal perang yang tenggelam bisa berarti lebih dari sekadar kecelakaan laut.

Ia bisa menjadi potongan kecil dari puzzle konflik yang jauh lebih besar.

Dan seperti biasanya dalam politik internasional: setiap potongan puzzle itu jarang benar-benar sederhana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Ketegangan Ibadah di Yerusalem: Israel Perketat Akses Minggu Palma, Pemimpin Gereja Protes

16 April 2026 - 20:30

Melania Trump Bantah Keterkaitan dengan Epstein Files, DOJ Buka Dokumen Lama yang Seret Nama Elite Dunia

12 April 2026 - 13:05

Trending di Internasional