KOLOM ANGKER – Aku masih ingat jelas malam itu.
Hujan, dingin, dan aroma tanah basah yang menyusup sampai ke tulang.
Waktu itu aku baru beberapa bulan ditempatkan sebagai guru di pedalaman Kutai Barat, Kalimantan Timur sebuah daerah yang sinyalnya seperti hantu: ada tapi tak pernah benar-benar bisa diraih.
Satu-satunya tempat yang bisa menangkap sinyal hanyalah di sebuah bukit kecil, di mana berdiri sebuah pendopo tua tanpa dinding. Di siang hari, tempat itu terasa biasa saja, bahkan indah. Tapi di malam hari… angin yang bertiup di antara tiang-tiang kayunya selalu terdengar seperti bisikan yang tak mau diam.
Sudah jadi kebiasaanku naik ke pendopo itu sendirian setelah Maghrib. Kadang untuk menelpon keluarga, kadang hanya untuk merasa tidak sepenuhnya terputus dari dunia luar.
Teman-teman sudah sering mengingatkan,
“Jangan naik sendirian malam-malam. Pendopo itu… kadang ada yang jaga.”
Aku hanya tertawa waktu itu.
Kupikir mereka hanya mencoba menakutiku.
Malam itu hujan turun deras sekali.
Aku tetap di pendopo, menunggu hujan reda. Angin membawa aroma tanah, daun, dan sesuatu yang lebih samar bau apek seperti kain basah yang lama tak dijemur.
Saat itu, hanya cahaya dari ponselku yang menerangi sekitar.
Suara hujan menutupi hampir semua bunyi… hampir.
Sampai tiba-tiba terdengar “kreeeek…”
Entah ranting patah, atau langkah kaki yang terlalu pelan.
Aku memutuskan untuk tidak peduli. Mungkin cuma ranting jatuh. Tapi entah kenapa, bulu kudukku mulai berdiri satu per satu, seperti tubuhku lebih jujur daripada pikiranku.
Ketika hujan mulai reda, aku membereskan barang dan memutuskan pulang lewat jalan pintas melewati hutan kecil di belakang desa. Jalannya sepi, hanya diterangi cahaya redup ponselku. Rintik hujan masih menetes dari daun-daun besar di atas kepalaku.
Sampai aku melihatnya.
Di bawah pohon bangris pohon besar yang batangnya sebesar pelukan tiga orang dewasa ada seseorang duduk diam.
Seorang laki-laki.
Tanpa baju.
Kulitnya pucat, hampir keabu-abuan, seperti tanah yang tak kena sinar matahari bertahun-tahun.
Dia menatapku. Atau setidaknya, aku merasa dia menatapku.
Aku menyapa, mencoba ramah, “Selamat malam, Pak…”
Tak ada jawaban. Tak ada anggukan. Tak ada gerakan sedikit pun.
Aku melangkah lagi.
Satu, dua langkah…
Lalu berhenti.
Otakku seperti baru saja disambar petir: aku kenal semua warga di tempat ini. Setiap wajah, setiap keluarga, bahkan anak-anaknya. Tapi… aku belum pernah lihat laki-laki itu sebelumnya.
Pelan-pelan aku menoleh ke belakang.
Pohon bangris itu… kosong.
Laki-laki tadi hilang.
Suara hujan berhenti sepenuhnya.
Hutan tiba-tiba sunyi, terlalu sunyi.
Bahkan jangkrik pun tak berani bersuara.
Lalu dari arah pepohonan terdengar sesuatu yang membuat jantungku hampir berhenti.
“Krak… krak… krak…”
Suara langkah kaki pelan, tapi semakin lama semakin dekat.
Aku tidak menunggu lagi. Aku lari sekuat-kuatnya, menembus kegelapan.
Di belakangku terdengar sesuatu seperti napas berat, tersengal, dan basah.
Seseorang atau sesuatu berlari mengikutiku.
Aku tidak berani menoleh.
Setiap langkah terasa berat, seperti tanah di bawah kakiku mencoba menahanku.
Ketika sampai di sungai kecil, aku langsung meloncat begitu saja. Aku bahkan tak tahu bagaimana aku bisa menyeberang sejauh itu.
Begitu sampai di rumah, aku langsung menutup pintu rapat-rapat, menyalakan lampu, dan bersandar di dinding sambil gemetar.
Lalu… ketukan itu terdengar.
Tiga kali.
Pelan.
Tok… tok… tok…
Aku menahan napas.
Ketukan berhenti.
Tapi dari balik jendela, bayangan seseorang berdiri diam. Tubuhnya gelap, tapi matanya… aku yakin… menyala samar dalam gelap.
Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi naik ke pendopo sendirian.
Setiap malam aku tidur di rumah guru lain, dengan lampu menyala.
Dan setiap kali aku melewati pohon bangris, entah di mana pun itu tumbuh, aku selalu merasa ada sesuatu yang memperhatikanku dari balik batangnya.
Warga Dayak bilang, aku beruntung masih bisa pulang malam itu.
Karena katanya, penunggu pohon bangris tidak suka disapa.
Apalagi oleh orang asing.
Sampai hari ini, setiap kali hujan turun dan aku mencium aroma tanah basah,
aku masih bisa mendengar langkah kaki di belakangku.
Krak… krak… krak…
Dan kadang, di antara bunyi hujan,
ada suara pelan yang berbisik dekat sekali ke telingaku:
“Sudah lama… aku menunggumu.”
Penulis : Ris Tanto – Editor : Ivan
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











