Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

News

Survei HAI: Mayoritas Publik Menolak Polri Ditempatkan di Bawah Kementerian

badge-check


					Survei Haidar Alwi Institute menunjukkan mayoritas publik menolak wacana penempatan Polri di bawah kementerian karena dinilai berisiko memicu politisasi.(prabainsight) Perbesar

Survei Haidar Alwi Institute menunjukkan mayoritas publik menolak wacana penempatan Polri di bawah kementerian karena dinilai berisiko memicu politisasi.(prabainsight)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau urusan struktur lembaga negara bisa dibikin polling WhatsApp, hasilnya mungkin tak akan jauh beda dengan survei Haidar Alwi Institute (HAI). Singkatnya begini: publik tidak sreg Polri ditaruh di bawah kementerian.

Dalam survei nasional yang dirilis HAI, 71,9 persen responden menyatakan menolak wacana penempatan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di bawah kementerian tertentu. Yang setuju cuma 20,8 persen. Sisanya, 7,3 persen, memilih tidak ikut nimbrung.

Hasil ini dipaparkan dalam rilis pers bertajuk “Apakah Polri di Bawah Kementerian atau Tetap di Bawah Presiden?” yang digelar Selasa, 27 Januari 2026, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Ini Bukan Penolakan Iseng

Presiden sekaligus Direktur Haidar Alwi Institute, Ir. H. R. Haidar Alwi, menegaskan bahwa angka penolakan ini bukan hasil emosi sesaat atau ikut-ikutan tren.

“Penolakan publik ini bersifat stabil dan konsisten. Secara statistik, proporsinya jauh di atas 50 persen,” kata Haidar Alwi.

Survei ini digelar pada 5–19 Januari 2026 dengan melibatkan 2.500 responden dari 34 provinsi. Setelah disaring dan dibersihkan, 2.482 responden dinyatakan valid. Margin of error-nya sekitar ±2 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Singkatnya: datanya cukup serius untuk tidak dianggap angin lalu.

Dari Kota Sampai Desa, Nadanya Sama

Menurut Direktur Eksekutif HAI, Sandri Rumanama, penolakan terhadap reposisi Polri ini tidak berhenti di satu kelompok tertentu. Bukan cuma suara warga kota yang kritis, atau masyarakat desa yang katanya konservatif.

“Penolakan muncul hampir di semua kelompok. Usia muda, tua, kota, desa kecenderungannya sama,” ujar Sandri.

Memang ada variasi. Kelompok usia menengah dan lanjut serta masyarakat perdesaan tercatat lebih keras menolak. Tapi jangan salah, anak muda dan warga kota juga tidak serta-merta mengangguk setuju. Tidak ada satu pun segmen yang bisa diklaim sebagai basis pendukung mayoritas.

Yang Ditakuti Bukan Polrinya

Menariknya, alasan utama penolakan publik bukan karena Polri dianggap tidak becus. Justru sebaliknya. Analisis HAI menunjukkan bahwa kekhawatiran terbesar publik adalah soal politisasi.

“Yang ditolak masyarakat bukan Polrinya, tapi potensi hilangnya independensi dan netralitas jika Polri ditempatkan di bawah kementerian,” kata Sandri.

Kalau polisi sudah terlalu dekat dengan politik, urusannya bisa panjang. Mulai dari penegakan hukum yang dicurigai tebang pilih, sampai kepercayaan publik yang makin tipis. Dan tampaknya, warga Indonesia sudah cukup belajar dari pengalaman.

Bukan Soal Suka atau Tidak Suka Pemerintah

HAI juga mengecek apakah penolakan ini cuma ekspresi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Jawabannya: tidak.

Responden yang puas maupun tidak puas terhadap pemerintah sama-sama menunjukkan penolakan. Artinya, isu ini tidak bisa dibaca sebagai manuver oposisi atau sentimen anti-pemerintah. Ini murni soal desain kelembagaan dan prinsip negara hukum.

Jangan Dianggap Sepele

Dengan tingkat penolakan mendekati 72 persen, HAI menilai wacana penempatan Polri di bawah kementerian belum punya legitimasi sosial yang kuat. Mengabaikan sinyal ini berisiko bikin kebijakan terasa dipaksakan.

HAI pun memberi rekomendasi yang terdengar klise, tapi tetap relevan: tunda, kaji ulang, dan perkuat pengawasan. Bukan memindahkan Polri ke struktur baru, melainkan memperbaiki cara kerjanya di struktur yang sudah ada.

Publik Punya Pesan Sederhana

Pesan publik sebenarnya sederhana: biarkan Polri tetap independen. Tidak ditarik ke kiri, tidak diseret ke kanan, apalagi dijadikan perpanjangan tangan kepentingan politik.

Soal nanti mau reformasi atau pembenahan, publik tidak alergi. Tapi begitu menyentuh urusan independensi, rupanya warga kompak bilang: jangan macam-macam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi

6 Februari 2026 - 15:26 WIB

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

5 Februari 2026 - 12:30 WIB

Ketika Mens Rea Dipersoalkan, Pandji Pragiwaksono Menempuh Jalan Dialog

3 Februari 2026 - 13:56 WIB

OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus Pinjol Crowde, Temukan 62 Mitra Fiktif

3 Februari 2026 - 11:58 WIB

Eyang Meri Pergi di Usia 100 Tahun, Perempuan Tangguh di Balik Keteguhan Jenderal Hoegeng

3 Februari 2026 - 08:21 WIB

Trending di News