Menu

Mode Gelap
Kantor Pegadaian Wilayah IX Jakarta 2 Tancap Gas Digitalisasi Transaksi Emas Lewat Aplikasi Tring Tragis! Rumah Dijaminkan demi Tolong Orang, YAM Justru Dipenjara Ketika Polri Mau Dipindah ke Kementerian, Alarm Reformasi Ikut Bunyi Kamar 307: Malam Saat Tangan Buntung Keluar dari Kolong Ranjang Kutukan Tuyul Turunan: Kekayaan yang Dibayar dengan Nyawa Anak Sendiri Sebulan Jadi Brimob Palsu: Masuk Mako, Ikut Latihan, dan Pegang Senjata Ketahuan Gara-gara Minta Rokok

Internasional

Heboh! Perempuan Turki Ngaku Anak Kandung Donald Trump, Tantang Tes DNA

badge-check


					Seorang perempuan asal Turki mengaku sebagai anak kandung Presiden AS ke-47 Donald Trump. Ia siap membuktikan klaimnya lewat tes DNA dan menempuh jalur hukum demi mengetahui asal-usulnya. Perbesar

Seorang perempuan asal Turki mengaku sebagai anak kandung Presiden AS ke-47 Donald Trump. Ia siap membuktikan klaimnya lewat tes DNA dan menempuh jalur hukum demi mengetahui asal-usulnya.

PRABAINSIGHT.COM – Donald Trump tampaknya belum benar-benar bisa rehat dari drama, bahkan setelah bolak-balik jadi headline dunia. Kali ini, bukan soal pemilu, gedung pengadilan, atau pidato penuh huruf kapital. Seorang perempuan asal Turki muncul ke permukaan dan mengklaim sesuatu yang jauh lebih personal: ia mengaku sebagai putri kandung Presiden Amerika Serikat ke-47 itu.

Namanya Necla Ozmen, warga Ankara berusia 55 tahun. Kepada harian Hurriyet, Ozmen mengaku tidak sedang mengejar sensasi politik atau ingin menambah daftar panjang kontroversi Trump. Ia cuma ingin satu hal yang, menurutnya, sederhana: kepastian asal-usul dirinya.

“Saya hanya ingin tahu apakah dia ayah saya. Saya ingin dia berbicara kepada saya. Kalau dia setuju, tes DNA bisa membuktikannya,” ujar Ozmen, seperti dikutip dari Oddity Central, Rabu (4/2/2026).

Ozmen dibesarkan oleh pasangan Sati dan Dursun Ozmen di Ankara. Selama puluhan tahun, hidupnya berjalan seperti warga Turki kebanyakan sampai tahun 2017, ketika ibunya mengungkap fakta yang cukup mengguncang: Necla ternyata anak adopsi.

Cerita di balik adopsi itu terdengar seperti potongan sinetron internasional. Sang ibu disebut pernah mengalami keguguran. Tak lama kemudian, datang seorang perempuan asal Amerika Serikat bernama Sophia yang menyerahkan seorang bayi perempuan untuk diasuh. Sophia, menurut pengakuan keluarga Ozmen, mengklaim bayi tersebut adalah hasil hubungannya dengan Donald Trump.

Masalahnya, cerita besar butuh bukti besar. Hingga kini, Ozmen tak memiliki dokumen resmi yang bisa langsung menghubungkannya dengan Trump. Klaimnya lebih banyak bertumpu pada dua hal: kemiripan fisik yang ia anggap “terlalu kebetulan” dengan Trump dan anak-anaknya, serta sejumlah kejanggalan dalam dokumen kependudukan yang ia miliki sejak kecil.

Karena itu, Ozmen memilih jalur paling ilmiah sekaligus paling sensitif: tes DNA. Ia berharap Trump bersedia memberikan sampel genetik untuk menghentikan spekulasi yang makin liar.

Namun hukum tidak bekerja dengan logika “mirip dulu, bukti belakangan”. Pada September tahun lalu, Pengadilan Keluarga Ankara menolak permohonan Ozmen untuk tes paternitas. Alasannya klasik tapi krusial: bukti awal dianggap belum cukup kuat. Dalam hukum Turki, permintaan tes DNA apalagi yang menyeret warga negara asing harus ditopang indikasi yang benar-benar signifikan.

Tak mau berhenti, Ozmen mengajukan banding. Ia juga mengirimkan petisi ke Kedutaan Besar Amerika Serikat di Turki serta ke pengadilan di AS. Singkatnya, ia belum menyerah. Baginya, ini bukan soal status, melainkan soal jawaban yang tertunda selama lebih dari setengah abad.

Sampai artikel ini ditulis, belum ada satu pun pernyataan resmi dari Donald Trump atau otoritas Amerika Serikat. Klaim itu dibiarkan menggantung antara kemungkinan nyata, cerita yang kebetulan, atau drama keluarga paling internasional yang pernah melibatkan seorang presiden AS.

Di tengah dunia yang sudah kebal dengan kabar aneh, pengakuan Necla Ozmen tetap sukses membuat orang berhenti sejenak dan bertanya: kalau ini benar, seberapa panjang lagi daftar kejutan dalam hidup Donald Trump?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

32 Warga Tewas, Gencatan Senjata Gaza Resmi Jadi Lelucon Berdarah

1 Februari 2026 - 06:31 WIB

Baru Tiga Bulan Menjabat, PM Jepang Sudah Membubarkan DPR dan Menantang Pemilu

28 Januari 2026 - 14:05 WIB

Qatar Tegaskan AS Tak Berhak Mengatur Kawasan Teluk Meski Miliki Pangkalan Militer

22 Januari 2026 - 05:52 WIB

Kisah Mpok Pipit, ART Indonesia di Rumah Cristiano Ronaldo dengan Gaji Fantastis

2 Januari 2026 - 10:21 WIB

NATO Baca Sinyal Bahaya: Taiwan Bergejolak, Eropa Terancam Eskalasi Rusia

31 Desember 2025 - 10:33 WIB

Trending di Internasional