PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Malam itu, sebelum menutup mata dan menyerah pada lelahnya, seorang driver ojol bernama Irfan Smandu menulis uneg-unegnya yang bikin siapa pun yang baca ikut deg-degan.
Dalam tulisannya yang di kirim ke redaksi prabainsight.com Irfan mempertanyakan: “Mau sampai berapa nyawa lagi driver ojol melayang, karena kelelahan mencari uang?”
Ya, ini bukan dramatisasi. Ini realitas pekerja ojol (ojek online) yang setiap hari mengadu nasib di jalanan, menghadapi sistem yang berubah-ubah dan pendapatan yang terus tergerus.
Potongan Tarif & “Program Gacor” yang Bikin Pusing
Menurut Irfan, pendapatan driver makin menyusut karena sejumlah kebijakan aplikator:
- Anyeb lah istilah Irfan untuk monopoli orderan bagi driver yang tidak ikut program resmi aplikator.
- Potongan Rp 20.000/hari – program Gacor atau Hemat yang katanya “untuk kebaikan” tapi bikin penghasilan tipis.
- Potongan Rp 3.000/shift – Gaspol Grab dan kebijakan lain yang “banyak banget, kalau ditulis satu per satu bisa bikin novel”.
- Sistem berubah setiap 3–6 bulan – bukan demi lebih baik, tapi sering kali justru memberatkan driver.
Intinya, kerja keras driver ojol seringkali tak sebanding dengan penghasilan, dan mereka harus menempuh jalanan dalam kondisi lelah demi sekadar memenuhi kebutuhan hidup.
Payung Hukum Tak Jelas, Nyawa Taruhan
Irfan juga menyoroti soal payung hukum: sampai sekarang, driver ojol masih minim perlindungan hukum. Tak ada regulasi yang mengatur batas jam kerja, kompensasi lelah, atau mekanisme gaji tetap. Akibatnya, banyak driver yang rela “memaksakan diri” demi uang, meski risiko kecelakaan meningkat.
Tulisan Irfan ditutup dengan semangat juang:
“#keepfighting #abislebarankitagaslagi #Bismillahpastiadajalan”
Sebuah pengingat keras: di balik layanan cepat ojol yang kita nikmati, ada manusia yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi. (Van)







