Menu

Mode Gelap
Ceramah di Kolong Tol, Ustadz Endang: Harta dari Judol dan Pinjol Bisa Jadi Petaka iPhone Rp2 Juta Berujung Parang: Drama Emosi Pembeli di Toko HP Medan yang Viral Ketua Golkar Malra Nus Kei Tewas Ditusuk di Bandara, Salah Satu Pelaku Diduga Atlet MMA Menggugat Sistem Global, Haidar Alwi Dorong Emas Rakyat Jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi RI Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan PHI Group Borong 2 Penghargaan di Grand Honors 2026, Ekspansi 27 Hotel dan Bidik Pasar ASEAN

News

“Mau Sampai Kapan Nyawa Driver Ojol Melayang?” Curhatan Irfan Smandu soal Kelelahan dan Potongan Tarif

badge-check


					Irfan Yunus Ketua Umum Lintas Gajah Mada (Istimewa) Perbesar

Irfan Yunus Ketua Umum Lintas Gajah Mada (Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Malam itu, sebelum menutup mata dan menyerah pada lelahnya, seorang driver ojol bernama Irfan Smandu menulis uneg-unegnya yang bikin siapa pun yang baca ikut deg-degan.

Dalam tulisannya yang di kirim ke redaksi prabainsight.com Irfan mempertanyakan: “Mau sampai berapa nyawa lagi driver ojol melayang, karena kelelahan mencari uang?”

Ya, ini bukan dramatisasi. Ini realitas pekerja ojol (ojek online) yang setiap hari mengadu nasib di jalanan, menghadapi sistem yang berubah-ubah dan pendapatan yang terus tergerus.

Potongan Tarif  & “Program Gacor” yang Bikin Pusing

Menurut Irfan, pendapatan driver makin menyusut karena sejumlah kebijakan aplikator:

  • Anyeb lah istilah Irfan untuk monopoli orderan bagi driver yang tidak ikut program resmi aplikator.
  • Potongan Rp 20.000/hari – program Gacor atau Hemat yang katanya “untuk kebaikan” tapi bikin penghasilan tipis.
  • Potongan Rp 3.000/shift – Gaspol Grab dan kebijakan lain yang “banyak banget, kalau ditulis satu per satu bisa bikin novel”.
  • Sistem berubah setiap 3–6 bulan – bukan demi lebih baik, tapi sering kali justru memberatkan driver.

Intinya, kerja keras driver ojol seringkali tak sebanding dengan penghasilan, dan mereka harus menempuh jalanan dalam kondisi lelah demi sekadar memenuhi kebutuhan hidup.

Payung Hukum Tak Jelas, Nyawa Taruhan

Irfan juga menyoroti soal payung hukum: sampai sekarang, driver ojol masih minim perlindungan hukum. Tak ada regulasi yang mengatur batas jam kerja, kompensasi lelah, atau mekanisme gaji tetap. Akibatnya, banyak driver yang rela “memaksakan diri” demi uang, meski risiko kecelakaan meningkat.

Tulisan Irfan ditutup dengan semangat juang:

“#keepfighting #abislebarankitagaslagi #Bismillahpastiadajalan”

Sebuah pengingat keras: di balik layanan cepat ojol yang kita nikmati, ada manusia yang bertaruh nyawa demi sesuap nasi. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ceramah di Kolong Tol, Ustadz Endang: Harta dari Judol dan Pinjol Bisa Jadi Petaka

21 April 2026 - 19:43

Dari Rp200 Ribu ke Rp311 Juta: Drama Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) yang Bikin Dompet Mau Pensiun Dini

20 April 2026 - 14:56

Mahasiswa UNPAM Desak Pengusutan Tuntas Kasus Penyerangan Andrie Yunus hingga Aktor Intelektual

18 April 2026 - 15:07

Seleknas KKI 2026 Digelar, OSO: Menang Kalah Biasa, Kejujuran yang Utama

18 April 2026 - 14:02

Masuknya MBG ke Pos Pendidikan Dipertanyakan MK: Kebijakan atau Akal-akalan Anggaran?

18 April 2026 - 08:48

Trending di News