KOLOM ANGKER – Aku tidak pernah percaya pada hal-hal gaib.
Bagiku, dunia ini sederhana kalau tidak bisa disentuh, berarti tidak ada.
Tapi malam itu…
semua keyakinanku hancur.
Dan yang lebih mengerikan
istriku… melahirkan dibantu oleh sesuatu yang bukan manusia.
MALAM YANG SALAH
Namaku Sarman. Orang pasar memanggilku Sarman Kerempeng.
Malam itu seharusnya biasa saja.
Aku hanya ingin pulang.
Hanya itu.
Namun sejak awal… ada sesuatu yang terasa tidak tepat.
Gerimis turun pelan. Jalanan lengang. Lampu-lampu tampak redup, seperti hampir mati. Becak yang kami tumpangi berderit setiap beberapa detik, seperti menjerit kesakitan.
Lalu
Cessssss…
Ban belakang kempes.
Suara itu terlalu keras untuk malam sesunyi itu.
Aku dan istriku turun.
Dan sejak saat itu… semuanya berubah.
KESUNYIAN YANG HIDUP
Kami berjalan.
Awalnya masih terdengar suara jangkrik.
Lalu pelan-pelan…
hilang.
Satu per satu suara malam lenyap.
Sampai akhirnya
sunyi total.
Bukan sunyi biasa.
Sunyi yang seperti… menelan suara.
Seperti dunia ini tiba-tiba hanya menyisakan kami berdua.
Aku mulai merasa diawasi.
Tapi setiap kali menoleh
tidak ada apa-apa.
KONTRAKSI
“Mas… sakit…”
Suara istriku pecah.
Tangannya mencengkeram lenganku.
Kuat.
Terlalu kuat.
Aku melihat wajahnya.
Pucat.
Matanya seperti… kosong sesaat.
Aku merinding.
“Mas… dia… dia nendang keras banget…”
Aku mencoba tenang.
Tapi saat itu aku sadar
perutnya bergerak.
Bukan seperti bayi menendang.
Tapi seperti ada sesuatu…
yang mendorong dari dalam… dengan paksa.
CAHAYA DI UJUNG JALAN
Saat hampir putus asa
aku melihatnya.
Cahaya terang.
Bangunan besar.
Ramai.
Rumah sakit.
Seperti… muncul begitu saja di tengah kegelapan.
Harapan langsung datang.
Terlalu cepat.
Terlalu mudah.
Dan aku tidak curiga sama sekali.
BIDAN ITU SUDAH MENUNGGU
Kami belum sempat bicara.
Belum sempat menjelaskan.
Tapi
“Cepat… bawa ke dalam.”
Bidan itu sudah berdiri di depan kami.
Seolah… dia memang sudah menunggu.
Seolah… dia tahu kami akan datang.
Aku sempat terdiam.
Aku tidak mendengar langkahnya datang.
Tidak sama sekali.
LORONG YANG TERLALU PANJANG
Kami masuk.
Lorongnya…
panjang.
Terlalu panjang.
Belok satu.
Belok lagi.
Belok lagi.
Dan setiap belokan
rasanya semakin jauh dari dunia luar.
Suara-suara mulai berubah.
Awalnya ramai.
Lalu meredup.
Lalu… hilang.
PROSES YANG TERLALU CEPAT
Istriku berteriak.
Aku di luar.
Tangannya sempat meraih pintu
“Mas… jangan tinggalin aku…”
Aku hampir masuk.
Tapi
BRAK!
Pintu tertutup sendiri.
Aku membeku.
Padahal tidak ada angin.
SUARA YANG SALAH
“Ayo… dorong…”
Suara bidan itu terdengar.
Tapi sekarang…
ada gema.
Seperti dua suara yang bertumpuk.
Satu lembut.
Satu lagi… serak dan dalam.
Seperti bukan dari tenggorokan manusia.
Aku mundur satu langkah.
Jantungku mulai tidak beres.
Tiba-tiba
TANGAN MENYENTUH BAHUKU.
Aku langsung menoleh cepat.
Tidak ada siapa-siapa.
Tapi…
aku masih merasakan sentuhannya.
Dingin.
Basah.
Seperti tangan orang yang sudah lama mati.
TANGISAN
Lalu
BAYI MENANGIS.
Nyaring.
Keras.
Tapi anehnya…
tidak terdengar seperti tangisan biasa.
Ada nada… melengking.
Seperti tertawa di balik tangisan itu.
Aku merinding hebat.
BAYI ITU DIBERIKAN PADAKU
Pintu terbuka perlahan.
Bidan itu keluar.
Menggendong bayiku.
Senyumnya… terlalu lebar.
Matanya tidak berkedip.
“Anakmu sehat…”
Tangannya menyentuhku.
Dan
dingin.
Bukan dingin manusia.
Dingin seperti… memegang batu nisan.
Aku refleks menarik bayi itu.
Dan saat aku berkedip
bidan itu sudah tidak ada di depanku.
Padahal tadi… hanya satu langkah jaraknya.
REALITAS MULAI RETAK
Aku masuk ke dalam.
Istriku tersenyum lemah.
Tapi…
lampu mulai redup.
Perlahan.
Satu per satu.
Klik…
Gelap.
Aku menyalakan korek.
Dan saat api menyala
ruangan itu berubah.
Temboknya…
retak.
Catnya mengelupas.
Langit-langitnya hitam penuh jamur.
Bau busuk langsung menusuk hidung.
Seperti bau bangkai yang lama tersembunyi.
Tawa ITU KEMBALI
Dari lorong
Hihihihihihi…
Tawa.
Melengking.
Dekat.
Sangat dekat.
Aku menoleh.
Dan kali ini
aku melihatnya.
WAJAH ASLINYA
Dia berdiri di ujung lorong.
Bidan itu.
Tapi sekarang
kepalanya miring tidak wajar.
Rambutnya menutupi wajah.
Lalu perlahan…
ia mengangkat wajahnya.
Dan
MATA ITU HITAM. KOSONG.
Mulutnya terbuka lebar.
Terlalu lebar.
Hingga hampir sobek ke telinga.
Dalam satu detik
dia sudah di depan pintu.
Tanpa berjalan.
Tanpa suara.
Langsung.
Di sana.
Aku bahkan tidak melihat dia bergerak.
Hanya
tiba-tiba sudah dekat.
KEGELAPAN TOTAL
Aku memeluk istriku.
Memeluk bayiku.
“Jangan lihat!”
Tawa itu tepat di depan kami.
Lalu
sunyi.
Total.
Dan semuanya…
hitam.
PAGI YANG TIDAK MASUK AKAL
Aku membuka mata.
Matahari sudah tinggi.
Aku terbaring di luar.
Di depan bangunan.
Aku langsung berdiri.
Mencari istriku.
Dia ada.
Memeluk bayi kami.
Menangis.
Selamat.
Tapi saat aku menoleh
aku berharap itu semua hanya mimpi.
TIDAK ADA RUMAH SAKIT
Bangunan itu…
kosong.
Rusak.
Tua.
Tidak ada listrik.
Tidak ada orang.
Tidak ada kehidupan.
Yang tadi malam terang…
sekarang hanya bangkai bangunan.
FAKTA YANG LEBIH MENAKUTKAN
Seorang warga berkata
Rumah sakit itu…
sudah lama tutup.
Bertahun-tahun.
Dan kami…
bukan yang pertama.
YANG HILANG
Ada satu hal yang tidak pernah kami temukan.
Sampai hari ini.
Sesuatu yang seharusnya ada setelah kelahiran.
Sesuatu yang selalu ada.
Ari-ari anak kami… hilang.
Dan sejak hari itu…
aku tidak pernah lagi meragukan satu hal
Tidak semua yang menolong…
adalah manusia.
Dan tidak semua yang tersenyum…
berniat baik.
Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.











