Menu

Mode Gelap
Heboh Dugaan Pelecehan Mantan Pelatih Pramuka SMPN 4 Bekasi, KPAD: Jangan Takut Melapor! Pocong Menangis di Kota Mati Lampung Parkir Liar di Depan RS Hermina Bekasi Kambuh, Dishub: Besok Kami Monitor Geger SE Larangan Hajatan Teluk Pucung Dicabut, Lurah: Saya Siap Dipindah Pemkot Bekasi Usulkan 458 Formasi CPNS 2026, Guru Paling Banyak Dicari! Perkuat Daya Saing UMKM, DPRD Jabar dan Pemkot Bekasi Sinkronkan Kebijakan

Kolom Angker

Pocong Menangis di Kota Mati Lampung

badge-check


					Foto ilustrasi (AI) Perbesar

Foto ilustrasi (AI)

KOLOM ANGKER – Pengakuan Sopir yang Hampir Tidak Pernah Pulang

Malam itu… Lampung terasa berbeda.

Bukan karena hujan.

Bukan karena angin.

Tapi karena sesuatu… menunggu.

Wilayah Kota Baru di Jati Agung sudah lama disebut orang sebagai kota mati.

Proyek raksasa yang dulu dielu-elukan gedung pemerintahan, jalan lebar, rumah sakit semuanya kini hanya rangka beton tanpa jiwa.

Siang hari saja terasa sunyi.

Apalagi malam.

Gelap di sana bukan sekadar ketiadaan cahaya.

Tapi seperti… sesuatu yang menelan suara.

Dan aku… bodohnya… masuk ke sana.

Pesanan yang Tidak Seharusnya Diterima

Sekitar pukul delapan malam, aplikasi berbunyi.

Order masuk.

Lokasi penjemputan: pinggiran Bandar Lampung.

Tujuan: Jati Agung.

Aku tidak curiga.

Sampai aku melihat penumpangnya.

Satu keluarga.

Ayah, ibu… dan dua anak kecil.

Mereka berdiri diam di pinggir jalan.

Tidak melambaikan tangan.

Tidak bicara.

Hanya… menatap mobilku.

Diam. Terlalu diam.

Aku menurunkan kaca.

“Ke mana, Pak?”

Si ayah menjawab singkat, datar

“Kota Baru.”

Nada suaranya… seperti orang yang berbicara dari jauh.

Sangat jauh.

Perjalanan Tanpa Suara

Sepanjang jalan… tidak ada percakapan.

Anak-anak itu duduk diam.

Tidak bergerak. Tidak bersuara.

Tidak berkedip.

Aku sempat melirik lewat spion

DUK!

Salah satu anak tiba-tiba sudah tepat di belakang kursiku.

Padahal… tadi dia duduk di samping.

Aku hampir banting setir.

“Kenapa, Mas?” suara si ibu lembut… terlalu lembut.

Aku menelan ludah.

“M-maaf…”

Saat kulihat lagi ke spion

Anak itu sudah kembali di tempatnya.

Seolah… tidak pernah bergerak.

Kota yang Seharusnya Mati

Semakin jauh kami masuk, jalanan berubah.

Aspal retak.

Lampu jalan hilang.

Gelap… panjang… tanpa ujung.

Lalu… aku melihatnya.

Di kejauhan

sebuah kota.

Gedung-gedung besar.

Lampu menyala terang.

Seperti kota hidup.

Padahal aku tahu… tempat itu kosong.

Tapi anehnya… pikiranku seperti ditenangkan.

Seolah ada yang berbisik

“Ini normal… ini wajar…”

JAMUAN TERAKHIR

“Kita sudah sampai.”

Mobil berhenti.

Bangunan besar berdiri di depanku.

Terlihat hangat. Hidup.

Aku diajak masuk.

Aku menolak.

Tapi si ibu tersenyum…

Dan saat itu juga

JANTUNGKU SEPERTI DIREMAS.

“Mas… jangan menolak undangan kami…”

Suaranya berubah.

Dalam.

Bergaung.

Seperti… lebih dari satu orang berbicara bersamaan.

Aku… tidak bisa berkata tidak.

Di dalam…

Lampu terang.

Meja makan penuh makanan.

Hangat.

Normal.

Terlalu normal.

Aku makan.

Suapan pertama… biasa.

Suapan kedua…

Ketiga…

Kesepuluh…

Aku tidak berhenti.

Aku tidak bisa berhenti.

Perutku penuh tapi tanganku terus bergerak sendiri.

Aku mulai panik.

“A-aku sudah kenyang”

Si ayah menatapku.

Matanya… hitam.

Kosong.

“Habiskan.”

WAJAH ASLI

Aku menoleh ke arah si ibu

PLAK!

Wajahnya…

TERBELAH.

Mulutnya memanjang sampai telinga.

Giginya hitam, runcing, penuh darah.

Aku teriak

Dan semuanya… langsung gelap.

TERBANGUN DI NERAKA BETON

Aku terbangun.

Pelan.

Tubuhku terasa dingin.

Basah.

Bau tanah… menyengat.

KREK… KREK…

Ada suara di sampingku.

Seperti kain ditarik.

Pelan… menyeret.

Aku menoleh.

Dan saat itulah

POCO NG MENANGIS

SEBUAH WAJAH PUTIH TIBA-TIBA HANYA SEJENGKAL DARI MATAMU.

Pocong.

Kainnya kotor.

Basah tanah.

Matanya cekung.

Dan… dia menangis.

Air hitam mengalir dari balik kain.

“Antar… saya pulang… Bang…”

Suaranya serak.

Seperti dari dalam kubur.

Aku tidak bisa bergerak.

Tubuhku kaku.

“Sa… saya di bawah… beton ini…”

Dia mulai merintih.

“Dikubur… hidup-hidup…”

KESADARAN PALING MENAKUTKAN

Aku melihat sekeliling.

Tidak ada meja makan.

Tidak ada lampu.

Tidak ada keluarga.

Aku… terbaring di bangunan kosong.

Langit-langit runtuh.

Dinding retak.

Rumput liar tumbuh di dalam ruangan.

Dan sesuatu yang lebih mengerikan…

Tanganku.

Kotor.

Penuh tanah.

Dan… sisa makanan yang tadi kumakan

BERUBAH JADI BELATUNG YANG MASIH BERGERAK DI TELAPAKKU.

LOMPATAN MENDADAK

DUK! DUK! DUK!

Pocong itu tiba-tiba meloncat

Mendekat.

Cepat.

Lebih cepat.

Lebih dekat

HINGGA WAJAHNYA HAMPIR MENEMPEL KE WAJAHKU.

Tangisnya pecah.

Keras.

Menusuk.

“Tolong… Bang… mereka… masih di sini…”

KELUARGA ITU…

Aku berlari keluar.

Terengah.

Mobilku masih ada.

Aku hampir masuk

TOK!

Seseorang mengetuk kaca.

Perlahan.

Aku menoleh

Di luar kaca…

KEEMPAT PENUMPANGKU BERDIRI.

Wajah mereka pucat.

Mata mereka… hitam semua.

Dan anak kecil itu

TERSENYUM LEBAR SAMPAI SOBEK KE PIPI.

“Mas… kita belum sampai…”

Aku langsung menyalakan mobil.

Gas.

Pergi.

Tanpa melihat ke belakang.

Tapi…

Di spion

Aku masih melihat mereka.

Berdiri.

Tidak bergerak.

Menatapku.

Dan di antara mereka…

Pocong itu…

Masih menangis.

EPILOG

Sampai sekarang…

Aku masih sering dapat order…

Dari lokasi yang sama.

Dengan nama yang sama.

Dan setiap malam…

Kadang…

Aku mendengar suara itu…

di kursi belakang mobilku.

“Antar… saya pulang… Bang…”


Disclaimer: Tulisan ini bersifat fiktif dan terinspirasi dari cerita rakyat serta legenda urban di masyarakat. PRABA INSIGHT senantiasa menjunjung nilai jurnalistik berimbang dan menyajikan informasi yang dapat dipercaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

“Kami Ditolong… atau Dijebak? Kisah Melahirkan di Rumah Sakit Gaib”

2 April 2026 - 16:39 WIB

Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun

26 Maret 2026 - 16:05 WIB

Malam di Kampung Setan: Aku Melihat Mereka Menari Tanpa Kepala

19 Maret 2026 - 15:35 WIB

“Jangan Pernah Masuk Hutan Cangar Sendirian: Ada Sesuatu yang Menunggu di Gubuk Itu”

5 Maret 2026 - 15:57 WIB

Teror Kuburan Mawar Biru: Sosok Perempuan Kelaparan yang Menggali Mayat Anak

5 Maret 2026 - 15:44 WIB

Trending di Kolom Angker