Menu

Mode Gelap
Update Samsat Keliling Jabodetabek: Jadwal, Lokasi, dan Syarat Perpanjang STNK 2026 Harga Miring, Risiko Ngeri: Ini Perbedaan Siomai Tenggiri dan Sapu-Sapu Menurut DKPKP Tak Lagi Tinggal di Pinggir Rel: Pemerintah Siapkan 131 Ribu Potensi Hunian Baru di Sekitar Jalur KAI ASICS Rilis GEL-KAYANO ACE 3 di Tee Day Off 2026, Sepatu Golf yang Janjikan Performa Stabil dan Nyaman “Kupeluk Kamu Selamanya”: Film Tentang Ibu yang Terlalu Kuat Sampai Lupa Boleh Rapuh BPI 2026–2030 Resmi Dibentuk, Fauzan Zidni Siapkan Jurus Besar: dari Sekolah Film ke Luar Negeri hingga Perang Lawan Pembajakan

Film

“Kupeluk Kamu Selamanya”: Film Tentang Ibu yang Terlalu Kuat Sampai Lupa Boleh Rapuh

badge-check


					Film Kupeluk Kamu Selamanya tayang 30 April 2026, mengangkat kisah ibu tunggal dan cinta tanpa syarat yang emosional dan manusiawi. Perbesar

Film Kupeluk Kamu Selamanya tayang 30 April 2026, mengangkat kisah ibu tunggal dan cinta tanpa syarat yang emosional dan manusiawi.

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Ada satu mitos yang entah kenapa terus dipelihara: ibu itu harus kuat. Selalu. Tanpa jeda. Tanpa retak.

Film Kupeluk Kamu Selamanya sepertinya datang untuk sedikit “mengganggu” mitos itu pelan-pelan, tapi ngena.

Diproduksi oleh Kuy! Studios bersama Aktina Film, film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 30 April 2026. Sebuah drama keluarga yang nggak cuma menjual air mata, tapi juga ngajak penonton mikir ulang soal cinta, kehilangan, dan berdamai dengan hidup.

Tentang Ibu yang Dipaksa Kuat

Cerita berpusat pada Naya, seorang ibu tunggal yang diperankan oleh Hana Malasan. Hidupnya jauh dari kata ideal.

Ia harus merelakan karier demi merawat anaknya, Aksa (Jared Ali), yang memiliki penyakit bawaan sejak lahir. Di saat yang sama, pernikahannya dengan sang suami (Ibnu Jamil) juga harus berakhir.

Kalau dipikir-pikir, ini paket lengkap ujian hidup.

Saat kondisi Aksa semakin memburuk dan membutuhkan perawatan intensif, Naya bukan cuma diuji sebagai ibu, tapi juga sebagai manusia biasa yang sebenarnya punya batas, tapi sering dipaksa lupa kalau batas itu ada.

Bukan Sekadar Film Sedih

Disutradarai oleh Pritagita Arianegara, film ini masih setia dengan tema yang sering ia angkat: relasi ibu dan anak.

Tapi di sini, pendekatannya terasa lebih intim—seolah penonton diajak masuk ke ruang paling personal seorang ibu, tempat di mana cinta dan kelelahan bercampur tanpa filter.

“Saya ingin penonton pulang dan menyadari, bahwa kita memiliki cinta yang tidak akan pernah selesai, yakni cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, ketika cinta itu selesai, itu menjadi sebuah kenangan yang juga tidak akan pernah akan hilang,” ujar Pritagita Arianegara.

Kalimat yang terdengar puitis, tapi kalau dipikir lama, juga agak menohok.

Rapuh Itu Boleh, Kata Naya

Lewat karakter Naya, Hana Malasan mencoba menunjukkan sisi yang sering diabaikan: ibu juga manusia.

“Naya mengajarkan kita untuk jangan lupa meminta tolong. Tidak apa-apa jika kita terlihat rapuh, karena itu sangat manusiawi. Rapuh itu juga bagian dari emosi manusia yang harus kita terima,” ujar Hana Malasan.

Dan mungkin di titik ini, filmnya mulai terasa dekat karena siapa pun pasti pernah ada di posisi itu: ingin terlihat kuat, padahal sebenarnya lagi butuh pegangan.

Hana juga menambahkan:

“Film ini sebenarnya juga cerita tentang perjuangan seorang ibu untuk bisa berdamai dengan kehidupan. Karena sebenarnya seorang ibu yang sudah berdamai dengan hidupnya sendiri, akan terefleksi ke orang-orang sekitar. Terkadang itu yang dilupakan, karena terlalu fokus untuk menjadi ibu yang kuat dan sempurna, padahal sebenarnya ibu juga manusia, dan manusia tidak sempurna.”

Dunia yang Nggak Hitam-Putih

Menariknya, film ini nggak menawarkan karakter yang sepenuhnya baik atau jahat.

Bagi Ibnu Jamil, justru di situlah letak kekuatannya.

“Film ini adalah perjuangan orangtua tunggal dengan segala macam bentuk cara dan keterbatasannya untuk merawat anaknya. Hebatnya, tidak ada yang antagonis, karena di dunia nyata pun tidak ada yang hitam-putih, tergantung melihatnya bagaimana, setiap orang punya sudut pandang masing-masing,” ungkap Ibnu Jamil.

Kalau dipikir lagi, memang begitu kan hidup? Jarang ada yang benar-benar salah atau benar. Yang ada cuma pilihan dan konsekuensinya.

Debut, Kolaborasi, dan Cerita yang Terasa Dekat

Film ini juga jadi langkah baru bagi beberapa nama. Dinda Hauw menjalani debutnya sebagai produser bersama Dara Dwitanti. Sementara Sean Gelael ikut terlibat sebagai produser eksekutif bersama Angga Dwimas Sasongko.

Deretan pemain lainnya seperti Fanny Ghassani, Nissy Meinard, Vonny Anggraini, Yurike Prastika, Mario Irwinsyah, hingga Leroy Osmani juga ikut memperkaya cerita yang sebenarnya sederhana, tapi emosinya berlapis.

Film yang Nggak Cuma Ditonton, Tapi Dirasakan

Kupeluk Kamu Selamanya bukan tipe film yang selesai begitu lampu bioskop menyala lagi. Ia cenderung “ikut pulang” nempel di kepala, mungkin juga di hati.

Terutama buat kamu yang pernah merasa harus kuat sendirian.

Film ini tayang mulai 30 April 2026 di bioskop Indonesia. Dan seperti tagarnya: #CintaTanpaSyarat yang ternyata nggak selalu indah, tapi selalu ada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

BPI 2026–2030 Resmi Dibentuk, Fauzan Zidni Siapkan Jurus Besar: dari Sekolah Film ke Luar Negeri hingga Perang Lawan Pembajakan

25 April 2026 - 11:09

Sekawan Limo 2 Tayang Mei 2026: Dari Reuni Santai Berujung Teror Pesugihan

21 April 2026 - 11:48

Film Na Willa Satukan Kembali Reda Gaudiamo dan Sahabat Lama, Tangis Pecah di Bioskop

1 April 2026 - 10:03

Lewat ‘Na Willa’, Bioskop Lebaran Tahun Ini Punya Cerita Hangat tentang Dunia Anak

9 Maret 2026 - 14:11

Blok M Mendadak Mistis: Luna Maya Perkenalkan Film “Santet Dosa di Atas Dosa”

2 Maret 2026 - 14:07

Trending di Film