PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Rumah besar memang sering diasosiasikan dengan rasa aman. Pagar tinggi, desain modern, sistem keamanan canggih, semuanya seolah memberi kesan: hidup di dalamnya bakal jauh dari bencana. Tapi kebakaran di rumah anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Haerul Saleh, di Jagakarsa, Jakarta Selatan, jadi pengingat pahit bahwa api tidak pernah peduli status sosial.
Rumah mewah yang disebut bernilai sekitar Rp12 miliar itu kini justru jadi perhatian publik setelah terbakar hebat dan menewaskan pemiliknya sendiri pada Jumat, 8 Mei 2026.
Foto dan video pascakebakaran yang beredar di media sosial langsung memancing perhatian warganet. Bukan cuma karena korbannya merupakan pejabat negara, tetapi juga karena kondisi rumah yang sebelumnya dikenal megah kini berubah penuh bekas hangus.
Dalam sejumlah dokumentasi yang beredar, bagian atap rumah terlihat rusak parah. Dinding menghitam akibat jilatan api, sementara puing material bangunan tampak berserakan di beberapa sudut area rumah.
Ruangan yang disebut sebagai ruang kerja pribadi Haerul Saleh juga dilaporkan ikut terdampak kebakaran.
Suasana rumah pascakejadian terlihat jauh dari gambaran hunian elite Jakarta Selatan yang biasanya tenang dan tertutup. Bekas pemadaman masih terlihat di sejumlah bagian bangunan, sementara aparat kepolisian dan petugas terkait tampak hilir mudik melakukan pemeriksaan.
Menurut informasi yang beredar, warga sekitar pertama kali menyadari kebakaran setelah melihat asap tebal membubung dari bagian atas rumah pada Jumat, 8 Mei 2026.
Tak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran datang ke lokasi untuk melakukan proses pemadaman api agar kobaran tidak meluas ke area sekitar.
Kabar meninggalnya Haerul Saleh dalam insiden tersebut langsung memunculkan gelombang belasungkawa dari berbagai pihak. Sosok Haerul diketahui merupakan anggota BPK RI yang cukup dikenal di lingkungan kerjanya.
Di balik sorotan publik terhadap rumah mewah tersebut, penyebab kebakaran kini ikut menjadi perhatian. Dugaan awal kebakaran disebut berasal dari sisa tiner bekas renovasi dan cairan kimia yang berada di ruang kerja korban.
Karena itu, kepolisian turut melibatkan Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) untuk menyelidiki lebih lanjut sumber pasti munculnya api.
Di media sosial, perhatian publik bukan hanya tertuju pada sosok korban, tetapi juga pada kondisi rumah mewah yang terbakar. Banyak netizen mengaku prihatin, sementara sebagian lainnya menyoroti bagaimana kebakaran tetap bisa terjadi bahkan di rumah dengan nilai fantastis.
Di balik komentar-komentar itu, ada satu hal yang kembali disadari banyak orang: kebakaran sering datang tanpa aba-aba.
Instalasi listrik, bahan kimia mudah terbakar, hingga sistem keamanan rumah menjadi faktor yang kembali ramai diperbincangkan setelah kejadian ini.
Sebagian masyarakat juga mengingatkan pentingnya alat pencegah kebakaran sederhana seperti smoke detector, APAR, hingga pengecekan rutin instalasi listrik dan penyimpanan bahan kimia di rumah.
Sebab dalam banyak kasus, api sering muncul dari hal-hal kecil yang awalnya dianggap sepele.
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran masih dalam proses penyelidikan pihak berwenang. Polisi bersama petugas terkait masih mengumpulkan keterangan saksi dan memeriksa kondisi bangunan untuk memastikan sumber awal api.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa musibah bisa datang ke siapa saja tanpa melihat jabatan, rekening, ataupun luas rumah yang dimiliki.
Karena ketika api mulai membesar, tembok mahal dan interior mewah sering kali tak punya banyak arti.







