Menu

Mode Gelap
Ketika Sertifikat Dipersoalkan, Warga Kwini 8 Memilih Mengadu ke DPRD, Ombudsman, dan BPN Roy Suryo Menggugat, Polda Metro Santai: “Semua Sudah Sesuai SOP” Rp55 Juta Sudah Dibayar, Tiga Pemuda di Percetakan Mau Print Tetap Disekap, Pelaku Minta Rp150 Juta Komarudin Watubun Santai Soal Jokowi Injak Kepala Kerbau: “PDIP Itu Kepala Banteng, Bukan Kerbau” Spitze Sentosa Indonesia Punya Resep Bikin Kantor Betah: Badminton Bareng Tanpa Sekat Jabatan Charma Afrianto Minta KPK Dalami Pengelolaan Anggaran Palembang Usai Geledah BPK Sumsel

Sport

Spitze Sentosa Indonesia Punya Resep Bikin Kantor Betah: Badminton Bareng Tanpa Sekat Jabatan

badge-check


					Sejumlah karyawan PT Spitze Sentosa Indonesia mengikuti kegiatan badminton bersama di Kabupaten Bekasi, Kamis (25/6/2026). (Istimewa) Perbesar

Sejumlah karyawan PT Spitze Sentosa Indonesia mengikuti kegiatan badminton bersama di Kabupaten Bekasi, Kamis (25/6/2026). (Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – BEKASI – Di banyak tempat kerja, bos dan karyawan sering dipisahkan oleh sesuatu yang tak kasat mata. Bukan tembok, bukan pintu kaca, melainkan rasa sungkan. Di ruang rapat, bawahan memilih diam. Di lantai produksi, ide bagus kadang mentok karena bingung harus ngomong ke siapa.

Namun, suasana seperti itu coba dipatahkan oleh PT Spitze Sentosa Indonesia dengan cara yang sederhana: badminton.

Setiap Kamis sore, ketika ritme produksi mulai melambat, lapangan badminton menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang sehari-hari punya jabatan berbeda. Direksi, manajer, supervisor, hingga operator produksi berdiri di lapangan yang sama. Nggak ada kursi paling depan, nggak ada ruang VIP. Yang ada cuma raket, kok, dan keinginan menang.

Perusahaan manufaktur injection plastik di Kabupaten Bekasi ini sengaja menjadikan badminton sebagai agenda rutin. Alasannya sederhana. Investasi pada manusia dianggap sama pentingnya dengan investasi pada mesin produksi.

Assistant General Manager PT Spitze Sentosa Indonesia, Loissa, mengatakan badminton dipilih karena bisa dimainkan siapa saja tanpa memandang usia maupun posisi di perusahaan.

“Kami nggak anti padel. Tapi badminton itu demokratis. Direksi bisa satu tim sama operator. Nggak ada senior-junior, yang ada cuma tim A vs tim B,” kata Loissa dalam keterangannya, Kamis, 25 Juni 2026.

Kalimat itu terdengar santai, tetapi pesannya cukup jelas. Ketika jabatan ditinggalkan sejenak di pinggir lapangan, komunikasi menjadi lebih mudah.

Obrolan Penting Kadang Justru Muncul Setelah Pertandingan

Di lingkungan kerja formal, orang sering berhitung sebelum berbicara. Takut salah. Takut dianggap mengkritik. Takut idenya mentah.

Di lapangan badminton, situasinya berbeda. Setelah pertandingan selesai dan napas mulai kembali normal, obrolan mengalir begitu saja. Mulai dari candaan, cerita keluarga, sampai pembahasan pekerjaan.

Menurut Loissa, tidak sedikit ide maupun masukan mengenai proses produksi lahir dari percakapan santai semacam itu.

Artinya, membangun budaya komunikasi ternyata tidak selalu harus lewat rapat panjang atau seminar motivasi. Kadang cukup dimulai dari saling berteriak, “Out!” atau “Pindah lapangan!”

Biar Badan Sehat, Pikiran Juga Nggak Sumpek

Rutinitas produksi di industri manufaktur menuntut konsentrasi tinggi. Karena itu, perusahaan menilai olahraga bersama menjadi cara untuk menjaga kebugaran sekaligus membantu karyawan melepas penat.

Ilotna, salah seorang karyawan PT Spitze Sentosa Indonesia, merasakan sendiri perubahan suasana setelah rutin mengikuti badminton setiap Kamis.

“Abis main bareng, enak ngomongnya. Jadi nggak sungkan ngasih ide ke atasan,” ujar Ilotna.

Baginya, hubungan yang lebih cair membuat penyampaian ide maupun usulan perbaikan terasa lebih natural dibandingkan saat berada di area kerja.

Budaya Kerja Nggak Selalu Dibangun Lewat Aturan

Sebagai perusahaan manufaktur injection plastik yang melayani kebutuhan komponen presisi untuk industri otomotif dan elektronik, PT Spitze Sentosa Indonesia memiliki ratusan karyawan.

Di tengah persaingan industri yang semakin ketat, perusahaan memilih membangun budaya kerja melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produktivitas, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan merasa nyaman untuk bertahan.

Bagi Ilotna, badminton bukan lagi sekadar olahraga mingguan.

“Kerja keras iya, mainnya juga iya. Kamis tuh recharge kita. Makanya betah di sini,” katanya.

Barangkali memang begitu. Sebab kantor yang sehat bukan hanya soal target yang tercapai atau mesin yang bekerja tanpa henti. Kadang, kantor yang menyenangkan justru lahir dari satu lapangan badminton, beberapa raket, dan kesempatan bagi semua orang untuk saling mengenal tanpa membawa jabatan masing-masing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketika Qatar Jadi Sasaran Empuk Kanada: Kalah 0-6 dan Dipermalukan Sepanjang Laga

19 Juni 2026 - 21:13

Mau Nonton Inggris di Piala Dunia 2026? FIFA Punya Daftar Larangan yang Bisa Bikin Suporter Langsung Diusir

17 Juni 2026 - 16:47

Saat Sneaker Tak Lagi Sekadar Alas Kaki: ASICS dan Isa Boulder Meracik Bali ke Dalam HYPERSYNC

17 Juni 2026 - 16:35

Duel Panas Persija vs Persib “Diasingkan” ke Samarinda, Ternyata Ini Alasannya

6 Mei 2026 - 20:11

ASICS Rilis GEL-KAYANO ACE 3 di Tee Day Off 2026, Sepatu Golf yang Janjikan Performa Stabil dan Nyaman

25 April 2026 - 11:29

Trending di Lifestyle