Menu

Mode Gelap
Modus Janji Kredit Miliaran, Dwi Febrie Endaryanto Resmi Dilaporkan ke Polda Metro Jaya Status Febrie Adriansyah Resmi Jadi Tersangka, Ditahan Tanpa Borgol dan Rompi Pink: Privilege atau SOP? DPC PKB Kota Bekasi Patok Target 7 Kursi di Pemilu 2029 di Harlah ke-28 Pidato Prabowo Lagi-Lagi Bikin Ramai: Kali Ini Jurnalis, LSM, dan Pengamat Disebut “Londo Ireng” Video Alphard Terobos Lampu Merah Viral, Pramono Minta Satpam Tak Dipecat dan Polisi Bertindak Tegas Heboh Suzuki Thunder Dilarang Isi BBM, Pertamina Akhirnya Buka Suara

Opini

Bongkar Kelicikan Ade Armando, Potong Ceramah JK Demi Adsense dan Balas Dendam Politik.

badge-check

Foto ilustrasi (istimewa) Perbesar

Foto ilustrasi (istimewa)

Ditulis Oleh : Hasim Arsal Alhabsi

PRABAINSIGHT.COM – Kasus tuduhan penistaan agama yang diarahkan kepada Jusuf Kalla kini memasuki babak baru yang jauh lebih gelap. Usut punya usut, kemarahan publik ternyata sengaja dipancing lewat sebuah modus operandi licik yang dimainkan oleh kanal Cokro TV khususnya melalui sosok Ade Armando.

Mari kita bedah anatomi manipulasi informasi dan blunder intelektual yang sedang dipertontonkan kepada publik ini:

– Seni Licik Memotong Kebenaran.
Video yang beredar luas itu bukanlah pernyataan yang lahir dari ruang kosong. JK saat itu sedang membahas resolusi konflik masa lalu di Poso dan Ambon serta meluruskan pemahaman agama soal kata syahid. Namun di tangan Cokro TV, narasi utuh yang menekankan rekonsiliasi itu dipotong habis habisan hingga menyisakan bagian provokatifnya saja. Ini ibarat mengutip satu kalimat dari sebuah puisi panjang lalu menuduh penulisnya sebagai penebar kebencian.

– Tanggapan Prematur dan Kerusakan Sosial.
Taktik dekontekstualisasi ini terbukti sangat mematikan. Tokoh lintas agama langsung bereaksi keras akibat potongan video tersebut. Emosi mereka sah, tetapi cacat secara informasi. Inilah bahaya terbesarnya, para korban hoaks ini seringkali tidak sadar bahwa mereka sedang dijadikan alat amplifikasi kegaduhan oleh si pembuat konten.

– Mesin Polarisasi Berkedok Podcast.
Format podcast yang dikemas santai justru membuat penonton lengah dan menyerap opini tanpa filter kritis. Apalagi Ade Armando yang sempat keluar dari Cokro TV namun kembali lagi di tahun 2024 ini menggunakan gelar akademiknya seolah olah sebagai tameng moral. Padahal kecerdasan intelektual tanpa integritas adalah senjata paling mematikan karena pemiliknya tahu persis cara menyakiti sambil tetap terlihat terhormat.

– Separuh Kebenaran Adalah Kebohongan Paling Canggih.
Sang provokator tidak perlu repot berbohong. Mereka cukup memilih mana bagian yang ingin ditayangkan dan mana yang disembunyikan untuk membentuk realitas sesuka hati. Sangat miris melihat rekonsiliasi sosial dan kedamaian antar umat beragama rela ditukar dan dihancurkan hanya demi meraup jutaan tayangan serta pendapatan AdSense semata.

– Kejanggalan Waktu dan Spekulasi Dendam Politik.
Inilah bagian yang paling menarik perhatian para pengamat politik. Polemik ini meledak tak lama setelah nama Jusuf Kalla terseret dalam pusaran politik tingkat tinggi. Belakangan ini, JK santer dituduh oleh kelompok Pro Jokowi sebagai sosok di balik layar yang mendanai Roy Suryo terkait kehebohan isu ijazah palsu Presiden Jokowi. Apalagi JK dikabarkan sempat mengeluarkan pernyataan santai namun tajam, di mana ia menyarankan agar Jokowi menunjukkan saja ijazah aslinya kepada publik agar kegaduhan tidak berlarut larut.
Hal ini menjadi pemantik emosi bagi pendukung keras Jokowi. Apalagi Ade Armando dikenal sebagai salah satu Loyalis Garis Kerasnya Jokowi.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi kita semua. Konten yang hidup dari memancing amarah dan memotong video tanpa konteks bukanlah sebuah kritik melainkan murni sampah digital. Selama kita lebih cepat menekan tombol bagikan daripada tombol jeda untuk berpikir, para produsen provokasi ini akan terus panen keuntungan.


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi prabainsight.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

19 Juli 2026 - 13:33

Perpres Ojol: Ketika Negara Ingin Menolong, Tapi Lupa Menyelesaikan Akar Masalahnya

10 Juni 2026 - 04:37

Cukup Sebagai Mitra Strategis, Kompolnas Tidak Perlu Kewenangan Eksekutorial

3 Mei 2026 - 19:59

Gurita Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim

25 April 2026 - 10:35

Utang Kereta Cepat 97 Tahun, Warisan Ambisi yang Dibayar Generasi Mendatang

15 Februari 2026 - 16:26

Trending di Opini