Menu

Mode Gelap
ASICS Rilis GEL-KAYANO ACE 3 di Tee Day Off 2026, Sepatu Golf yang Janjikan Performa Stabil dan Nyaman “Kupeluk Kamu Selamanya”: Film Tentang Ibu yang Terlalu Kuat Sampai Lupa Boleh Rapuh BPI 2026–2030 Resmi Dibentuk, Fauzan Zidni Siapkan Jurus Besar: dari Sekolah Film ke Luar Negeri hingga Perang Lawan Pembajakan The Candle Light Children Comeback Lewat “Mangoes”, Lagu Tentang Lari dari Masalah yang Ujungnya Balik Lagi Comeback Setelah 3 Tahun Vakum, GADIS Lepas “Kuingin Mencoba” dan Siap Bangkitkan RnB Indonesia Gurita Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim

Opini

Gurita Keluarga Mas’ud Menguasai Kaltim

badge-check


					Foto Ilustrasi (AI) Perbesar

Foto Ilustrasi (AI)

Ditulis oleh : Rosadi Jamani

PRABAINSIGHT.COM – Jangan kasih kendor, Bang. Support kawan-kawan dari Kaltim. Demo besar rakyat Kaltim jangan berakhir sia-sia. Kali ini saya akan menyorot Politik Dinasti Keluarga Mas’ud. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kalimantan Timur hari ini terasa seperti hutan hujan tropis yang kehilangan keseimbangannya. Pohon-pohon raksasa masih berdiri. Akar-akar menjalar ke mana-mana. Tapi, sinar matahari untuk tumbuhan kecil nyaris tak pernah sampai ke tanah.

Di tanah yang sama, tempat Sungai Mahakam mengalir tenang membawa sejarah panjang peradaban, kini justru mengalir juga cerita tentang kekuasaan yang berputar di lingkar keluarga. Bara tambang mungkin membakar perut bumi. But, yang benar-benar memanaskan Kaltim sekarang adalah bara politik yang seperti api di bawah sekam. Diam, tapi menghanguskan.

Pian bayangkan! Kaltim sebagai hutan lebat. Seharusnya ada ekosistem seimbang. Predator, mangsa, dan penjaga alam. Namun yang terjadi justru seperti satu spesies mendominasi seluruh rantai makanan. Rudy Mas’ud berdiri seperti pohon ulin raksasa. Kokoh, mahal, dan sulit tumbang. Sementara Hasanuddin Mas’ud menjadi akar yang menyusup ke tanah kekuasaan. Harapannya, akar dan batang saling menjaga keseimbangan. Realitasnya? Mereka seperti satu organisme yang sama, tumbuh dari benih keluarga.

Di kota-kota, cabang-cabangnya terus melebar. Rahmad Mas’ud menguasai Balikpapan, kota minyak yang jadi denyut ekonomi. Sementara Abdul Gafur Mas’ud pernah memimpin wilayah strategis di sekitar IKN Nusantara sebelum tersandung operasi tangkap tangan oleh KPK. Ini bukan lagi sekadar jaringan, ini seperti akar bakau yang saling terkait, sulit dipisahkan, dan semakin kuat ketika air pasang kekuasaan datang.

Generasi berikutnya pun tumbuh cepat. Seperti tunas yang langsung menjulang tanpa harus berebut cahaya. Putri Amanda Nur Ramadhani, di usia 23 tahun, sudah duduk sebagai Ketua Kadin Kaltim. Anak gubernur, Syahrah, ikut mengisi struktur. Sementara kabar beredar tentang keterlibatan keluarga dalam Bank Kaltimtara. Jika hutan ini adalah ekosistem, ini bukan lagi regenerasi alami, ini reboisasi yang ditanam dengan satu jenis pohon saja.

Di tengah semua itu, rakyat seperti ikan-ikan kecil di delta Mahakam. Berenang mencari ruang di antara kapal-kapal besar yang lalu-lalang. Mereka bersuara lewat aksi “Kaltim Darurat 214”, menggema seperti suara burung enggang yang biasanya jadi simbol kebebasan. Tapi kali ini, suara itu lebih mirip alarm yang diputar berulang-ulang. Didengar, tapi tak benar-benar direspons. Aparat berdiri seperti penjaga taman nasional, memastikan tidak ada yang melanggar batas, tapi tak pernah benar-benar menyentuh inti masalah di dalam hutan itu sendiri.

Simbol paling mencolok dari ironi ini meluncur di jalanan, mobil dinas Rp 8,5 miliar milik gubernur. Di tanah yang kaya batu bara dan minyak, kendaraan itu seperti kapal pesiar yang melintas di sungai kecil, terlalu besar, terlalu mewah, terlalu kontras dengan kehidupan di sekitarnya. Seolah-olah kekuasaan di Kaltim bukan lagi soal pelayanan publik, tapi soal siapa yang punya kendaraan paling mahal untuk melintasi jalan yang sama-sama berlubang.

Para pengamat pun seperti peneliti yang mencatat kerusakan ekosistem ini. Syubhan Akib melihat bahaya gurita dinasti, Musyanto mencium syahwat politik, Burhanuddin Muhtadi menyebutnya oligarki elektoral, Edward Aspinall mengingatkan patronase, dan Yenny Wahid menegaskan absennya meritokrasi. Semua itu seperti laporan ilmiah tentang satu hal, ekosistem demokrasi yang mulai kehilangan keanekaragaman.

Akhirnya, Kaltim berdiri seperti hutan yang tampak hijau dari jauh, tapi menyimpan ketimpangan di dalamnya. Bara tambang mungkin akan padam suatu hari, tapi bara kemarahan rakyat terus menyala. Demo berikutnya tinggal menunggu waktu, seperti musim hujan yang pasti datang. Di tengah semua metafora alam ini, satu kenyataan tetap sulit dibantah, di tanah Borneo ini, kekuasaan tak lagi mengalir seperti sungai untuk semua, tapi berputar seperti pusaran, mengunci dirinya di lingkar keluarga yang sama.


Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi prabainsight.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Bongkar Kelicikan Ade Armando, Potong Ceramah JK Demi Adsense dan Balas Dendam Politik.

16 April 2026 - 20:39

Utang Kereta Cepat 97 Tahun, Warisan Ambisi yang Dibayar Generasi Mendatang

15 Februari 2026 - 16:26

Rakernas HAI dan Bintang Mahaputera: Isyarat Kepercayaan Presiden pada Kapolri

14 Februari 2026 - 08:08

Prabowo dan Langkah Awal yang Menentukan Arah Bangsa

4 Desember 2025 - 10:35

Titik Balik Biru Langit: Lalu Hardian Irfan dan Momentum Kemenangan PKB

27 November 2025 - 10:52

Trending di Opini