Menu

Mode Gelap
Jokowi Turun Gunung demi PSI. Lampung Jadi Etape Pertama, Mesin Politik Sedang Dipanaskan Kepercayaan Publik ke Polri Naik, Sandri Rumanama Bilang Perubahan Itu Nyata 82,4 Persen Publik Masih Percaya Polri. Barangkali, Ini Memang Bukan Cuma Soal Angka Telepon dari Gerbong Wanita Bekasi Timur Dari Gedung KPK ke Kementerian Koperasi, Mahasiswa Memburu Jawaban atas Anggaran Rp59 Triliun Ramai Program MBG, Pelajar Sumsel Justru Soroti Hal yang Jarang Dibahas

Regional

Cerita Wahyu di Banjir Aceh Tamiang: Bertahan 5 Hari, Satu Sendok Nasi, dan Buah-Buah yang Hanyut

badge-check


					Kisah nyata Wahyu Putra Pratama saat banjir bandang Aceh Tamiang: 50 warga bertahan hidup 5 hari tanpa logistik, hanya dengan buah hanyut dan satu sendok nasi untuk anak-anak. Cerita heroik penuh pengorbanan di tengah bencana.(Ist) Perbesar

Kisah nyata Wahyu Putra Pratama saat banjir bandang Aceh Tamiang: 50 warga bertahan hidup 5 hari tanpa logistik, hanya dengan buah hanyut dan satu sendok nasi untuk anak-anak. Cerita heroik penuh pengorbanan di tengah bencana.(Ist)

PRABA INSIGHT- ACEH – Banjir bandang di Aceh Tamiang kali ini bukan hanya meninggalkan lumpur, puing, dan rumah dengan status “hilang kontak”. Ia juga menyisakan sebuah kisah yang jika bukan kenyataan mungkin terasa seperti drama survival paling ekstrem yang pernah ditulis manusia.

Salah satunya datang dari seorang warga bernama Wahyu Putra Pratama. Pengakuannya dalam sebuah video kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mendadak viral dan sukses membuat internet berhenti sejenak… lalu mengeluarkan tisu.

Air Datang Saat Maghrib: Tidak Pakai Prolog

Petaka dimulai saat Maghrib. Air bah hadir tanpa permisi, bukan tipe banjir yang “ngasih tanda dulu”, tapi langsung naik setinggi atap rumah. Dalam hitungan menit, Wahyu dan keluarga hanya punya satu opsi: naik ke lantai dua.

Ternyata bukan mereka saja yang mencari pertolongan. Lantai dua rumah itu, entah bagaimana, berubah menjadi semacam posko dadakan untuk 50 orang tetangga, kerabat, dan siapa pun yang rumahnya sudah berubah jadi kolam renang tanpa tiket masuk.

“Kami semua ngumpul di situ, apa pun yang terjadi, ya di situ,” kata Wahyu. Nuansanya seperti film zombie, hanya saja yang datang bukan zombie, tapi air.

Zero Stok, Zero Bantuan, 100 Persen Bertahan Hidup

Karena banjir besar memutus akses, bantuan logistik tak ada yang tembus. Stok makanan? Nol besar. Satu-satunya jalan keluar adalah menjadi “tim pencari makanan” versi bencana alam.

Para pria dewasa, termasuk Wahyu, nekat terjun ke air banjir. Mereka berenang melawan arus sambil mempertaruhkan hidup hanya untuk menemukan apa pun yang masih bisa dimakan.

Dan “apa pun” ini bukan metafora.

“Kami cari kelapa, kates, pisang… apa saja yang kebawa arus,” ujar Wahyu.

Siapa sangka, buah-buah hanyut itu menjadi menu utama lima hari lima malam.

Satu Sendok Nasi Sehari: Untuk Anak-Anak Saja

Pada suatu titik, mereka berhasil memasak sisa beras yang ditemukan. Tapi masalahnya: 50 mulut, satu panci kecil.

Maka dibuatlah aturan darurat paling mengiris hati:

Hanya satu sendok nasi per orang, per hari.

Tapi aturan itu punya syarat tambahan yang jauh lebih pahit

Orang dewasa tidak usah makan dulu.

“Kami dewasa gak usah,” kata Wahyu sambil menahan getar suaranya.

Orang tua rela puasa berkepanjangan, bukan untuk diet, bukan untuk detoks, tapi supaya anak-anak mereka tidak tumbang sebelum bantuan datang.

Hari Keenam: Air Surut, Napas Panjang Dimulai

Pada hari keenam pagi, air mulai turun perlahan. Drama survival itu berakhir, tapi jejak traumanya tidak hilang begitu saja. Kisah Wahyu menjadi potret telanjang tentang bagaimana warga Aceh Tamiang bertahan dengan cara paling sederhana dan paling manusiawi: saling menjaga.

Ini bukan sekadar cerita banjir. Ini cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan bagaimana satu sendok nasi bisa menyatukan harapan 50 orang di tengah bencana terbesar hidup mereka.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Waduh! Pasien Puskesmas Rawa Tembaga Diduga Terima Obat Kedaluwarsa, Dinkes Kota Bekasi Turun Tangan!

23 Juni 2026 - 12:16

Kadisporapar Tanjungbalai Gandeng Aktivis KAMMI, Ini Tujuannya

23 Juni 2026 - 10:48

Hebat! 100 Difabel di Karawang Siap Dobrak Tembok Kaku Dunia Industri

20 Juni 2026 - 16:43

Keren! Kolaborasi LSPR, Kombas dan Lansia Jatiasih Cetak Batik di SAPA Lansia Vol. 2

20 Juni 2026 - 14:06

Dugaan Penipuan Lahan di Bekasi, Kades Sarimukti Dilaporkan ke Polisi

19 Juni 2026 - 15:26

Trending di News