Menu ✖

Breaking News

Regional

Cerita Wahyu di Banjir Aceh Tamiang: Bertahan 5 Hari, Satu Sendok Nasi, dan Buah-Buah yang Hanyut

badge-check

Kisah nyata Wahyu Putra Pratama saat banjir bandang Aceh Tamiang: 50 warga bertahan hidup 5 hari tanpa logistik, hanya dengan buah hanyut dan satu sendok nasi untuk anak-anak. Cerita heroik penuh pengorbanan di tengah bencana.(Ist) Perbesar

Kisah nyata Wahyu Putra Pratama saat banjir bandang Aceh Tamiang: 50 warga bertahan hidup 5 hari tanpa logistik, hanya dengan buah hanyut dan satu sendok nasi untuk anak-anak. Cerita heroik penuh pengorbanan di tengah bencana.(Ist)

PRABA INSIGHT- ACEH – Banjir bandang di Aceh Tamiang kali ini bukan hanya meninggalkan lumpur, puing, dan rumah dengan status “hilang kontak”. Ia juga menyisakan sebuah kisah yang jika bukan kenyataan mungkin terasa seperti drama survival paling ekstrem yang pernah ditulis manusia.

Salah satunya datang dari seorang warga bernama Wahyu Putra Pratama. Pengakuannya dalam sebuah video kepada Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, mendadak viral dan sukses membuat internet berhenti sejenak… lalu mengeluarkan tisu.

Air Datang Saat Maghrib: Tidak Pakai Prolog

Petaka dimulai saat Maghrib. Air bah hadir tanpa permisi, bukan tipe banjir yang “ngasih tanda dulu”, tapi langsung naik setinggi atap rumah. Dalam hitungan menit, Wahyu dan keluarga hanya punya satu opsi: naik ke lantai dua.

Ternyata bukan mereka saja yang mencari pertolongan. Lantai dua rumah itu, entah bagaimana, berubah menjadi semacam posko dadakan untuk 50 orang tetangga, kerabat, dan siapa pun yang rumahnya sudah berubah jadi kolam renang tanpa tiket masuk.

“Kami semua ngumpul di situ, apa pun yang terjadi, ya di situ,” kata Wahyu. Nuansanya seperti film zombie, hanya saja yang datang bukan zombie, tapi air.

Zero Stok, Zero Bantuan, 100 Persen Bertahan Hidup

Karena banjir besar memutus akses, bantuan logistik tak ada yang tembus. Stok makanan? Nol besar. Satu-satunya jalan keluar adalah menjadi “tim pencari makanan” versi bencana alam.

Para pria dewasa, termasuk Wahyu, nekat terjun ke air banjir. Mereka berenang melawan arus sambil mempertaruhkan hidup hanya untuk menemukan apa pun yang masih bisa dimakan.

Dan “apa pun” ini bukan metafora.

“Kami cari kelapa, kates, pisang… apa saja yang kebawa arus,” ujar Wahyu.

Siapa sangka, buah-buah hanyut itu menjadi menu utama lima hari lima malam.

Satu Sendok Nasi Sehari: Untuk Anak-Anak Saja

Pada suatu titik, mereka berhasil memasak sisa beras yang ditemukan. Tapi masalahnya: 50 mulut, satu panci kecil.

Maka dibuatlah aturan darurat paling mengiris hati:

Hanya satu sendok nasi per orang, per hari.

Tapi aturan itu punya syarat tambahan yang jauh lebih pahit

Orang dewasa tidak usah makan dulu.

“Kami dewasa gak usah,” kata Wahyu sambil menahan getar suaranya.

Orang tua rela puasa berkepanjangan, bukan untuk diet, bukan untuk detoks, tapi supaya anak-anak mereka tidak tumbang sebelum bantuan datang.

Hari Keenam: Air Surut, Napas Panjang Dimulai

Pada hari keenam pagi, air mulai turun perlahan. Drama survival itu berakhir, tapi jejak traumanya tidak hilang begitu saja. Kisah Wahyu menjadi potret telanjang tentang bagaimana warga Aceh Tamiang bertahan dengan cara paling sederhana dan paling manusiawi: saling menjaga.

Ini bukan sekadar cerita banjir. Ini cerita tentang keberanian, pengorbanan, dan bagaimana satu sendok nasi bisa menyatukan harapan 50 orang di tengah bencana terbesar hidup mereka.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Bantu Posyandu Hingga Lapangan Badminton, Wildan Sentuh Warga Bantargebang

13 Okt 2026 - 16:14 WIB

Bantu Posyandu Hingga Lapangan Badminton, Wildan Sentuh Warga Bantargebang

PBJS Jabodetabek 2026 Usulkan Friedrich Silaban Pahlawan Nasional

12 Okt 2026 - 19:25 WIB

PBJS Jabodetabek 2026 Usulkan Friedrich Silaban Pahlawan Nasional

‘Tuan Takur Utara’ Alias Alex Jiblo Satukan Ulama dan Kader PAN Sambut Pemilu 2029

12 Okt 2026 - 19:09 WIB

‘Tuan Takur Utara’ Alias Alex Jiblo Satukan Ulama dan Kader PAN Sambut Pemilu 2029

Gelar Reses III, Sardi Efendi Minta Emak-emak Kalibaru Lebih Berdaya

9 Okt 2026 - 16:29 WIB

Gelar Reses III, Sardi Efendi Minta Emak-emak Kalibaru Lebih Berdaya

Gelar Deklarasi dan Rakernas, GPPN Usung Semangat Pemuda Bergerak, Presisi Mengabdi, Bersatu Jaga Nusantara

1 Okt 2026 - 15:41 WIB

Gelar Deklarasi dan Rakernas, GPPN Usung Semangat Pemuda Bergerak, Presisi Mengabdi, Bersatu Jaga Nusantara
Trending di News