Menu

Mode Gelap
Rias Terakhir untuk Pengantin: Kisah yang Tak Pernah Mau Diulang Lagi Di Tengah Banjir Aceh Tamiang, Ada Pelaku Kejahatan yang Lebih Tenggelam dari Moralitasnya Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak Prabowo dan Langkah Awal yang Menentukan Arah Bangsa Banjir, Gelondongan Kayu, dan Investigasi Negara: Haidar Alwi Puji Ketegasan Kapolri JIHN Bongkar-Bongkaran Korupsi: Dari Janji sampai Budaya yang Mendarah Daging

News

“Dekat Pos Polisi dan Pesantren, Tambang Ilegal di Berau Jalan Terus: Siapa Bekingnya?”

badge-check


					Meski telah ditindak, tambang ilegal tetap beroperasi, bahkan kini berada di sekitar kawasan pesantren dan pos polisi.(Foto:doc Istimewa) Perbesar

Meski telah ditindak, tambang ilegal tetap beroperasi, bahkan kini berada di sekitar kawasan pesantren dan pos polisi.(Foto:doc Istimewa)

PRABA INSIGHT- Di negeri +62, urusan tambang ilegal bisa jadi tontonan absurd: aparat segel hari ini, besok tambang buka lagi, lokasinya malah makin nyeleneh  berdampingan dengan pesantren dan cuma selemparan batu dari pos polisi.

Yang bikin geleng-geleng kepala, tambang tanpa izin itu justru makin mesra dengan ruang-ruang yang seharusnya steril dari kejahatan lingkungan. Ini bukan sekadar penambangan liar. Ini operasi nekat tingkat dewa, yang mungkin saja dilindungi oleh malaikat..eh, maksud kami, oleh “oknum”.

Polisi Segel Tambang, Eh Tambangnya Pindah ke Depan Rumah Polisi

Polres Berau sempat gagah menyegel tambang ilegal di KM 32 Jalan Poros Kelay, bahkan berhasil mengamankan tiga ekskavator tak bertuan. Tapi aksi bersih-bersih itu ibarat nyapu pasir di pantai saat ombak pasang: nggak ada habisnya.

Kini, tambang serupa malah buka di lokasi baru. Lebih dekat ke pemukiman warga. Lebih dekat ke pesantren. Dan yang paling nyentrik, hanya ratusan meter dari Pos Sabhara Polres Berau. Kalau ini bukan pembiaran, mungkin kita butuh Kamus Besar Etika Penegakan Hukum versi Indonesia.

Jetty Ilegal, Dokumen Terbang, dan Misteri Inisial “M”

Menurut Mus Gaber dari PADHI (Perkumpulan Aktivis Daerah Hutan Indonesia), ada jetty gelap yang beroperasi di kawasan Letter S. Di sanalah batubara dari tambang ilegal ditampung sebelum dikirim pakai tongkang. Yang bikin ngeri, dokumen pengiriman batubara itu pakai modus “dokumen terbang”  istilah manis untuk surat palsu berstempel setan.

“Kalau polisi serius, jangan cuma nangkap pekerja lapangan. Kejar otaknya! Jangan berhenti di pinggir kolam, selami sampai dasar,” kata Mus Gaber, geram.

Dan ya, berdasarkan info yang beredar, ada satu tokoh berinisial “M” yang diduga mengatur semua ini. Ia bukan sekadar pemain, tapi dirigen dari orkestra tambang ilegal.

Kapolda Sudah Turun, Tapi GPK RI Minta Bareskrim yang Turun Gunung

Kapolda Kalimantan Timur sempat blusukan ke Berau, bikin publik berharap ada perubahan. Tapi hingga artikel ini ditulis, belum ada tanda-tanda tambang ilegal bungkus koper.

GPK RI (Gerakan Pemerhati Kepolisian Republik Indonesia) pun ikut bersuara. Ketua mereka, Abdullah Kelrey, mendesak Bareskrim Mabes Polri turun langsung. Menurutnya, ini bukan soal penambangan biasa. Ini kejahatan berjamaah, yang kalau dibongkar bisa bikin shock satu RT.

“Negara dirugikan, rakyat digusur pelan-pelan, hukum jadi dagelan. Kami kawal sampai aktor utamanya ketangkap,” ujar Kelrey.

Pertanyaan yang Tak Kunjung Dijawab: Siapa yang Lindungi Tambang Ilegal Ini?

Publik mulai muak dengan sandiwara penegakan hukum yang cuma nangkap tukang gali, tapi membiarkan cukongnya rebahan di balik meja.

Kalau tambang ilegal bisa beroperasi dengan tenang dekat pos polisi dan pesantren, jangan salahkan rakyat kalau mereka bertanya: siapa sebenarnya bos dari semua ini? Polisi? Pejabat? Oknum? Atau hantu tambang?

Yang jelas, tambang ilegal bukan cuma soal batubara. Ini soal keberanian melanggar hukum secara terang-terangan. Dan selama para pemainnya masih kebal, maka hukum di negeri ini cuma akan jadi simbol dipajang, tapi tak pernah dijalankan.(VAN)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Habitat Tesso Nilo Menciut Drastis, Gajah Kian Terdesak

4 Desember 2025 - 14:34 WIB

Taman Nasional Tesso Nilo menyusut drastis dari 81 ribu menjadi 12 ribu hektare, membuat habitat gajah kian terdesak dan memasuki fase kritis.

Banjir, Gelondongan Kayu, dan Investigasi Negara: Haidar Alwi Puji Ketegasan Kapolri

3 Desember 2025 - 13:28 WIB

JIHN Bongkar-Bongkaran Korupsi: Dari Janji sampai Budaya yang Mendarah Daging

3 Desember 2025 - 12:35 WIB

Ridwan Kamil Hadiri Pemeriksaan KPK Terkait Dugaan Korupsi Iklan Bank BJB

2 Desember 2025 - 14:42 WIB

Andreas Harsono, Verifikasi HAM, dan Drama Laporan yang Sering Disalahpahami

2 Desember 2025 - 03:43 WIB

Trending di News