Menu

Mode Gelap
Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir

News

Gelar UKW dan Pelatihan Digital, Sandri Rumanama Ingatkan Pers Jangan Tunduk

badge-check


					Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama saat membuka kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan pelatihan jurnalisme digital di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026). Perbesar

Founder Kontra Narasi Sandri Rumanama saat membuka kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan pelatihan jurnalisme digital di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (5/2/2026).

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Di tengah dunia yang makin bising oleh konten viral, potongan video 30 detik, dan opini setengah matang, Kontra Narasi memilih jalan yang relatif sunyi tapi penting: memperkuat jurnalis agar tetap tahu mana fakta, mana framing, dan mana godaan algoritma.

Komunitas Kontra Narasi menggelar Uji Kompetensi Wartawan (UKW) sekaligus Penguatan Kapasitas Jurnalis dalam Produk Digital dan Kreator Konten selama dua hari, Kamis–Jumat (5–6 Februari 2026), di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta Selatan. Sekitar 150 peserta dari berbagai latar belakang jurnalis dan pegiat media ikut nimbrung dalam kegiatan ini.

Hari pertama diisi dengan seminar pra-acara ruang pemanasan sebelum masuk ke dapur teknis. Hari kedua barulah para peserta diajak menyelam lebih dalam ke pelatihan peningkatan kapasitas jurnalis, khususnya yang berkaitan dengan kerja-kerja jurnalistik di era digital.

Founder Kontra Narasi, Sandri Rumanama, sejak awal mengingatkan bahwa jurnalisme bukan sekadar soal konten, apalagi sekadar kejar tayang. Ada tanggung jawab yang lebih besar: menjaga demokrasi tetap bernapas.

“Pers adalah pilar demokrasi. Ketika pers dibungkam, itu menjadi tanda bahaya bagi demokrasi. Kita bisa melihat di berbagai negara, ketika kebebasan pers dipersempit, yang terancam bukan hanya media, tetapi juga hak publik untuk mendapatkan informasi,” ujar Sandri di Sofyan Hotel, Tebet, Jakarta, Kamis (5/2/2026).

Bagi Sandri, pers yang independen tidak cuma bertugas memberitakan peristiwa, tapi juga mengawasi kekuasaan dan menyuarakan kepentingan publik. Kalau fungsi ini lumpuh, kualitas demokrasi ikut tergerus pelan tapi pasti.

Ia juga menyinggung soal supremasi sipil, isu yang belakangan sering terdengar abstrak tapi dampaknya sangat konkret. Dalam pandangannya, jurnalisme yang profesional punya peran besar memastikan prinsip sipil tetap menjadi rujukan dalam kehidupan bernegara.

“Supremasi sipil tidak bisa dilepaskan dari peran pers. Media yang kritis, berimbang, dan berpihak pada kepentingan publik akan membantu memastikan bahwa kekuasaan berjalan dalam koridor hukum dan demokrasi,” kata Sandri.

Namun menjaga demokrasi hari ini tak cukup dengan idealisme semata. Lanskap media sudah berubah. Platform berganti, format bergeser, dan audiens makin tidak sabaran. Karena itu, Kontra Narasi menilai jurnalis juga perlu beradaptasi tanpa kehilangan kompas etiknya.

“Tren informasi sekarang bergerak kuat ke arah audio visual. Karena itu, jurnalis perlu memiliki kemampuan tambahan sebagai kreator konten, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” ujar Sandri.

Dalam sesi pelatihan, peserta dibekali keterampilan produksi konten digital, mulai dari pengolahan audio visual hingga strategi menyajikan informasi agar relevan di berbagai platform.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas jurnalis agar mampu menjangkau audiens yang lebih luas dengan format yang relevan,” tandas Sandri.

Kegiatan ini turut menghadirkan pemateri dari beragam institusi, seperti TVRI, Komisi Informasi Pusat, serta perwakilan Humas Polri. Mereka berbagi pengalaman soal praktik jurnalisme, keterbukaan informasi publik, dan tantangan komunikasi di era digital yang serba cepat tapi sering dangkal.

Lewat UKW dan pelatihan ini, Kontra Narasi berharap jurnalis tidak sekadar naik kelas secara teknis, tapi juga tetap tegak lurus menjaga perannya sebagai penjaga nalar publik di tengah demokrasi yang makin gampang tersinggung dan media yang terus berubah bentuk.(Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026 - 08:20 WIB

Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill

26 Maret 2026 - 07:29 WIB

Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan

26 Maret 2026 - 07:15 WIB

Diduga Hendak Bunuh Diri di Depan Istana, Perempuan Diamankan usai Lepas Sepatu

25 Maret 2026 - 09:23 WIB

BYD Nyemplung ke Kolam Bundaran HI: Antara Google Maps, Grogi, dan Realita Sopir Baru

25 Maret 2026 - 09:05 WIB

Trending di News