Menu

Mode Gelap
Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan Sudah Unggul, Malah Pulang Kampung: Timnas Indonesia Tersingkir dari Piala AFF 2026 usai Ditahan Singapura 1-1 Rumor Jay Idzes Dibidik PSG Bikin Suporter Sassuolo Waswas: Tak Mau Kehilangan Bek Andalan Chat WhatsApp Terakhir Terduga Mutilasi Depok Terungkap, Sehari Kemudian Resign dari Tempat Kerja Isu Kapolri Diganti Keburu Berlari, Istana Malah Bilang: Surpresnya Saja Belum Ada Pasien BPJS Meninggal, Deretan Dokter yang Sempat Mencibir Kini Ramai-Ramai Minta Maaf

News

Haidar Alwi: Bea Cukai Sedang Jadi Benteng Ekonomi, Bukan Lagi Sekadar Tukang Periksa Barang

badge-check

R. Haidar Alwi Pendiri Haidar Alwi Centre (foto: Istimewa) Perbesar

R. Haidar Alwi Pendiri Haidar Alwi Centre (foto: Istimewa)

PRABA INSIGHT- Kalau mendengar kata Bea Cukai, kebanyakan orang langsung kebayang petugas yang ngecek koper di bandara. Kadang agak menyebalkan, kadang bikin deg-degan, apalagi kalau ada oleh-oleh yang jumlahnya kebanyakan. Tapi menurut R. Haidar Alwi—pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute lembaga ini punya peran yang jauh lebih besar ketimbang sekadar urusan titipan teman dari luar negeri.

“Bea Cukai itu pintu gerbang ekonomi negara. Kalau pintu ini bocor, penerimaan negara bisa jeblok, dan mafia perdagangan bakal pesta pora,” kata Haidar.

Benteng fiskal yang sering diremehkan

Data Kemenkeu tahun 2024 mencatat penerimaan Bea dan Cukai tembus lebih dari Rp300 triliun, alias seperlima dari total pendapatan negara. Angka ini bikin posisinya strategis banget, apalagi di era Presiden Prabowo Subianto, Bea Cukai punya dua mandat sekaligus: mengamankan penerimaan dan menutup rapat-rapat jalur penyelundupan.

Masalahnya, publik sering cuma kenal Bea Cukai dari sisi “ribetnya” pemeriksaan di bandara. Padahal, kerja mereka menyangkut hal-hal krusial seperti melindungi sumber daya alam strategis, menjaga arus perdagangan, sampai memastikan duit hasil bea masuk benar-benar mampir ke kas negara.

Gebrakan ala Djaka Budhi Utama

Sejak dilantik, Djaka Budhi Utama orang nomor satu baru di Bea Cukai langsung tancap gas. Satgas Nasional Rokok Ilegal dibentuk, lalu lewat Operasi Gurita mereka berhasil mengamankan 182 juta batang rokok tanpa pita cukai.

Tak berhenti di situ. Kerja bareng dengan TNI AL berhasil membongkar penyelundupan 51,2 juta batang rokok ilegal di Perairan Riau. Lalu ada Operasi Laut Terpadu Semester I/2025: 43 kapal patroli dan 816 personel diturunkan, hasilnya? Penyelundupan 714 ton beras, 19,8 ton gula, dan hampir 50 ton pasir timah berhasil digagalkan.

Puncaknya, Juli 2025, Bea Cukai bareng BNN dan TNI AL bikin sejarah dengan menyita dua ton sabu dari MV Sea Dragon Tarawa kasus narkotika terbesar dalam sejarah Indonesia.

Menurut Haidar, semua itu bukan sekadar operasi insidental. “Ini bukti Bea Cukai sedang mengokohkan diri sebagai benteng kedaulatan ekonomi bangsa,” tegasnya.

Apresiasi, tapi juga catatan merah

Meski gebrakannya banyak, perjalanan Bea Cukai tetap nggak mulus. Publik sempat ramai membahas pergantian pejabat sipil dengan perwira TNI ada yang mendukung karena disiplin, ada juga yang curiga ini “militerisasi” birokrasi sipil.

Isu lain adalah dugaan permintaan dana operasional yang besar. Meski sudah dibantah, opini publik tetap terbelah. Belum lagi soal koordinasi dengan Kemenkeu yang disebut masih belum seratus persen mulus.

“Kritik itu biasa. Yang penting dijawab dengan kerja nyata dan transparansi. Kalau pakai data dan fakta, kepercayaan publik bakal datang sendiri,” ujar Haidar.

Tiga PR besar Bea Cukai

Buat Haidar, ada tiga langkah utama biar Bea Cukai makin kokoh:

  1. Hasil penindakan harus jelas arahnya. Apakah jadi penerimaan negara atau barang sitaan, semuanya harus transparan.
  2. Laporan terbuka ke publik. Supaya orang bisa menilai kinerja tanpa prasangka.
  3. Integritas pegawai. Karena tanpa integritas, sehebat apa pun operasi cuma jadi angka di kertas.

Selain itu, edukasi publik juga penting. Kampanye rokok ilegal jangan cuma ke pabrikan, tapi juga ke konsumen. Begitu juga pengawasan sumber daya alam: harus dikomunikasikan sebagai bagian dari melindungi kekayaan bangsa, bukan sekadar operasi penertiban.

Momentum yang jangan disia-siakan

Mandat Presiden soal menutup “pelabuhan gelap” adalah ujian besar. Kalau konsisten dijalankan, Bea Cukai bukan hanya jadi mesin penerimaan negara, tapi juga simbol kepercayaan rakyat.

“Apresiasi pada Bea Cukai jangan berhenti di pujian. Ini momentum untuk reformasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Yang dipertaruhkan bukan cuma angka triliunan, tapi martabat Indonesia,” tutup Haidar. (Van)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Dituduh Pakai Rekening Pribadi, Pengacara MSB Buka Suara Perihal Kasus Perumda Tirta Bhagasasi

5 Agustus 2026 - 17:05

Sandri Rumanama: Isu Surpres Pergantian Kapolri Ramai Lagi, Padahal Dasarnya Saja Belum Kelihatan

5 Agustus 2026 - 11:45

Delapan Jam Menunggu Kamar Rawat, Dihujat karena BPJS, Kisah Yurizal Berakhir Pilu

5 Agustus 2026 - 10:48

Trending di News