Menu

Mode Gelap
Mobil Setan: Penumpang yang Tak Pernah Turun Bocoran Proposal Damai AS Ditolak Iran, Jurang Kepentingan Kian Terbuka Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan iOS 26.4 Hadir, Fitur Keamanan iPhone Kini Bikin Maling Ketar-ketir

News

Hashim Ungkap Alasan Prabowo Ganti Menteri Keuangan pada 2025

badge-check


					Hashim Djojohadikusumo mengungkap alasan Presiden Prabowo mengganti Menteri Keuangan pada 2025. Pergantian ini disebut untuk mengakhiri defisit APBN dan membenahi kinerja aparat pajak.(Foto:Istimewa) Perbesar

Hashim Djojohadikusumo mengungkap alasan Presiden Prabowo mengganti Menteri Keuangan pada 2025. Pergantian ini disebut untuk mengakhiri defisit APBN dan membenahi kinerja aparat pajak.(Foto:Istimewa)

PRABA INSIGHT- JAKARTA – Indonesia itu sebenarnya kaya raya. Tapi entah kenapa, APBN selalu tampak seperti dompet habis kena jambret. Inilah kegelisahan yang menurut Hashim Djojohadikusumo akhirnya bikin Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan pada September 2025.

Hashim, yang juga adik kandung Prabowo sekaligus Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, bilang pergantian dari Sri Mulyani ke Purbaya Yudhi Sadewa bukan drama politik. Ini murni soal ambisi lama: APBN tanpa defisit.

Masalahnya, kata Hashim, bukan karena Indonesia miskin. Justru sebaliknya. Ekonomi Indonesia dinilai sudah cukup kuat untuk menggerakkan pembangunan tanpa harus terus-terusan berutang. Yang bikin seret adalah cara negara mengumpulkan duitnya.

Menurut Hashim, Prabowo selama ini melihat kinerja aparat pajak, bea cukai, dan seluruh barisan pengumpul penerimaan negara di Kementerian Keuangan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Tugas mengisi kas negara seperti dikerjakan setengah hati.

“Kalau memang aparat pajak, aparat bea cukai, aparat semuanya itu bekerja dengan benar, Indonesia bukan negara dengan defisit, Indonesia negara surplus,” kata Hashim dalam acara Bedah Buku Indonesia Naik Kelas di Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (15/12/2025).

Bahkan, Hashim sampai menyebut Indonesia seharusnya sudah berada di level negara donor, bukan sekadar penerima.

“Indonesia negara kaya. Kita bisa memberi bantuan luar negeri kepada negara-negara miskin lainnya. Indonesia super power. Tinggal apa? tinggal kita benahi aparat kita,” ujarnya.

Kalau masih kurang yakin, Hashim mengajak melihat satu angka yang bikin malu: rasio penerimaan negara terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Indonesia, katanya, baru di kisaran 12 persen. Sementara Kamboja ya, Kamboja sudah menyentuh 18 persen.

Selisih 6 persen itu mungkin terdengar remeh. Tapi jangan salah. Di atas kertas PDB Indonesia yang disebut mencapai Rp 25 ribu triliun, angka itu berubah jadi gunung uang.

“6% kelihatan kecil. Tapi 6% dari suatu ekonomi yang PDB nya adalah Rp 25 ribu triliun itu Rp 1.500 triliun. Defisit APBN kita Rp 300 triliunan, tidak sampai Rp 400 triliun,” ucap Hashim.

Artinya sederhana: kalau aparat pengumpul pajak bekerja optimal, defisit APBN seharusnya bukan lagi cerita tahunan. Tambahan penerimaan itu bahkan jauh melampaui lubang defisit yang selama ini jadi alasan klasik.

Karena itulah, Prabowo menurut Hashim akhirnya menunjuk orang baru dari luar Kementerian Keuangan. Purbaya Yudhi Sadewa diberi mandat khusus untuk membenahi total aparat pengumpul penerimaan negara, dari atas sampai bawah.

“Maka ada orang yang ya yang luar biasa bagus lah, namanya Purbaya, ditugaskan dan akan segera laksanakan. 6% kecil kelihatannya, tapi besar maknanya. 6% dari Rp 25 ribu triliun itu Rp 1.500 triliun. Kita bisa dapat dan seharusnya dapat tiap tahun sekarang saat ini,” ujar Hashim.

Ujung-ujungnya, versi Prabowo soal defisit ini terdengar cukup menohok: Indonesia bukan kekurangan uang. Kita cuma terlalu lama berdamai dengan aparat yang kerjanya belum sebanding dengan potensi negeri ini.


Penulis : Ristanto | Editor : Ivan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koalisi Sipil Desak Proses Hukum Kepala BAIS dan Peradilan Umum dalam Kasus Andrie Yunus

26 Maret 2026 - 08:20 WIB

Pesan Pramono ke Pendatang: Jakarta Bukan Tempat Coba Nasib Tanpa Skill

26 Maret 2026 - 07:29 WIB

Kasus Andrie Yunus Memanas: 4 Prajurit BAIS Ditahan, Isu Kabais Mundur Mencuat di Tengah Penyidikan

26 Maret 2026 - 07:15 WIB

Diduga Hendak Bunuh Diri di Depan Istana, Perempuan Diamankan usai Lepas Sepatu

25 Maret 2026 - 09:23 WIB

BYD Nyemplung ke Kolam Bundaran HI: Antara Google Maps, Grogi, dan Realita Sopir Baru

25 Maret 2026 - 09:05 WIB

Trending di News