PRABAINSIGHT – JAKARTA – Setelah seharian puasa, manusia cenderung berubah jadi makhluk lapar akut. Azan Magrib belum selesai, tangan sudah sibuk mengincar gorengan, minuman manis, dan segala sesuatu yang berminyak. Seolah-olah perut ini mesin penghancur segala jenis makanan. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.
Menurut Welltech, selama puasa tubuh menurunkan produksi enzim pencernaan. Artinya, sistem cerna kita sedang “low power mode”. Kalau tiba-tiba disuruh mengolah nugget, gorengan, dan es sirup sekaligus, jangan kaget kalau perut kemudian membalas dengan begah, mual, atau asam lambung yang naik tanpa permisi.
Supaya drama pencernaan tidak terjadi, ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya tidak dijadikan sambutan pertama saat berbuka.
Pertama, makanan instan dan ultra-proses.
Mi instan, sosis, nugget, atau camilan kemasan memang praktis dan terasa menyelamatkan hidup. Tapi menurut Welltech, makanan jenis ini tinggi kalori dan rendah nutrisi. Pencernaan yang baru bangun dari tidur panjang langsung disuruh kerja rodi. Hasilnya? Perut protes dalam diam.
Kedua, gorengan dan makanan super berlemak.
Gorengan itu memang ikon Ramadan. Tapi Advanced Food Intolerance Labs mencatat, makanan berlemak tinggi bisa memicu peradangan dan memperlambat kerja lambung. Akhirnya, baru rakaat ketiga tarawih, perut sudah melilit seperti lagi demo.
Ketiga, minuman manis berlebihan.
Es sirup memang terasa seperti anugerah setelah puasa. Masalahnya, gula berlebih bikin gula darah naik mendadak lalu jatuh bebas. Efeknya bukan cuma lemas, tapi juga bikin kita pengin nambah manis-manis lagi. Lingkaran setan, tapi versi takjil.
Keempat, kopi dan kafein.
Buat para pejuang kopi, Advanced Food Intolerance Labs menyarankan untuk menahan diri. Kafein di perut kosong bisa memicu asam lambung naik. Apalagi kalau kopinya dicampur krimer dan sirup. Perut yang tadinya baik-baik saja bisa langsung berubah sensitif.
Kelima, sayuran mentah yang terlalu ambisius.
Sayur itu sehat, tapi timing itu penting. Brokoli, kubis, dan kembang kol mentah, menurut Advanced Food Intolerance Labs, bisa bikin perut kembung kalau dimakan saat berbuka. Seratnya terlalu “galak” untuk sistem cerna yang masih setengah sadar.
Keenam, daging merah dalam porsi besar.
Welltech menjelaskan, daging merah butuh waktu cerna lebih lama. Kalau langsung disantap sebagai menu pembuka, energi tubuh habis buat mencerna, bukan buat beribadah. Wajar kalau akhirnya ngantuk dan rebahan jadi pilihan paling logis.
Lalu, kenapa sih buka puasa harus pakai mikir?
Everyday Health menyebut puasa memberi waktu bagi tubuh untuk menstabilkan gula darah dan metabolisme. Tapi semua manfaat itu bisa buyar kalau berbuka dilakukan secara brutal. Tubuh butuh transisi, bukan kejutan.
Mulailah dengan air putih, beri jeda sebentar, lalu isi perut dengan makanan ringan yang ramah. Bukan karena sok sehat, tapi karena perut juga punya batas kesabaran.
Intinya, buka puasa bukan lomba siapa paling cepat kenyang. Ini soal berdamai dengan tubuh setelah seharian bekerja dalam sunyi. Kalau perut diperlakukan dengan lembut, dia juga nggak akan drama.











