Menu

Breaking News

Internasional

Iran Belum Buka Selat Hormuz, Ajukan 5 Syarat ke AS: Sanksi hingga Ganti Rugi Perang

badge-check

Iran menegaskan Selat Hormuz belum dibuka sampai AS memenuhi tuntutan Teheran. Trump memilih menunggu tekanan ekonomi, sementara Oman memediasi pengaturan jalur pelayaran.(Istimewa) Perbesar

Iran menegaskan Selat Hormuz belum dibuka sampai AS memenuhi tuntutan Teheran. Trump memilih menunggu tekanan ekonomi, sementara Oman memediasi pengaturan jalur pelayaran.(Istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – JAKARTA – Kalau ada satu pintu yang ingin dilewati banyak orang tetapi kuncinya sedang dipegang Iran, pintu itu bernama Selat Hormuz.

Jalur sempit yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia tersebut kembali menjadi sumber ketegangan. Iran menegaskan Selat Hormuz belum akan dibuka sepenuhnya sampai Amerika Serikat memenuhi sejumlah tuntutan Teheran.

Dengan kata lain, kapal-kapal boleh berharap. Tapi Iran belum tentu sedang ingin bermurah hati.

Garda Revolusi Iran pada Minggu (9/8/2026) menegaskan blokade terhadap Selat Hormuz akan tetap dipertahankan sampai Amerika Serikat memenuhi persyaratan yang diajukan Teheran. Pernyataan itu muncul ketika pembicaraan mengenai pengaturan lalu lintas pelayaran masih berlangsung melalui perantara.

Kondisi ini tentu bukan kabar yang bikin pasar energi dunia bisa tidur nyenyak. Penutupan jalur tersebut telah mengganggu lalu lintas kapal, memicu kekhawatiran negara-negara yang bergantung pada jalur energi, sekaligus memberi tekanan baru terhadap harga minyak dan gas.

Iran Bikin Daftar Syarat

Iran tidak sekadar mengatakan “belum”. Teheran juga membawa daftar persyaratan.

Menurut laporan yang mengutip kantor berita Tasnim, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menetapkan sejumlah tuntutan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali.

Di antaranya adalah penghentian perang di seluruh front, penghentian blokade Amerika terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pencabutan sanksi, pencairan aset Iran yang dibekukan, serta pembayaran kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang.

Iran juga ingin tetap memiliki kendali atas pengaturan pelayaran di Selat Hormuz.

Garda Revolusi bahkan menegaskan blokade akan terus dipertahankan “sampai musuh menerima seluruh persyaratan kami … selat ini sekarang benar-benar menjadi medan perang bagi kami, bukan sekadar jalur perairan”.

Kalimat tersebut kurang lebih menunjukkan bahwa bagi Teheran, Hormuz sekarang bukan sekadar urusan kapal lewat atau tidak lewat. Selat tersebut sudah menjadi bagian dari pertarungan politik dan militer.

Trump Memilih Santai, Katanya Seperti Main Catur

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump belum menunjukkan keinginan untuk buru-buru meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.

Trump mengatakan Amerika memilih pendekatan yang lebih tenang sambil melihat seberapa jauh tekanan ekonomi bisa membuat Iran mengubah sikap.

“Kami memilih menanganinya dengan tenang,” kata Trump kepada Axios mengenai pendekatannya terhadap Iran.

Trump mengakui komunikasi dengan Iran masih berlangsung secara terbatas. Namun Washington memilih mengamati perkembangan ekonomi Iran sambil menunggu langkah berikutnya.

“Semua akan terselesaikan,” klaimnya. “Ini seperti permainan catur.”

Kalau benar permainan catur, tampaknya masing-masing pemain masih sibuk mengatur bidak. Bedanya, papan caturnya kali ini adalah Selat Hormuz dan taruhannya bukan cuma raja-ratuan, tetapi juga energi global.

Iran-AS Belum Duduk Satu Meja

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan komunikasi dengan Amerika Serikat sejauh ini belum berupa perundingan langsung.

Teheran masih “bertukar pesan” dengan Washington melalui perantara.

Situasi ini menunjukkan bahwa meski ada pembicaraan mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz, jalan menuju kesepakatan masih cukup panjang.

Araghchi mengatakan pembicaraan dengan Oman mengenai pengaturan pelayaran di Selat Hormuz telah “mendekati tahap akhir”.

Namun, kesepakatan teknis mengenai jalur pelayaran ternyata tidak otomatis berarti Selat Hormuz langsung dibuka sepenuhnya.

Iran masih mengaitkan pembukaan selat dengan persoalan yang lebih besar, termasuk sanksi, aset yang dibekukan, serta kompensasi perang.

Kapal Masih Jadi Korban Ketegangan

Sementara para diplomat masih sibuk mengirim pesan lewat perantara, kapal-kapal harus menghadapi situasi yang jauh lebih konkret: jalur pelayaran yang tidak lagi senormal sebelum perang.

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun tajam setelah serangkaian serangan terjadi.

Uni Emirat Arab juga melaporkan sedikitnya satu kapal tanker terkena serangan pada Sabtu.

Kondisi tersebut membuat ketegangan di kawasan semakin terasa. Sebab Selat Hormuz bukan jalur kecil yang hanya dipakai kapal-kapal tertentu. Gangguan di kawasan tersebut dapat berdampak pada perdagangan energi dan pasar global.

Itulah sebabnya penutupan Hormuz bukan cuma urusan Iran dan Amerika. Negara-negara lain yang menggantungkan pasokan energi dari kawasan Teluk juga ikut menunggu kapan drama ini selesai.

Ada Jalur Damai, Tapi Pintu Hormuz Belum Dibuka Lebar

Oman menjadi salah satu pihak yang berusaha menjembatani pembicaraan mengenai pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz.

Araghchi menyebut pembicaraan dengan Oman sudah mendekati tahap akhir. Kesepakatan tersebut berkaitan dengan pengaturan jalur pelayaran baru di kawasan strategis itu.

Namun, lagi-lagi, ada satu masalah.

Kesepakatan mengenai jalur kapal belum tentu sama dengan pembukaan penuh Selat Hormuz.

Iran masih menunggu Amerika memenuhi tuntutan politik dan ekonomi yang diajukannya.

Sementara Washington tampaknya memilih menunggu tekanan ekonomi bekerja.

Jadi, untuk sementara, Selat Hormuz masih seperti pintu rumah yang kuncinya ada di tangan satu pihak, sementara pihak lain berdiri di depan pintu sambil berkata, “Tenang, kita lihat dulu.”

Masalahnya, di luar pintu itu ada pasar energi dunia yang ikut menunggu.

Dan seperti kata Trump, semuanya mungkin akan selesai.

Tinggal pertanyaannya: selesai lewat meja perundingan, atau setelah semua pihak kehabisan bidak untuk dimainkan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

Shafeea Aleeya Tampil di AFF 2026, Bawa Pengalaman dari Panggung Internasional

21 Sep 2026 - 14:00 WIB

Shafeea Aleeya Tampil di AFF 2026, Bawa Pengalaman dari Panggung Internasional

Gianni Infantino Dilaporkan Hadapi Tudingan “Suap” Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia FIFA

30 Jul 2026 - 16:12 WIB

Gianni Infantino Dilaporkan Hadapi Tudingan “Suap” Terkait Rencana Penjualan Saham Piala Dunia FIFA

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

20 Jul 2026 - 20:13 WIB

Spanyol Akui Palestina, Sikap Tegas Pedro Sánchez Picu Ketegangan dengan Israel

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

18 Jun 2026 - 18:44 WIB

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Jun 2026 - 12:49 WIB

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir
Trending di Internasional