Menu

Mode Gelap
Benny Wullur vs Hotman Paris, Akademisi Pertanyakan Pencabutan Inkracht Usai Ricuh di GIK UGM, Mahasiswa Tantang Pemerintah Buka Akses Papua untuk Pers Heboh! Nama BEM Diduga Dicatut dalam Polemik Tiyo, Publik Pertanyakan Mandat Peserta Konferensi Pers Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi? Keren! Cetak Sejarah Baru, UNESA Sulap Birokrasi Wiyung Jadi Serba Digital Bhavani Indonesia Temui Wabup Tangerang, Bahas Safe House hingga Isbat Nikah Gratis

Internasional

Trump Sebut Israel Bisa Tamat dalam Hitungan Jam Jika Iran Punya Nuklir, Ancaman atau Jurus Negosiasi?

badge-check


					Trump memperingatkan Israel bisa menghadapi ancaman fatal jika Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan kontroversial itu muncul di tengah draf kesepakatan damai baru antara AS dan Iran.(istimewa) Perbesar

Trump memperingatkan Israel bisa menghadapi ancaman fatal jika Iran memiliki senjata nuklir. Pernyataan kontroversial itu muncul di tengah draf kesepakatan damai baru antara AS dan Iran.(istimewa)

PRABAINSIGHT.COM – Di tengah upaya Amerika Serikat dan Iran merumuskan kesepakatan damai baru, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan yang mengundang perhatian dunia. Kali ini, ia memperingatkan bahwa Israel bisa menghadapi ancaman eksistensial apabila Iran berhasil memiliki senjata nuklir.

Dalam wawancara telepon eksklusif bersama The New York Times, Trump menyampaikan pandangannya secara terang-terangan. Menurutnya, keberadaan Israel akan berada di ujung tanduk jika Teheran suatu saat mampu mengembangkan senjata nuklir.

Trump bahkan menyebut Israel tidak akan mampu bertahan lama apabila skenario tersebut terjadi. Ia memperingatkan bahwa negara sekutu utama Amerika Serikat itu bisa hancur dalam waktu sangat singkat jika Iran berhasil memiliki senjata pemusnah massal.

Pernyataan itu muncul di tengah menghangatnya pembicaraan mengenai draf Memorandum of Understanding (MoU) baru antara Washington dan Teheran. Trump menjadikan ancaman tersebut sebagai alasan utama mengapa jalur diplomasi harus terus ditempuh.

Menurut Trump, pendekatan diplomatik yang sedang dijalankan saat ini merupakan opsi terbaik untuk mencegah konflik yang lebih besar di Timur Tengah. Ia juga mengeklaim bahwa kebijakan tekanan ekonomi dan sanksi yang pernah diterapkannya berhasil mendorong Iran kembali ke meja perundingan.

Dalam wawancara yang berlangsung sekitar 28 menit dari Gedung Putih, Trump turut menyinggung sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menilai pemimpin Israel tersebut masih menunjukkan keraguan terhadap proses diplomasi yang sedang berlangsung dan cenderung mempertahankan pendekatan konfrontatif terhadap Iran.

Trump kemudian mengaitkan keberhasilan negosiasi dengan upaya menyelamatkan Israel dari ancaman yang lebih besar. Ia menganggap draf kesepakatan yang kini sedang dibahas merupakan pencapaian penting yang dapat menghindarkan kawasan dari risiko perlombaan senjata nuklir.

Draf Damai AS-Iran Masuk Tahap Krusial

Pernyataan Trump muncul setelah beredar laporan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai sejumlah kesepakatan prinsip dalam perundingan yang rencananya akan difinalisasi melalui penandatanganan resmi di Swiss.

Dalam rancangan kesepakatan tersebut, Iran disebut berkomitmen untuk tidak memproduksi maupun mengembangkan senjata pemusnah massal. Sebagai imbalannya, Amerika Serikat bersama negara-negara sekutunya akan membuka jalan bagi pencabutan sanksi ekonomi secara bertahap.

Kesepakatan itu juga dikabarkan akan berdampak pada normalisasi jalur perdagangan internasional, termasuk aktivitas ekonomi strategis di kawasan Selat Hormuz yang selama ini menjadi salah satu titik paling sensitif dalam geopolitik global.

Tekanan Politik untuk Netanyahu?

Hingga kini, pemerintahan Benjamin Netanyahu belum memberikan respons resmi atas pernyataan Trump tersebut.

Namun sejumlah pengamat politik internasional menilai ucapan Trump mengenai kemungkinan kehancuran Israel dalam hitungan jam bukan sekadar peringatan keamanan. Pernyataan itu dipandang sebagai bagian dari strategi politik untuk menekan kelompok-kelompok keras di internal pemerintahan Israel agar lebih terbuka terhadap proses perdamaian yang sedang digagas Washington.

Dengan kata lain, di balik retorika yang terdengar dramatis, Trump tampaknya sedang memainkan kartu diplomasi yang sama kerasnya dengan bahasa politik yang ia gunakan selama ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Viral! Polisi Florida Tilang Perempuan Tanpa Tangan Kanan karena Diduga Main HP Saat Nyetir

2 Juni 2026 - 12:49

Edoardo Agnelli: Pewaris Juventus yang Masuk Islam, Dicoret dari Keluarga, lalu Tewas Misterius

26 Mei 2026 - 20:24

Patung Yesus Dirusak di Lebanon Selatan, Militer Israel Akui dan Janji Investigasi

22 April 2026 - 20:30

Dana Rp263 Triliun untuk Gaza Diduga Dialihkan ke Israel, Nama Donald Trump Disorot

20 April 2026 - 16:41

Pendeta di Irlandia “Salah Doa” untuk Donald Trump, Jemaat Tertawa, Netizen: Ini Bukan Sekadar Kepleset

20 April 2026 - 14:47

Trending di Internasional