Menu

Mode Gelap
3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan? GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK Ngopi Nggak Harus Serius: MILKLAB Ajak Coffee Lovers Keliling Kafe sambil Joget dan Berburu Hadiah Gusi Berdarah Bisa Berkaitan dengan Penyakit Kronis, dari Diabetes hingga Jantung Rumah Kontrakan Bakal Dipajaki 2027, Pengamat Minta Pemerintah Tak Samakan dengan Properti Komersial Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

News

“Kebebasan Pers vs Candaan Pejabat: Kepala Babi, Bangkai Tikus, dan Blunder Hasan Hasbi”

badge-check

foto Ilustrasi (Ai) Perbesar

foto Ilustrasi (Ai)

PRABA INSIGHT- Di sebuah ruangan kantor berita, seorang jurnalis duduk di depan laptopnya, menatap layar dengan dahi berkerut. Beberapa hari terakhir, dunia pers Indonesia bergejolak. Ancaman nyata datang dalam bentuk kepala babi yang dikirim ke redaksi Tempo, sebuah pesan gelap bagi mereka yang berani bersuara.

Namun, bukan hanya teror itu yang membuat publik geram. Pernyataan Hasan Hasbi, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, justru menambah luka. Dengan nada santai, ia berkata, “Dimasak saja.” Sebuah kalimat pendek yang langsung menyulut amarah banyak pihak.

Salah satu yang paling vokal mengecamnya adalah Yohanes Bidaya, Sekretaris Jenderal PBHI Jakarta. Baginya, komentar Hasan bukan hanya tidak etis, tetapi juga bentuk kekerasan verbal yang membahayakan kebebasan pers.

“Seorang pejabat publik harusnya melindungi, bukan menyepelekan teror. Ucapan ini mencerminkan wajah pemerintahan yang seolah membiarkan kekerasan terhadap jurnalis terjadi,” kata Yohanes dengan suara tegas pada 23 Maret 2025.

Menurutnya, kata-kata memiliki kekuatan. Ketika seorang pejabat berbicara sembarangan, dampaknya bisa jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Apalagi, kasus ini bukan pertama kali terjadi. Baru-baru ini, seorang jurnalis lain menerima bangkai tikus sebagai ancaman.

“Ironisnya, bukannya memberi perlindungan, negara malah memberi kesan bahwa teror seperti ini bukan masalah besar. Jika dibiarkan, kebebasan pers bisa terkikis perlahan,” tambahnya.

PBHI Jakarta pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mencopot Hasan Hasbi dari jabatannya. Yohanes menilai, seorang pejabat yang tak bisa menjaga ucapannya tidak pantas berada di lingkaran kekuasaan.

Ia pun mengingatkan kasus Gus Miftah, yang dengan berani meminta maaf dan mundur setelah komentarnya soal pedagang es teh viral.

“Pejabat harus lebih bijak dalam berbicara. Jangan jadikan ancaman sebagai bahan bercanda. Mulutmu adalah harimaumu,” pungkasnya.

Di luar sana, malam semakin larut. Tapi percakapan soal Hasan Hasbi belum mereda. Kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan kini menjadi bara api, membakar opini publik, dan menguji sejauh mana negara benar-benar berpihak pada kebebasan pers.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

3 Surpres Meluncur dari Istana ke DPR, Kursi Strategis Mulai Jadi Rebutan?

10 Agustus 2026 - 23:21

GOR Terpadu Kota Bekasi Rp121 M Diduga Bermasalah, NCW Lapor KPK

10 Agustus 2026 - 14:40

Temuan Senjata di YHI-PP Bermula dari Ruangan Terkunci, Kuasa Hukum: Kunci Masih Dipegang IWD

10 Agustus 2026 - 10:16

Jelang HUT RI ke- 81 Sekjen PATRA Ingatkan Ojol: Jangan Gampang Kepancing, Hormati Bulan Kemerdekaan

8 Agustus 2026 - 14:04

Diduga Provokasi Pedagang Pasar Baru Bekasi, Oknum W Dilaporkan ke Polisi

7 Agustus 2026 - 16:54

Trending di News